RADARBANYUWANGI.ID – Pembangunan jalan tol Kediri–Tulungagung tidak hanya menjadi proyek infrastruktur strategis, tetapi juga membawa dampak langsung bagi masyarakat desa.
Sedikitnya 14 desa di Kabupaten Tulungagung dipastikan akan dilintasi proyek yang kini masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.
Tol sepanjang 44,52 kilometer dengan nilai investasi Rp10,5 triliun ini merupakan kelanjutan dari ruas Tol Kertosono–Kediri, yang diharapkan mampu membuka keterisolasian wilayah selatan Jawa Timur.
14 Desa Terdampak, Ini Daftarnya
Seiring rencana pembangunan, total lahan terdampak di Tulungagung mencapai lebih dari 1 juta meter persegi. Lahan tersebut tersebar di empat kecamatan dengan rincian desa sebagai berikut:
Kecamatan Kauman
-
Desa Batangsaren
-
Desa Panggungrejo
-
Desa Balerejo
Kecamatan Kedungwaru
-
Desa Simo
Kecamatan Tulungagung
-
Kelurahan Panggungrejo
-
Kelurahan Kutoanyar
Kecamatan Karangrejo
-
Desa Sukowidodo
-
Desa Sembon
-
Desa Sukowiyono
-
Desa Bungur
-
Desa Gedangan
-
Desa Tulungrejo
-
Desa Punjul
-
Desa Sukodono
Deretan desa ini menjadi wilayah yang paling merasakan langsung dampak pembangunan, baik dari sisi pembebasan lahan maupun perubahan tata ruang.
Dari Sawah hingga Permukiman
Mayoritas lahan yang terdampak merupakan area pertanian produktif serta sebagian permukiman warga. Kondisi ini menuntut proses pembebasan lahan yang transparan dan adil agar tidak menimbulkan konflik sosial.
Selain itu, perubahan fungsi lahan juga akan membawa konsekuensi terhadap pola mata pencaharian masyarakat, khususnya petani.
Peluang Ekonomi di Balik Proyek Besar
Di balik tantangan tersebut, pembangunan tol juga membuka peluang ekonomi baru. Desa-desa yang sebelumnya berada di jalur sekunder kini berpotensi menjadi kawasan strategis karena akses yang lebih mudah.
Aktivitas ekonomi seperti perdagangan, jasa, hingga pengembangan UMKM diprediksi akan tumbuh pesat di sekitar jalur tol.
Tak hanya itu, proyek ini juga akan mempercepat konektivitas menuju Bandara Kediri, yang digadang-gadang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah selatan Jawa Timur.
Perlu Kesiapan Warga dan Pemerintah Desa
Para kepala desa dan masyarakat di wilayah terdampak diharapkan mulai bersiap menghadapi perubahan besar ini. Perencanaan tata ruang desa, penguatan ekonomi lokal, serta edukasi terkait peluang usaha menjadi hal yang krusial.
Koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan warga menjadi kunci agar proses pembangunan berjalan lancar tanpa menimbulkan gejolak sosial.
Infrastruktur untuk Pemerataan Pembangunan
Pembangunan tol Kediri–Tulungagung sendiri merupakan bagian dari implementasi Perpres Nomor 80 Tahun 2019 yang mendorong percepatan pembangunan kawasan Selingkar Wilis dan Jalur Lintas Selatan.
Dengan hadirnya tol ini, kesenjangan akses antara wilayah utara dan selatan Jawa Timur diharapkan semakin berkurang.
Bagi desa-desa yang dilintasi, proyek ini bukan sekadar pembangunan jalan, melainkan titik awal transformasi menuju kawasan yang lebih maju, terbuka, dan berdaya saing tinggi. (*)
Editor : Ali Sodiqin