Arus Balik Usai, Macet Ketapang Menggila: Antrean 15 Km, Truk Logistik Jadi Biang Kerok?

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 3 April 2026 | 10:30 WIB
URSAI KEMACETAN: Personel TNI dan aparat kepolisian mengatur arus lalu lintas di pertigaan SPBU Farly, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kamis (2/4). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
URSAI KEMACETAN: Personel TNI dan aparat kepolisian mengatur arus lalu lintas di pertigaan SPBU Farly, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kamis (2/4). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Puncak arus balik Lebaran 2026 memang telah dinyatakan usai pada Minggu (29/3). Namun, kondisi berbeda justru terjadi di jalur penyeberangan Jawa–Bali.

Ribuan pengendara yang hendak menuju Pulau Dewata kini harus menghadapi “fase kedua” yang tak kalah melelahkan: kemacetan parah di jalur menuju Pelabuhan Ketapang.

Sejak Sabtu (28/3) hingga Selasa (31/3), antrean kendaraan mengular panjang dan terus bertambah. Bahkan, puncak kemacetan terjadi pada Selasa pagi, dengan panjang antrean mencapai sekitar 15 kilometer dari pintu masuk pelabuhan. Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan kondisi Minggu (29/3) yang “hanya” mencapai 5 kilometer.

Kemacetan ini menjadi salah satu yang terparah dalam periode arus mudik dan balik tahun ini.

Salah satu pengguna jalan, Anang Teguh, mengaku merasakan langsung betapa parahnya kondisi di lapangan. Warga Surabaya itu terjebak macet sejak memasuki kawasan Watudodol, Banyuwangi, pada Sabtu malam sekitar pukul 23.30 WIB.

“Macetnya parah. Dalam satu jam, kendaraan saya hanya bergerak beberapa ratus meter,” keluhnya.

Situasi yang nyaris tak bergerak membuatnya harus mengambil langkah darurat. Ia mengevakuasi ibu mertuanya menggunakan sepeda motor agar tidak terlalu lama terjebak di dalam mobil.

Fenomena kemacetan ekstrem ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa kondisi justru memburuk setelah arus balik dinyatakan selesai?

Pihak PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyebut lonjakan kendaraan logistik sebagai faktor utama. Sebelumnya, pemerintah memberlakukan pembatasan kendaraan sumbu tiga ke atas melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) selama periode 13–29 Maret 2026.

Namun, begitu pembatasan dicabut pada Senin (30/3), ribuan truk logistik langsung memadati jalur menuju Pelabuhan Ketapang.

“Pasca berakhirnya pembatasan kendaraan logistik, terjadi peningkatan signifikan truk yang masuk ke Pelabuhan Ketapang. Kondisi ini berdampak pada antrean kendaraan,” ujar Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano.

Data Posko Ketapang mencatat lonjakan pergerakan penumpang dan kendaraan. Pada H+8, sebanyak 56.197 penumpang menyeberang ke Bali atau naik 5,2 persen dibandingkan tahun lalu. Jumlah kendaraan mencapai 17.608 unit atau meningkat 2,1 persen.

Secara kumulatif, sejak H-10 hingga H+8, total penumpang mencapai 624.717 orang, dengan 171.921 kendaraan telah terlayani dari total 183.810 reservasi melalui aplikasi Ferizy.

Untuk mengurai kemacetan, ASDP telah mengoperasikan hingga 36 kapal, termasuk enam kapal tambahan berkapasitas besar seperti Portlink VII dan Dharma Rucitra. Selain itu, diterapkan skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) di Dermaga 4 guna mempercepat waktu layanan.

Buffer zone di kawasan Bulusan juga dioptimalkan sebagai kantong parkir sekaligus area verifikasi tiket digital. Hingga Selasa pagi, tercatat sekitar 380 truk besar masih tertahan di zona penyangga tersebut.

Namun, berbagai langkah taktis ini dinilai belum menyentuh akar persoalan. Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan menilai masalah utama terletak pada keterbatasan dermaga.

Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, bahkan menyebut kondisi ini sebagai “bom waktu” jika tidak segera diatasi.

“Akar persoalan bukan pada jumlah kapal, melainkan keterbatasan dermaga. Kalau tidak ada penambahan, kita hanya menunggu kemacetan serupa setiap musim liburan,” tegasnya.

Menurut dia, dari total 56 kapal yang tersedia, hanya sekitar 28 kapal yang bisa beroperasi setiap hari karena keterbatasan dermaga. Penambahan kapal tanpa diimbangi dermaga justru berpotensi memperpanjang waktu tunggu sandar.

Dampak kemacetan ini tidak hanya dirasakan pengguna jalan, tetapi juga sektor ekonomi. Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), Slamet Barokah, menyebut para sopir mengalami kerugian berlipat.

Mulai dari pemborosan bahan bakar akibat mesin yang terus menyala, hingga risiko kerusakan barang karena keterlambatan pengiriman.

“Dampaknya juga ke masyarakat. Distribusi terganggu, harga barang bisa ikut naik,” ujarnya.

Ke depan, tekanan terhadap jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk diperkirakan akan semakin besar, terutama jika proyek Tol Probowangi (Probolinggo–Banyuwangi) telah tersambung penuh.

Karena itu, berbagai pihak berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis, terutama dengan menambah kapasitas dermaga, agar kemacetan panjang tidak terus berulang setiap musim mudik dan libur panjang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : disarikan dari berbagai sumber
antrean Gilimanuk macet Ketapang 2026 truk logistik Banyuwangi asdp ketapang arus balik lebaran