RADARBANYUWANGI.ID – Upaya mengurai kemacetan horor di jalur menuju Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi terus dimaksimalkan.
Aparat gabungan dari kepolisian dan TNI kini dikerahkan penuh, bahkan hingga menyiagakan kapal perang untuk membantu mengurai kepadatan kendaraan yang mengular hingga belasan kilometer.
Kemacetan panjang yang terjadi sejak akhir Maret itu belum sepenuhnya terurai hingga Kamis (2/4). Ekor antrean kendaraan bahkan sempat mencapai kawasan Kampe, dengan panjang kemacetan menyentuh 15 kilometer sebelum berangsur menyusut.
Seluruh kekuatan dikerahkan. Selain polisi, personel dari TNI AL, Marinir, hingga TNI AD kini turun langsung ke lapangan untuk mengatur arus lalu lintas di sejumlah titik krusial menuju pelabuhan.
Sejumlah titik yang menjadi fokus pengamanan di antaranya pertigaan SPBU Farly, simpang jalan lingkar Tanjungwangi, kawasan Pertamina Tanjungwangi, Terminal Sritanjung, GWD, hingga jalur menuju Kampe.
Komandan Kodim 0825/Banyuwangi, Letkol (Arm) Triyadi Indrawijaya, menyampaikan bahwa ratusan personel dikerahkan untuk mempercepat penanganan kemacetan yang telah berlangsung selama beberapa hari tersebut.
“Ada sekitar 140 personel dari TNI AD, terdiri dari Kodim 0825 dan tambahan dari Batalyon Armed 8/Uddhata Yudha Jember. Dari TNI AL dan Marinir juga ada sekitar 130 personel,” ujarnya.
Menurut Triyadi, dominasi kendaraan di jalur menuju pelabuhan masih didominasi truk logistik. Berdasarkan evaluasi di lapangan, sekitar 70 persen kendaraan yang melintas merupakan truk.
Lonjakan itu terjadi setelah berakhirnya masa pembatasan operasional kendaraan angkutan barang. Akibatnya, volume kendaraan meningkat drastis dalam waktu singkat.
“Jumlah kendaraan kecil dan bus sebenarnya masih normal. Tapi truk yang mendominasi, ini yang membuat beban jalan meningkat signifikan,” jelasnya.
Meski demikian, secara kapasitas, Pelabuhan Ketapang dinilai masih mampu menangani volume kendaraan yang ada. Dalam kondisi normal, pelabuhan dapat melayani hingga 1.200 truk dalam waktu 24 jam.
Namun, persoalan utama terletak pada keterbatasan dermaga yang bisa melayani kendaraan besar. Dari total delapan dermaga, hanya tiga yang dapat digunakan untuk bongkar muat truk.
“Kendala utama di situ. Karena itu, kami fokus melakukan pengaturan di jalur agar tidak terjadi penumpukan yang tidak terkendali,” tegasnya.
Personel gabungan juga berjaga penuh di lapangan untuk memastikan tidak ada kendaraan yang menyerobot antrean atau “ngeblong” yang justru memperparah kemacetan.
Tak hanya mengatur lalu lintas, aparat TNI juga turut memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengguna jalan yang terjebak kemacetan. Makanan dan minuman dibagikan kepada sopir dan penumpang yang sudah berjam-jam tertahan di jalan.
“Personel akan tetap siaga hingga 7 April. Kami harap dalam beberapa hari ke depan kondisi bisa terurai, apalagi jika tidak ada lonjakan wisatawan saat long weekend,” tambah Triyadi.
Sementara itu, Mabes TNI telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk menangani kemacetan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang. Satgas ini melibatkan ratusan personel lintas matra guna mempercepat normalisasi arus lalu lintas.
Komandan Lanal Banyuwangi, Letkol Laut (P) Muhammad Puji Santoso, menyebutkan bahwa satgas tersebut ditugaskan selama tujuh hari, dengan kemungkinan perpanjangan jika kondisi belum sepenuhnya terkendali.
“Satgas diperintahkan untuk menangani kemacetan yang sudah berlangsung sejak Sabtu (28/3). Jika diperlukan lebih lama, akan kami laporkan ke komando atas,” ujarnya.
Langkah strategis lain yang disiapkan adalah pengerahan kapal perang sebagai armada bantuan penyeberangan. KRI Teluk Kupang 519 telah disiagakan dan bersandar di Dermaga Pusri Ketapang.
Kapal jenis angkut tank dan helikopter itu rencananya akan difungsikan sebagai kapal bantuan untuk melayani rute Ketapang–Gilimanuk jika dibutuhkan.
“Kapal sudah kami siapkan. Tinggal menunggu konfirmasi operasional. Prinsipnya untuk membantu mengurai kepadatan,” pungkas Puji.
Dengan berbagai langkah tersebut, diharapkan kemacetan panjang yang melumpuhkan jalur utama Banyuwangi menuju Bali ini bisa segera teratasi dan aktivitas distribusi kembali normal. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin