Macet Parah di Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi, Sopir Terjebak Berjam-Jam dan Rugi Hingga Ratusan Ribu

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Jumat, 3 April 2026 | 01:30 WIB
BUTUH SOLUSI: Kendaraan roda empat menunggu giliran masuk kapal di dekat dermaga Pelabuhan ASDP Ketapang. Ekor antrean kendaraan mengular sampai Kampe, Kamis (2/4). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
BUTUH SOLUSI: Kendaraan roda empat menunggu giliran masuk kapal di dekat dermaga Pelabuhan ASDP Ketapang. Ekor antrean kendaraan mengular sampai Kampe, Kamis (2/4). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Kemacetan horor menuju Pelabuhan ASDP Ketapang terus berlanjut dan makin memukul para sopir logistik.

Terjebak antrean berjam-jam, mereka harus menanggung kerugian besar, mulai dari biaya operasional hingga potensi denda keterlambatan pengiriman.

Kondisi ini sudah berlangsung sejak Sabtu malam (28/2) dan belum sepenuhnya terurai hingga Kamis (2/3).

Lonjakan volume kendaraan, terutama truk logistik, menjadi pemicu utama kepadatan di jalur menuju pelabuhan penyeberangan tersibuk kedua di Indonesia tersebut.

Awalnya antrean kendaraan hanya mencapai sekitar 4 kilometer dari pelabuhan. Namun, menjelang berakhirnya masa pembatasan operasional truk berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, dan Kementerian PUPR, ratusan truk langsung memadati jalur menuju Ketapang.

Setelah pembatasan resmi berakhir pada Senin malam (30/2), lonjakan kendaraan tak terbendung.

Antrean pun membengkak hingga mencapai 13 kilometer. Bahkan hingga Kamis (2/3), kepadatan masih terjadi dengan panjang antrean berkisar 11 kilometer dari pelabuhan.

Dampak kemacetan ini dirasakan langsung oleh para sopir. Syamsul, salah satu sopir truk logistik asal Tabanan, mengaku harus menghabiskan waktu hingga delapan jam hanya untuk mendekati area pelabuhan.

“Saya keluar dari Hutan Baluran jam 9 pagi, jam 5 sore baru masuk pelabuhan. Itu pun masih antre lagi untuk naik kapal,” ujarnya.

Selama terjebak macet, biaya operasional terus membengkak. Mulai dari konsumsi, uang rokok, hingga bahan bakar yang tetap terpakai karena mesin menyala. Dalam sekali perjalanan, Syamsul mengaku bisa merogoh kocek tambahan hingga Rp 200 ribu.

Ironisnya, tidak ada kompensasi dari perusahaan atas kerugian tersebut. “Kalau makin lama di jalan, ya kita rugi. Uang yang harusnya buat keluarga malah habis duluan,” keluhnya.

Keluhan serupa juga datang dari pelaku usaha kecil. Rinto, 28, pengantar es batu di Banyuwangi, terpaksa mengurangi frekuensi pengiriman karena waktu tempuh yang tak menentu. Biasanya dua kali sehari, kini hanya bisa sekali.

“Pernah coba dua kali kirim, malah terjebak macet sampai enam jam. Esnya bisa mencair kalau terlalu lama di jalan,” ungkapnya.

Sementara itu, Gaung, pedagang sayur asal Purwoharjo, juga mengalami kerugian akibat keterlambatan distribusi. Sayuran yang tidak tiba tepat waktu berisiko tidak laku di pasar subuh.

“Pernah kena macet sampai lima jam. Padahal sayuran harus sampai sebelum jam 9 malam. Kalau terlambat, tidak bisa jualan,” katanya.

Data produksi ASDP menunjukkan lonjakan signifikan jumlah kendaraan yang menyeberang dari Jawa ke Bali. Pada H+12, kendaraan roda dua mencapai 8.198 unit atau naik 51 persen dibandingkan tahun lalu. Kendaraan roda empat tercatat 3.669 unit atau naik 8 persen.

Sementara itu, total truk yang menyeberang mencapai 2.118 unit dan bus sebanyak 577 unit. Secara keseluruhan, jumlah kendaraan yang menyeberang mencapai 14.632 unit atau meningkat 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Korsatpel BPTD Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho, menyebutkan bahwa saat ini sebanyak 33 kapal telah dioperasikan untuk melayani penyeberangan. Meski proses pemuatan di dalam pelabuhan relatif lancar, antrean panjang tetap terjadi di luar area pelabuhan.

“Secara operasional di dalam pelabuhan sebenarnya sudah cukup lancar. Tapi memang volume kendaraan yang datang sangat tinggi,” ujarnya.

Ia mengisyaratkan perlunya peningkatan kapasitas infrastruktur, baik dari sisi dermaga maupun armada kapal, untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan yang terus meningkat setiap tahun.

“Sepertinya memang sudah waktunya ada peningkatan, baik dari jembatan maupun kapal,” pungkasnya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
macet Ketapang antrean truk Banyuwangi sopir rugi macet Penyeberangan Jawa Bali Pelabuhan ASDP Ketapang