Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Antrean Ketapang Tak Kunjung Terurai, Alasbuluh–Pelabuhan Ditempuh 5 Jam, Gapasdap Desak Tambah Dermaga

Fredy Rizki Manunggal • Rabu, 1 April 2026 | 00:30 WIB
Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi
ANTRE MASUK KAPAL: Bus dan kendaraan roda dua antre berjam-jam di parkiran Pelabuhan ASDP Ketapang, Selasa (31/3).
Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi ANTRE MASUK KAPAL: Bus dan kendaraan roda dua antre berjam-jam di parkiran Pelabuhan ASDP Ketapang, Selasa (31/3).

RADARBANYUWANGI.ID – Antrean panjang kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, belum juga terurai meski arus balik Lebaran diperkirakan telah memasuki fase akhir.

Bahkan, perjalanan dari Alasbuluh ke pelabuhan bisa memakan waktu hingga lima jam.

Kondisi tersebut dialami Feri, 36, sopir truk pengantar paket asal Jember. Ia mengaku terjebak antrean panjang sejak pagi saat melintas di kawasan Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Selasa (31/3).

Peluh membasahi tubuhnya saat menunggu di tengah kemacetan yang tak kunjung bergerak. Ia menyebut antrean sudah terlihat sejak kawasan Alasbuluh.

“Saya keluar hutan sekitar pukul 07.00, terus antrean mulai dari Alasbuluh. Kalau tidak ngeblong, tidak mungkin bisa sampai sekarang,” ujarnya.

Karena terdesak waktu pengiriman, Feri akhirnya nekat menerobos antrean. Sekitar pukul 13.30 WIB, mobil boks yang dikemudikannya baru bisa masuk ke area Pelabuhan Ketapang.

Meski demikian, ia mengaku sebenarnya kesal dengan praktik kendaraan yang menyerobot antrean. Sebab, aksi tersebut justru memperparah kemacetan.

“Di satu sisi kesal, tapi saya juga punya tanggung jawab kirim paket tepat waktu,” ungkapnya.

Ia juga membandingkan kondisi saat perjalanan sebelumnya. Ketika menyeberang dari Bali ke Jawa, dirinya sempat terjebak macet hingga tujuh jam, meski jarak tempuh relatif dekat dari Melaya ke Pelabuhan Gilimanuk.

Tak hanya sopir logistik, kondisi ini juga dikeluhkan penumpang bus antarkota. Yasman, 52, penumpang jurusan Semarang–Denpasar, mengaku terkejut dengan panjangnya antrean meski sudah memasuki H+10 Lebaran.

Biasanya, ia sengaja memilih jadwal perjalanan setelah puncak arus balik untuk menghindari kemacetan. Namun tahun ini berbeda.

“Tahun ini berbeda, motor juga masih banyak. Dari Bangsring ke sini sekitar enam jam,” ujarnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mengular panjang dan diisi berbagai jenis kendaraan, mulai mobil pribadi, bus, hingga truk logistik.

Bahkan, kantong parkir seperti di dermaga Bulusan terlihat tidak lagi mampu menampung kendaraan tambahan, khususnya truk.

Seorang pengendara motor asal Situbondo, Maksum, 55, menyebut antrean sudah terlihat sejak kawasan Desa Alasbuluh. Meski ada beberapa titik yang terputus, kepadatan tetap tinggi.

“Di beberapa titik macet karena ada kendaraan ngeblong. Saya kira sudah landai di H+10, ternyata masih ramai,” katanya.

Kondisi ini mendapat sorotan dari Gapasdap. Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, menilai kemacetan terjadi akibat keterbatasan kapasitas dermaga di lintasan Ketapang–Gilimanuk.

Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 56 kapal yang beroperasi di lintasan tersebut. Namun, kapasitas dermaga hanya mampu melayani sekitar 28 kapal per hari.

Akibatnya, puluhan kapal harus menunggu giliran sandar di laut. Bahkan, saat jumlah kapal yang dioperasikan ditambah, waktu tunggu justru semakin lama dan produktivitas menurun.

“Kapal lebih banyak mengapung di laut, sementara penumpang harus menghadapi ketidaknyamanan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kebijakan operasional yang dinilai belum fleksibel dan kurang adaptif terhadap kondisi lapangan.

Di sisi darat, distribusi lalu lintas kendaraan yang tidak optimal membuat antrean semakin panjang dan sulit diurai.

Khoiri mengingatkan, tanpa adanya percepatan pembangunan dermaga baru, kondisi serupa akan terus berulang setiap musim liburan atau momen tertentu.

“Kondisi ini bisa menjadi bom waktu di pintu pelabuhan. Pemerintah harus segera membenahi infrastruktur dan sistem operasional,” tegasnya.

Gapasdap pun mendesak pemerintah untuk segera menambah kapasitas dermaga serta menyusun sistem pengelolaan lalu lintas yang lebih adaptif dan berbasis kondisi riil di lapangan.

Jika tidak segera ditangani, antrean panjang di lintasan Ketapang–Gilimanuk berpotensi terus menjadi persoalan tahunan yang menghambat mobilitas masyarakat dan distribusi logistik antara Pulau Jawa dan Bali. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#antrean Ketapang Gilimanuk #macet Banyuwangi #dermaga baru Ketapang #gapasdap #arus balik lebaran