RADARBANYUWANGI.ID – Kepadatan arus kendaraan menuju Pelabuhan ASDP Ketapang saat arus balik Lebaran tak hanya dipicu tingginya volume kendaraan.
Praktik pembelian tiket secara langsung (offline) di kios pinggir jalan turut memperparah antrean panjang di jalur menuju pelabuhan.
Pantauan di lapangan, banyak kendaraan roda dua hingga truk berhenti di bahu jalan untuk membeli tiket penyeberangan.
Kondisi ini menyebabkan arus lalu lintas tersendat dan memperpanjang antrean kendaraan menuju pelabuhan penyeberangan Selat Bali.
Padahal, pihak ASDP Indonesia Ferry telah memberlakukan sistem pembelian tiket secara daring (online) bagi pengguna jasa.
Namun dalam praktiknya, masih banyak calon penumpang yang memilih membeli tiket secara luring melalui kios-kios di sekitar pelabuhan.
Salah satu pengguna jasa, Rudiansah, pengendara roda dua asal Jember, mengaku lebih nyaman membeli tiket langsung di lokasi.
“Lebih tenang kalau beli di loket. Karena sudah dekat pelabuhan, takut kalau beli duluan malah hangus,” ujarnya.
Hal serupa diungkapkan Arya, 42, pengemudi asal Lumajang yang kerap bolak-balik Bali–Jawa.
Ia mengaku hampir tidak pernah membeli tiket secara online karena dinilai lebih praktis membeli langsung di kios.
“Biasanya cepat, tapi ini karena antre jadi berhenti lama,” katanya.
Belum diterapkannya sistem geofencing turut menjadi faktor. Teknologi berbasis lokasi ini sejatinya dapat membatasi pembelian tiket dalam radius tertentu, biasanya sekitar 2,6 kilometer dari pelabuhan, sehingga mengurangi potensi penumpukan kendaraan di titik tertentu.
Wakil Direktur ASDP Ketapang, Yossianis Marciano, mengatakan pihaknya terus mendorong masyarakat untuk beralih ke pembelian tiket online.
Berbagai upaya sosialisasi telah dilakukan, mulai dari menyasar komunitas sopir hingga desa-desa.
“Proses ini memang membutuhkan waktu. Kami terus edukasi agar masyarakat terbiasa membeli tiket melalui ponsel masing-masing,” jelasnya.
Di sisi lain, keberadaan kios tiket di luar pelabuhan disebut sebagai upaya memperluas akses pembelian bagi masyarakat. Tiket kini juga bisa dibeli di minimarket dan sejumlah titik lainnya.
“Kami juga tengah menyiapkan peningkatan sistem dengan menyinkronkan data dengan milik KAI agar proses pembelian tiket semakin cepat,” tambah Yossi.
Berdasarkan evaluasi ASDP, selain kebiasaan pembelian tiket offline, kepadatan arus kendaraan juga dipengaruhi peningkatan volume kendaraan serta masih beroperasinya kendaraan sumbu tiga.
Untuk mengurai kepadatan, seluruh buffer zone atau zona penyangga di sekitar pelabuhan telah difungsikan guna menampung kendaraan.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi antrean panjang di jalur utama menuju pelabuhan.
“Kami berharap kepadatan segera terurai. Karena kemarin banyak kendaraan yang mengejar hari pertama masuk kerja dan sekolah. Apalagi pemerintah juga menerapkan kebijakan work from anywhere (WFA) bagi ASN,” pungkasnya.
ASDP mengimbau masyarakat untuk membeli tiket secara online sebelum tiba di pelabuhan guna menghindari antrean dan memperlancar arus penyeberangan di jalur strategis Jawa–Bali tersebut. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin