RADARBANYUWANGI.ID – Alunan musik kendang kempul menghidupkan suasana Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Senin (23/3).
Aneka kuliner tradisional khas daerah tersaji, menyambut ratusan perantau dalam kegiatan bertajuk Diaspora Banyuwangi 2026.
Acara tahunan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang kolaborasi bagi warga Banyuwangi yang merantau di berbagai daerah hingga mancanegara.
Hadir peserta dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Sumatera, Sulawesi, hingga Papua. Bahkan, sejumlah diaspora datang dari luar negeri seperti Jerman dan Amerika Serikat.
Suasana penuh kehangatan dan keakraban terasa kental, mencerminkan kuatnya ikatan emosional antara perantau dan kampung halaman.
Ipuk Tekankan Filosofi Tandang Bareng
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam sambutannya menegaskan pentingnya semangat “tandang bareng”, sebuah filosofi masyarakat Osing yang mengedepankan gotong royong dan kebersamaan.
Menurutnya, pembangunan Banyuwangi tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah, melainkan membutuhkan dukungan seluruh elemen, termasuk diaspora yang tersebar di berbagai wilayah.
“Semangat tandang bareng ini adalah modal kita. Banyuwangi tidak bisa sendirian, harus kompak dan saling membantu,” tegasnya di hadapan para perantau.
Diaspora Diminta Berkontribusi dari Mana Saja
Ipuk mengajak para diaspora untuk tetap berkontribusi meski tidak selalu harus pulang ke daerah secara fisik.
Ide, gagasan, hingga solusi dinilai sangat penting untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan yang semakin kompleks.
Dengan wilayah yang luas dan karakter masyarakat yang beragam, Banyuwangi membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk terus berkembang.
“Kontribusi tidak harus selalu hadir secara fisik. Pemikiran dan jejaring yang dimiliki diaspora sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Pariwisata Jadi Andalan, Sektor Lain Diperkuat
Dalam kesempatan tersebut, Ipuk juga memaparkan bahwa sektor pariwisata masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Namun, ia menekankan pentingnya penguatan sektor pendukung seperti infrastruktur, ekonomi, UMKM, hingga kualitas sumber daya manusia.
“Pariwisata tetap jadi core value, tapi harus ditopang sektor lain, termasuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur,” jelasnya.
Capaian Ekonomi Banyuwangi Meningkat
Sejumlah capaian positif juga disampaikan dalam forum tersebut. Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi pada 2025 tercatat mencapai 5,65 persen, melampaui rata-rata nasional maupun Jawa Timur.
Selain itu, pendapatan per kapita masyarakat menembus Rp 67,08 juta, tertinggi di kawasan Sekarkijang (eks Keresidenan Besuki dan Lumajang). Angka kemiskinan berhasil ditekan menjadi 6,13 persen, sementara tingkat pengangguran terbuka berada di angka 3,94 persen.
“Capaian ini bukan kerja kami semata, tapi hasil tandang bareng semua pihak, termasuk diaspora,” ujar Ipuk.
Kisah Inspiratif Diaspora
Semangat kolaborasi juga tercermin dari pengalaman para diaspora. Nur Hidayat dari Ikawangi Sumatera Utara, misalnya, menceritakan kontribusi warga Banyuwangi dalam membantu korban banjir bandang di wilayahnya.
Melalui gotong royong, mereka berhasil membuka akses air bersih dengan membangun puluhan sumur bor.
Sementara itu, Wulan, diaspora asal Kalibaru yang kini menetap di Jepang, menyatakan kesiapannya membantu warga Banyuwangi yang ingin bekerja di Negeri Sakura melalui program kerja sama pemerintah.
Diaspora Sebagai Duta Daerah
Penasihat Ikawangi Pusat, Arief Yahya, menegaskan bahwa diaspora memiliki peran strategis sebagai duta daerah di tempat masing-masing.
Ia menyebut tiga sektor unggulan yang bisa terus dikembangkan bersama, yakni pariwisata, blue economy, serta posisi Banyuwangi sebagai hub logistik Indonesia timur.
“Semua diaspora bisa berkontribusi. Jadilah duta Banyuwangi di tempat masing-masing,” pesannya.
Komitmen Bangun Banyuwangi Berkelanjutan
Menutup kegiatan, Ipuk kembali menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus bergerak menjawab kebutuhan masyarakat.
Mulai dari perbaikan infrastruktur jalan hingga menghadapi tantangan global seperti krisis energi.
“Kami tidak hanya mendengar dan mencatat, tapi juga bergerak. Mari kita bangun Banyuwangi bersama, dari mana pun kita berada,” tandasnya.
Acara Diaspora Banyuwangi ini pun menjadi simbol kuat bahwa jarak bukanlah penghalang untuk berkontribusi bagi kampung halaman. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin