Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Idul Fitri 2026 Beda Hari, Fenomena Berulang 25 Tahun: Ini Daftar Lengkap Lebaran yang Tak Serempak

Ali Sodiqin • Minggu, 22 Maret 2026 | 09:45 WIB

ILUSTRASI Kemenag gelar sidang isbat penetapan Idul Fitri.
ILUSTRASI Kemenag gelar sidang isbat penetapan Idul Fitri.

RADARBANYUWANGI.ID – Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri kembali terjadi di Indonesia pada 1447 Hijriah atau tahun 2026.

Pemerintah melalui sidang isbat menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Keputusan tersebut diumumkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia setelah menggelar sidang isbat pada Kamis (19/3/2026).

Di sisi lain, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026 menggunakan metode hisab.

Perbedaan ini membuat sebagian umat Islam di Indonesia merayakan Lebaran lebih awal dibandingkan yang lain.

Fenomena Berulang: Sudah Terjadi Berkali-kali dalam 25 Tahun

Menariknya, perbedaan hari raya seperti ini bukan peristiwa baru. Dalam 25 tahun terakhir, Indonesia telah beberapa kali mengalami Lebaran yang tidak serempak.

Data menunjukkan, sejak 2001 hingga 2026, setidaknya terdapat enam kali momen Idul Fitri dirayakan pada hari yang berbeda, yakni pada:

Artinya, rata-rata setiap beberapa tahun sekali, perbedaan penetapan Lebaran kembali terjadi.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa dinamika penentuan kalender Hijriah di Indonesia memiliki pola berulang, bukan sekadar kejadian insidental.

Mayoritas Tahun Tetap Serempak

Meski demikian, sebagian besar penetapan Idul Fitri tetap berlangsung serentak.

Dari total 26 tahun terakhir, hanya enam kali terjadi perbedaan. Selebihnya, pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah merayakan Idul Fitri pada hari yang sama.

Beberapa tahun terakhir bahkan sempat menunjukkan tren keseragaman, seperti pada periode 2012 hingga 2022 yang relatif tanpa perbedaan.

Namun, perbedaan kembali muncul pada 2023 dan kini terulang lagi pada 2026.

Contoh Perbedaan yang Mencolok

Beberapa perbedaan yang cukup mencolok antara lain:

Selisih satu hari menjadi pola umum dalam perbedaan tersebut.

Penyebab Utama: Hisab vs Rukyat

Perbedaan ini tidak lepas dari metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan masing-masing pihak.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yakni perhitungan astronomi yang memungkinkan penetapan tanggal dilakukan jauh hari sebelumnya.

Sementara itu, pemerintah bersama Nahdlatul Ulama menggunakan metode rukyat atau pengamatan hilal secara langsung yang dikukuhkan melalui sidang isbat.

Perbedaan pendekatan ini menjadi faktor utama yang menyebabkan perbedaan hari raya.

Dinamika yang Sudah Jadi Bagian Tradisi

Pengamat menilai, perbedaan ini sudah menjadi bagian dari dinamika keagamaan di Indonesia.

Selama memiliki dasar ilmiah dan syar’i, baik hisab maupun rukyat sama-sama diakui dalam tradisi Islam.

Karena itu, perbedaan Lebaran bukan lagi dipandang sebagai konflik, melainkan sebagai realitas yang berulang dalam kehidupan umat.

Imbauan Jaga Persatuan di Tengah Perbedaan

Di tengah perbedaan yang kembali terjadi, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga persatuan dan saling menghormati.

Perayaan Idul Fitri pada hakikatnya adalah momentum mempererat ukhuwah, bukan memperdebatkan perbedaan metode.

Idul Fitri 2026 kembali dirayakan pada hari yang berbeda di Indonesia, melanjutkan pola yang telah berulang dalam 25 tahun terakhir.

Dari enam kali perbedaan sejak 2001, tahun 2026 menjadi bukti bahwa fenomena ini akan terus terjadi selama metode hisab dan rukyat masih digunakan secara berdampingan.

Lebaran boleh berbeda hari, tetapi semangat kebersamaan tetap harus sama. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Muhammadiyah vs NU #sejarah Lebaran Indonesia #Lebaran tidak serempak #idul fitri beda hari #Sidang Isbat 2026