RADARBANYUWANGI.ID - Arus mudik Lebaran 2026 melalui kapal perintis di lintasan Pelabuhan Tanjungwangi menuju Sapeken, Madura, resmi berakhir pada Kamis (19/3/2026) pagi.
Namun, berbeda dengan tahun sebelumnya, jumlah pemudik tahun ini justru mengalami penurunan.
Kloter terakhir menggunakan KM Sabuk Nusantara 91 tercatat hanya mengangkut sekitar 92 penumpang dari total kapasitas 400 orang.
Kondisi kapal pun tampak lengang, jauh dari suasana padat yang biasa terjadi menjelang hari raya.
Kloter Terakhir Sepi Penumpang
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas penumpang pada keberangkatan terakhir merupakan pemudik yang berangkat di waktu-waktu akhir menjelang Idulfitri.
Kasi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan KSOP Tanjungwangi, Budi Sanjoyo, memastikan bahwa seluruh rangkaian arus mudik berjalan lancar hingga penutupan.
“Secara umum arus mudik kapal perintis berjalan lancar. Seluruh penumpang sudah terangkut hingga keberangkatan terakhir pagi tadi,” ujarnya.
Penumpang Turun 3,38 Persen
Berdasarkan data KSOP Tanjungwangi, jumlah penumpang kapal perintis menuju Sapeken mengalami penurunan sekitar 3,38 persen dibandingkan tahun lalu.
- Tahun 2025: 1.832 penumpang
- Tahun 2026: 1.770 penumpang
Data tersebut dihitung sejak H-15 hingga H-2 Lebaran.
Rute Baru Jadi Faktor Utama
Menurut Budi, salah satu faktor utama penurunan jumlah penumpang adalah munculnya alternatif jalur baru menuju Sapeken.
Kini, pemudik tidak hanya bergantung pada Banyuwangi, tetapi juga memiliki opsi penyeberangan melalui Celukan Bawang.
“Sekarang ada opsi penyeberangan lain, jadi tidak terpusat di Tanjungwangi. Itu yang memengaruhi jumlah penumpang,” jelasnya.
Dengan adanya rute tambahan tersebut, distribusi penumpang menjadi lebih merata dan tidak menumpuk di satu jalur saja.
Didominasi Pekerja dari Bali
Selain faktor rute alternatif, karakteristik penumpang juga turut memengaruhi tren penurunan.
Sebagian besar pengguna kapal perintis ini merupakan pekerja asal Sapeken yang selama ini merantau di Bali.
Dengan pilihan jalur yang lebih fleksibel, para pekerja tersebut dapat menyesuaikan rute perjalanan sesuai kebutuhan, sehingga tidak seluruhnya menggunakan layanan dari Tanjungwangi.
Di sisi lain, tahun ini juga tidak ada program mudik gratis dari Pemerintah Kabupaten Sumenep yang biasanya turut menyumbang jumlah penumpang.
Puncak Mudik Terjadi Lebih Awal
KSOP mencatat bahwa puncak arus mudik terjadi lebih awal, yakni pada Rabu (11/3/2026), dengan jumlah penumpang mencapai 496 orang dalam satu hari.
Sementara itu, jumlah penumpang terendah terjadi pada keberangkatan terakhir, Kamis (19/3/2026), yang hanya diisi 92 orang.
Fokus Beralih ke Arus Balik
Meski terjadi penurunan jumlah pemudik, KSOP memastikan layanan kapal perintis tetap berjalan optimal selama periode angkutan Lebaran.
“Kami juga terus berkoordinasi dengan operator kapal untuk memastikan kelancaran arus balik dalam beberapa hari ke depan,” pungkas Budi.
Dengan berakhirnya arus mudik, perhatian kini beralih pada potensi lonjakan arus balik yang diperkirakan terjadi setelah Idulfitri, seiring kembalinya para perantau ke tempat kerja masing-masing.
Distribusi Penumpang Lebih Seimbang
Fenomena penurunan penumpang ini sekaligus menunjukkan adanya perubahan pola mobilitas masyarakat.
Dengan semakin banyaknya pilihan rute penyeberangan, distribusi penumpang menjadi lebih seimbang dan tidak lagi terpusat di satu pelabuhan.
Kondisi ini dinilai positif karena mampu mengurangi kepadatan serta meningkatkan kenyamanan perjalanan bagi para pemudik di jalur laut, khususnya menuju wilayah kepulauan seperti Sapeken. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin