RADARBANYUWANGI.ID - PT ASDP Indonesia Ferry terus mematangkan strategi operasional untuk menjaga kelancaran penyeberangan di lintasan Pelabuhan Ketapang–Pelabuhan Gilimanuk pascapenutupan Hari Raya Nyepi.
Langkah utama yang disiapkan adalah optimalisasi skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB) serta penambahan armada kapal untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan kendaraan pada arus balik Lebaran 2026.
Skema TBB Terbukti Efektif Urai Antrean
Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, menjelaskan bahwa skema TBB telah terbukti efektif dalam mengurai antrean panjang saat puncak arus mudik.
“Antrean kendaraan yang sempat mengular puluhan kilometer di Gilimanuk berhasil terurai pada Rabu (18/3) malam berkat optimalisasi pola TBB,” ujarnya saat ditemui di Kantor ASDP Ketapang, Kamis (19/3/2026).
Dalam skema ini, kapal yang tiba langsung melakukan bongkar muatan dan segera berangkat kembali tanpa menunggu lama di dermaga, sehingga siklus pergerakan kapal menjadi jauh lebih cepat.
Enam Dermaga Dioperasikan Sekaligus
Awalnya, skema TBB hanya diterapkan di dua dermaga. Namun, saat terjadi lonjakan kendaraan, jumlah dermaga aktif ditingkatkan secara signifikan.
- 4 dermaga utama dioperasikan
- 2 dermaga tambahan sebagai cadangan
- Total 6 dermaga aktif saat kondisi puncak
“Dengan pola TBB, pergerakan kapal jauh lebih cepat. Saat puncak kemarin, jumlah kapal yang menjalankan TBB bisa mencapai 15 unit,” jelas Yossianis.
Armada Kapal Ditambah, Kapasitas Meningkat
Selain optimalisasi dermaga, ASDP juga memperkuat layanan dengan menambah jumlah kapal yang beroperasi. Salah satu yang diandalkan adalah kapal berkapasitas besar seperti KMP Prima Nusantara.
Kapal ini mampu mengangkut lebih dari 70 kendaraan dalam satu kali pelayaran, sehingga sangat efektif untuk mempercepat penguraian antrean kendaraan.
Penambahan armada ini diharapkan mampu meningkatkan daya angkut secara signifikan, terutama pada periode arus balik yang diprediksi mengalami lonjakan tinggi.
Siaga Pascanyepi, Antisipasi Lonjakan Arus Balik
Menurut Yossianis, kombinasi antara skema TBB dan penambahan kapal menjadi kunci utama menjaga stabilitas layanan penyeberangan.
“Langkah ini kami siapkan agar setelah pelabuhan dibuka kembali, arus kendaraan bisa langsung terurai dan tidak kembali menumpuk seperti sebelumnya,” tegasnya.
Pasca Nyepi, mobilitas masyarakat diperkirakan meningkat tajam, baik dari arah Jawa menuju Bali maupun sebaliknya, seiring mendekatnya puncak arus balik Lebaran.
Truk Logistik Jadi Penyumbang Kepadatan
Di balik kepadatan yang sempat terjadi, ASDP juga menyoroti tingginya kontribusi kendaraan logistik, khususnya truk, yang memperparah antrean di kedua sisi pelabuhan.
Karena itu, ASDP kembali mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap kebijakan pembatasan operasional angkutan barang sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) selama periode mudik.
Pengusaha logistik diminta mengatur jadwal distribusi lebih awal agar tidak menumpuk pada hari-hari krusial.
Prioritas untuk Kendaraan Penumpang
Dalam situasi arus mudik dan balik, ASDP menegaskan bahwa penyeberangan akan diprioritaskan untuk kendaraan penumpang guna menjaga mobilitas masyarakat.
“Dampaknya sangat besar. Kami minta dukungan semua pihak, khususnya pengusaha truk, untuk mematuhi aturan pembatasan operasional,” ujar Yossianis.
Kolaborasi Jadi Kunci Kelancaran
ASDP menegaskan bahwa keberhasilan pengaturan arus penyeberangan tidak hanya bergantung pada operator pelabuhan, tetapi juga pada sinergi seluruh pihak, termasuk kepolisian, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Dengan berbagai langkah antisipatif yang telah disiapkan, diharapkan arus balik Lebaran 2026 di lintasan Ketapang–Gilimanuk dapat berjalan lebih lancar, aman, dan terkendali. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin