RADARBANYUWANGI.ID - Dunia bisnis nasional kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh. Michael Bambang Hartono, konglomerat sekaligus arsitek kesuksesan Grup Djarum, dikabarkan meninggal dunia di Singapura pada Kamis (19/3) pukul 13.15 waktu setempat.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh Corporate Communication Manager PT Djarum, Budi Darmawan.
“Keluarga Besar PT Djarum berduka cita atas wafatnya Pak Michael Bambang Hartono,” ujarnya.
Kepergian Michael menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang tokoh yang tak hanya membangun imperium bisnis, tetapi juga meninggalkan jejak kuat dalam filantropi dan olahraga nasional.
Dari Kudus, Lahir Seorang Taipan
Michael Bambang Hartono lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1939 dengan nama Oei Hwie Siang.
Ia merupakan putra dari Oei Wie Gwan, sosok perintis bisnis kretek yang kemudian berkembang menjadi raksasa industri rokok Indonesia.
Selepas menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro pada 1959–1963, Michael langsung terjun ke dunia usaha.
Bersama adiknya, Robert Budi Hartono, ia melanjutkan bisnis keluarga di tengah situasi yang tidak mudah.
Pada 1963, kebakaran besar sempat melumpuhkan operasional Djarum. Namun, momen itu justru menjadi titik balik.
Michael dan Robert membangun ulang perusahaan dengan pendekatan modern, mulai dari peningkatan kualitas produksi hingga ekspansi pasar.
Mengubah Djarum Jadi Raksasa Industri
Di bawah kepemimpinan generasi kedua ini, PT Djarum berkembang pesat. Tak hanya menguasai pasar domestik, Djarum juga berhasil menembus pasar ekspor sejak awal 1970-an.
Transformasi bisnis dilakukan secara konsisten. Dari perusahaan kretek tradisional, Djarum bertransformasi menjadi grup usaha modern dengan sistem manajemen yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Langkah ini menjadi fondasi penting bagi ekspansi bisnis keluarga Hartono ke berbagai sektor strategis.
Kendalikan BCA dan Ekspansi ke Berbagai Sektor
Melalui PT Dwimuria Investama Andalan, keluarga Hartono memperluas bisnis ke sektor keuangan dengan menjadi pemegang saham pengendali Bank Central Asia (BCA).
BCA kini dikenal sebagai salah satu bank terbesar dan paling stabil di Indonesia. Michael sendiri tercatat memiliki jutaan saham BBCA, meski kendali utama tetap berada di bawah struktur holding keluarga.
Selain perbankan, ekspansi juga dilakukan ke sektor infrastruktur telekomunikasi melalui Sarana Menara Nusantara (TOWR).
Tak berhenti di situ, keluarga Hartono juga masuk ke industri elektronik melalui PT Hartono Istana Teknologi yang menaungi merek Polytron.
Dalam beberapa tahun terakhir, Polytron bahkan merambah pasar kendaraan listrik roda dua, menandai adaptasi terhadap tren masa depan.
Konsisten di Puncak Orang Terkaya Indonesia
Kesuksesan lintas sektor tersebut mengantarkan Michael sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg, kekayaannya mencapai sekitar USD 18,4 miliar.
Sementara versi Forbes pada awal 2026 mencatat kekayaannya mencapai USD 19,7 miliar. Bersama sang adik, ia hampir selalu berada di posisi teratas daftar orang terkaya Indonesia.
Namun di balik angka fantastis itu, Michael dikenal sebagai sosok yang relatif sederhana dan fokus pada pengembangan bisnis jangka panjang.
Filantropi dan Pengabdian Sosial
Di luar dunia bisnis, Michael aktif dalam kegiatan sosial melalui Djarum Foundation.
Yayasan tersebut mengembangkan berbagai program di bidang pendidikan, lingkungan, budaya, dan olahraga.
Kontribusi ini menjadi bukti bahwa kesuksesan bisnis yang diraihnya juga diimbangi dengan kepedulian terhadap masyarakat.
Program-program Djarum Foundation telah menjangkau banyak daerah di Indonesia dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan sumber daya manusia.
Dedikasi Besar untuk Bulu Tangkis Indonesia
Nama Michael juga sangat lekat dengan dunia bulu tangkis. Melalui PB Djarum, ia berperan besar dalam mencetak atlet-atlet berprestasi yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
PB Djarum menjadi salah satu pusat pembinaan atlet terbaik di Tanah Air. Banyak pemain nasional lahir dari klub ini dan sukses meraih gelar juara dunia.
Dedikasi tersebut menjadikan Michael dihormati tidak hanya sebagai pebisnis, tetapi juga sebagai tokoh penting dalam olahraga nasional.
Sosok Multitalenta, Atlet Bridge hingga Asian Games
Tak banyak yang tahu, Michael juga merupakan atlet bridge nasional. Ia pernah meraih prestasi di tingkat dunia dan menjadi bagian dari kontingen Indonesia di Asian Games 2018.
Pada usia 78 tahun, ia menjadi salah satu atlet tertua dalam ajang tersebut. Hal ini menunjukkan semangat kompetitif dan dedikasi tinggi yang ia miliki, bahkan di luar dunia bisnis.
Warisan Besar Seorang Legenda
Kepergian Michael Bambang Hartono meninggalkan duka mendalam bagi dunia usaha Indonesia. Namun, warisan yang ia tinggalkan jauh melampaui bisnis semata.
Ia membangun fondasi ekonomi, mencetak lapangan kerja, mengembangkan olahraga, serta berkontribusi dalam berbagai program sosial yang berdampak luas.
Jejaknya adalah kombinasi antara visi bisnis, ketekunan, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai itu kini menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Indonesia kehilangan seorang taipan besar. Namun, karya dan kontribusinya akan terus hidup—menjadi bagian dari perjalanan panjang pembangunan bangsa. (*)
Editor : Ali Sodiqin