RADARBANYUWANGI.ID - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan bahwa pengembangan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD) menjadi strategi penting dalam membangun kota modern sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap perumahan terjangkau.
Pernyataan tersebut disampaikan AHY dalam acara pencanangan pembangunan hunian untuk mendukung Program 3 Juta Rumah di kawasan Stasiun Manggarai, Senin. Ia menyoroti tren urbanisasi global yang semakin meningkat, di mana sebagian besar populasi dunia akan tinggal di kawasan perkotaan.
“Apalagi diprediksi 70 persen masyarakat dunia termasuk Indonesia akan hidup, akan bekerja, beraktivitas di kota-kota,” ujar AHY.
AHY menjelaskan bahwa meningkatnya urbanisasi berdampak langsung pada keterbatasan lahan di kota-kota besar. Oleh karena itu, pembangunan hunian vertikal dinilai sebagai pendekatan paling realistis untuk menjawab kebutuhan tempat tinggal masyarakat.
Menurutnya, konsep TOD memungkinkan integrasi antara hunian, pusat ekonomi, dan transportasi publik dalam satu kawasan yang saling terhubung. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi mobilitas, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
“Pembangunan hunian vertikal berbasis TOD memungkinkan masyarakat tinggal lebih dekat dengan pusat aktivitas ekonomi,” katanya.
AHY juga mengapresiasi kontribusi PT Kereta Api Indonesia yang memiliki aset strategis di berbagai kota besar. Lahan-lahan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan hunian terintegrasi.
Salah satu proyek yang tengah dikembangkan berada di kawasan Stasiun Manggarai dengan luas sekitar 2,2 hektare. Di lokasi tersebut direncanakan pembangunan delapan tower hunian dengan total sekitar 2.200 unit, yang menyasar berbagai lapisan masyarakat, termasuk berpenghasilan rendah.
Selain Jakarta, pengembangan kawasan TOD juga dilakukan di sejumlah kota besar lainnya seperti Bandung, Semarang, dan Surabaya. Proyek tersebut mencakup kawasan Stasiun Kiaracondong, Dr Kariadi, hingga Stasiun Surabaya Gubeng.
Empat kota besar di Pulau Jawa ini dipilih karena memiliki tingkat kepadatan tinggi dan kebutuhan hunian yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi.
AHY menekankan bahwa keberhasilan pengembangan TOD sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan investor. Ia menilai pendekatan ini mampu menghadirkan model pembangunan kota yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Melalui konsep TOD, pemerintah juga berharap dapat menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien, mengurangi kemacetan, serta meningkatkan produktivitas masyarakat.
Lebih lanjut, AHY menegaskan bahwa pengembangan kawasan terintegrasi ini sejalan dengan visi pembangunan nasional yang diusung Presiden Prabowo Subianto.
“Kita ingin pembangunan kita sesuai dengan visi Bapak Presiden Prabowo Subianto tumbuh tinggi, tapi juga berpihak pada rakyat kecil dan juga memperhatikan bumi dan lingkungan hidup kita. Ini masa depan kita semua,” ujar AHY.
Editor : Lugas Rumpakaadi