Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mudik Bali–Jawa Lumpuh! Pemudik 31 Jam Terjebak Macet Menuju Pelabuhan Gilimanuk, DPR Soroti Minim Dermaga

Fredy Rizki Manunggal • Selasa, 17 Maret 2026 | 05:30 WIB

Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono ikut mengarahkan penumpang yang berada di dalam kapal, Senin (16/3).
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono ikut mengarahkan penumpang yang berada di dalam kapal, Senin (16/3).

RADARBANYUWANGI.ID – Arus mudik dari Bali menuju Jawa menjelang Hari Raya memicu kemacetan parah di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk.

Antrean kendaraan yang mengular membuat sejumlah pemudik harus menempuh perjalanan hingga puluhan jam hanya untuk mencapai pelabuhan penyeberangan menuju Jawa.

Salah satunya dialami oleh Dicky Firmansyah, 30, yang harus menghabiskan waktu 31 jam perjalanan dari Denpasar hingga akhirnya tiba di Pelabuhan Ketapang pada Senin (16/3) sore.

Perjalanan 31 Jam dari Denpasar

Dicky mengaku berangkat bersama keluarganya dari Denpasar pada Minggu (15/3) sekitar pukul 09.00 pagi.

Photo
Photo

Namun perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu sekitar empat jam menuju Gilimanuk berubah menjadi perjalanan panjang yang sangat melelahkan.

Antrean kendaraan sudah terasa sejak wilayah perbatasan Tabanan hingga menuju pelabuhan.

Ia baru berhasil menyeberang dan tiba di Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 16.00 pada Senin (16/3).

“Biasanya santai empat jam sudah sampai, ini sampai sehari semalam. Saya tidak bisa tidur di perjalanan,” keluh Dicky.

Menurutnya, perjalanan tersebut tidak hanya menguras tenaga tetapi juga membuat kondisi fisik menurun akibat harus berjam-jam berada di kendaraan tanpa istirahat yang cukup.

Pemudik Bus Juga Alami Hal Sama

Pengalaman serupa juga dialami Rudi Hariyano, 51, pemudik asal Bekasi.

Ia menumpang bus dari Terminal Ubung menuju Gilimanuk dan harus menempuh perjalanan hingga 17 jam untuk mencapai Pelabuhan Ketapang.

Padahal biasanya perjalanan tersebut tidak sampai setengah hari.

Menurut Rudi, kemacetan parah membuat bus yang ditumpanginya harus berkali-kali mencari celah di antara kendaraan lain agar bisa terus bergerak.

“Padahal bus saya sudah sering ngeblong. Kalau tidak ngeblong, saya tidak tahu kapan sampai di sini,” ujarnya.

Pria yang telah bekerja selama 30 tahun sebagai penggarap proyek di kawasan Uluwatu itu menyebut kemacetan mudik tahun ini menjadi yang paling parah sepanjang pengalamannya.

Biasanya ia pulang ke Jawa sekitar H-3 Lebaran dan tidak pernah mengalami kemacetan separah ini.

“Ini yang paling parah. Biasanya saya pulang H-3 tidak pernah seramai ini, padahal sekarang masih H-5,” ungkap kakek dua cucu tersebut.

DPR Soroti Minimnya Dermaga

Kondisi kemacetan yang terjadi di jalur menuju Gilimanuk itu juga menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk kalangan legislatif.

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono, turun langsung meninjau kondisi antrean kendaraan yang mengular di kawasan pelabuhan.

Ia melakukan dialog dengan sejumlah pengguna jasa penyeberangan dari arah Bali maupun Jawa untuk mengetahui penyebab utama kemacetan.

Dari hasil pengamatannya, Bambang menilai kemacetan tidak semata-mata disebabkan oleh lonjakan penumpang, tetapi juga karena keterbatasan infrastruktur dermaga yang ada.

Menurutnya, tingginya volume kendaraan terjadi karena momentum Nyepi beririsan dengan arus mudik Lebaran, sehingga banyak masyarakat mempercepat perjalanan kembali ke Jawa.

Kapal Banyak, Dermaga Kurang

Saat ini tercatat ada sekitar 55 kapal yang melayani lintasan penyeberangan di Selat Bali.

Namun menurut Bambang, tidak semua kapal tersebut dapat beroperasi secara maksimal setiap hari.

“Sekarang ini sudah overload. Dari 55 kapal yang ada, sekitar 40 sampai 50 persen kapal belum mendapatkan dermaga,” jelasnya.

Artinya, sebagian kapal harus menunggu giliran sandar karena terbatasnya jumlah dermaga di pelabuhan.

Kondisi tersebut menyebabkan lebih dari 20 kapal tidak bisa beroperasi meski sebenarnya siap melayani penyeberangan.

“Bukan kapalnya yang kurang, tapi dermaganya yang terbatas. Banyak kapal tidak bisa jalan karena tidak mendapat tempat sandar,” tegasnya.

Jalur Vital Antarprovinsi

Lintasan penyeberangan antara Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Gilimanuk merupakan jalur transportasi antarprovinsi yang sangat vital.

Selain menjadi jalur utama mobilitas masyarakat, rute ini juga berperan besar dalam distribusi logistik serta menjadi pintu utama pariwisata menuju Pulau Bali.

Karena itu, Bambang menilai pemerintah perlu segera menambah jumlah dermaga di kedua pelabuhan tersebut agar kapasitas penyeberangan meningkat.

Menurutnya, penambahan dua pasang dermaga baru sudah cukup signifikan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan penyeberangan.

“Kalau ditambah dua dermaga saja, sekitar delapan kapal bisa beroperasi bersamaan. Itu sama dengan menaikkan kapasitas sekitar 40 persen,” katanya.

Antisipasi Lonjakan Wisatawan

Bambang juga mengingatkan bahwa kebutuhan peningkatan kapasitas penyeberangan akan semakin mendesak di masa depan.

Hal ini terutama jika konektivitas jalan tol menuju Banyuwangi telah terhubung secara penuh.

Akses transportasi yang semakin mudah diperkirakan akan meningkatkan jumlah wisatawan menuju Bali.

Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, penumpukan kendaraan di jalur penyeberangan dikhawatirkan akan terus berulang setiap musim liburan.

“Kalau akses semakin mudah, pasti jumlah kendaraan yang menyeberang juga meningkat. Ini harus diantisipasi mulai sekarang,” ujarnya.

Ia pun memastikan akan mendorong percepatan pembangunan dermaga baru melalui pembahasan di parlemen, baik melalui skema penyertaan modal negara kepada PT ASDP Indonesia Ferry maupun melalui pendanaan APBN.

“Kita akan dorong agar pembangunan dermaga segera direalisasikan supaya penumpukan kendaraan tidak terus berulang,” tandasnya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#antrean penumpang #Jawa Bali #dermaga #macet horor #Pelabuhan Ketapang Gilimanuk #Arus Mudik