BANYUWANGI – Arus mudik melalui jalur penyeberangan Selat Bali pada masa angkutan Lebaran tahun ini mulai menunjukkan lonjakan signifikan.
Antrean kendaraan dan penumpang yang hendak menyeberang dari Bali menuju Jawa melalui Pelabuhan Gilimanuk meningkat tajam.
Bahkan, panjang antrean kendaraan dilaporkan mencapai puluhan kilometer dari area pelabuhan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean kendaraan mengular hingga sekitar 25 hingga 37 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk hingga kawasan Tugu Tuwed, Kabupaten Jembrana.
Lonjakan penumpang ini terjadi karena banyak masyarakat yang memilih menyeberang lebih awal sebelum penutupan operasional pelabuhan saat Hari Raya Nyepi pada Rabu siang (18/3).
Bus Pariwisata Kosong Menyeberang ke Bali
Fenomena menarik juga terlihat di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Puluhan bus pariwisata dari Pulau Jawa tampak berdatangan sejak Sabtu sore (14/3) untuk menyeberang ke Bali dalam kondisi kosong.
Bus-bus tersebut sengaja dikirim untuk menjemput pemudik yang berada di Bali dan hendak pulang ke Jawa secara rombongan.
Salah satu sopir bus pariwisata, Basri, 53, mengaku dirinya membawa dua armada bus dari Jawa menuju Bali untuk menjemput penumpang yang telah memesan perjalanan mudik.
Pria asal Probolinggo itu mengatakan, kedua bus yang dikemudikannya berangkat tanpa membawa penumpang dari Jawa.
“Kosong semua, dua bus. Nanti dari Denpasar baru diisi penuh. Tujuannya ke Purwodadi,” ujar Basri saat ditemui di Pelabuhan Ketapang.
Rombongan Pemudik Pesan Bus Khusus
Basri menjelaskan, total 100 kursi yang tersedia di dua armada bus tersebut telah dipesan oleh rombongan pemudik dari Denpasar.
Menurutnya, fenomena seperti ini tergolong jarang terjadi. Bahkan, pada tahun-tahun sebelumnya permintaan bus khusus untuk menjemput pemudik dari Bali tidak sebesar sekarang.
“Peristiwa seperti ini cukup langka. Tahun kemarin juga tidak sampai seperti ini,” ungkapnya.
Ia juga menyebut, para pemudik yang memesan bus rombongan bersedia membayar tarif yang relatif lebih mahal dibandingkan perjalanan pada hari biasa.
“Biasanya yang macet itu saat balik ke Jawa, tapi yang penting harganya bagus,” tambahnya.
Bus dari Surabaya Hampir Tanpa Penumpang
Fenomena serupa juga dialami oleh sopir bus lainnya, Supri, 45. Ia mengaku mendapat pesanan untuk menjemput sekitar 60 pemudik dari Denpasar dengan tujuan akhir Jakarta.
Supri berangkat dari Surabaya menuju Bali, namun perjalanan dari Jawa hanya membawa sedikit penumpang.
“Dari Surabaya cuma bawa delapan penumpang. Bisa dikatakan hampir kosong kursinya. Nanti akan diisi di Denpasar,” jelasnya.
Ia memperkirakan perjalanan kembali ke Jawa akan menghadapi kemacetan panjang mengingat lonjakan arus mudik yang semakin tinggi menjelang penutupan pelabuhan saat Nyepi.
“Yang penting solarnya disiapkan. Kalau macet sudah pasti. Apalagi sebentar lagi mau Nyepi. Ini lebih ramai dari tahun lalu,” ujarnya.
Pemudik Butuh 9 Jam dari Denpasar
Kepadatan kendaraan juga dirasakan langsung oleh para pemudik yang menyeberang dari Bali menuju Jawa.
Salah satunya Rusdi, 42, yang mengaku membutuhkan waktu sangat lama untuk mencapai Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.
Ia mengatakan, perjalanan dari Denpasar menuju pelabuhan memakan waktu sekitar sembilan jam akibat antrean kendaraan yang sangat panjang.
“Dari Denpasar pukul 23.00 sampai Banyuwangi pukul 08.00. Antre masuk kapal juga lama, hampir tiga jam baru bisa naik kapal,” ungkap Rusdi.
Menurutnya, panjangnya antrean membuat kendaraan bergerak sangat lambat bahkan sering berhenti total.
Antrean Gilimanuk Capai 30 Km
General Manager ASDP Cabang Ketapang Arief Eko Kurnianjah membenarkan adanya lonjakan antrean kendaraan di sisi Gilimanuk.
Menurutnya, antrean kendaraan yang hendak menyeberang dari Bali menuju Jawa tercatat mencapai sekitar 30 kilometer dari area pelabuhan.
Kepadatan tersebut terjadi karena banyak pemudik ingin menyeberang sebelum operasional pelabuhan dihentikan sementara saat Hari Raya Nyepi.
“Semua pemudik ingin segera menyeberang sebelum penutupan pelabuhan pada Rabu siang,” ujar Arief.
Selain kendaraan pribadi, kepadatan juga dipicu oleh kendaraan logistik yang hendak masuk ke Bali sebelum diberlakukannya pembatasan operasional.
Banyak truk tanpa muatan yang menyeberang menuju Bali guna menghindari pembatasan sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, dan Kementerian Pekerjaan Umum.
“Jadi semua memanfaatkan waktu sekitar dua hari sebelum penutupan Nyepi,” jelasnya.
35 Kapal Dioperasikan
Untuk mengurai kemacetan, pihak ASDP bersama Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) mengoperasikan lebih banyak armada kapal.
Sebanyak 35 kapal penyeberangan dioperasikan sejak Sabtu pagi (14/3). Jumlah ini menjadi salah satu yang terbesar dalam operasi penyeberangan di lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Biasanya, pada kondisi sangat padat sekalipun jumlah kapal yang beroperasi maksimal hanya sekitar 32 kapal.
Selain itu, diterapkan pula sistem Tiba Bongkar Berangkat (TBB) bagi beberapa kapal dari arah Bali.
Dalam skema ini, kapal yang tiba di Ketapang hanya melakukan bongkar muatan lalu langsung kembali ke Bali tanpa membawa kendaraan dari Jawa.
“Awalnya enam kapal menggunakan skema TBB, kemudian kita tambah lagi lima sehingga total ada sebelas kapal,” terang Arief.
Sebelas kapal tersebut ditempatkan di beberapa dermaga, yakni:
- 4 kapal di Dermaga Bulusan
- 2 kapal di Dermaga Ponton
- 5 kapal di Dermaga MB III
Motor Diprioritaskan Naik Kapal
Selain penambahan kapal, ASDP juga menerapkan prioritas pengangkutan kendaraan roda dua dan kendaraan kecil.
Kebijakan tersebut diambil karena area antrean kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk memiliki keterbatasan ruang dan minim penutup bagi pemotor.
“Kita prioritaskan roda dua dan kendaraan kecil. Untuk bus dan truk kita arahkan ke kapal jenis LCM,” tegas Arief.
Skema ini akan terus diterapkan hingga antrean kendaraan di sisi Bali benar-benar terurai.
Penambahan Kapal Dinilai Belum Efektif
Namun demikian, penambahan jumlah kapal dinilai belum sepenuhnya efektif mengurai kepadatan kendaraan.
Ketua DPC Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Banyuwangi Nurjatim menyebut, banyaknya kapal justru memicu antrean di tengah laut.
Akibatnya, kapal-kapal harus menunggu giliran sandar sehingga target trip harian menjadi sulit tercapai.
“Penambahan kapal justru membuat antrean di atas laut. Banyak kapal berhenti menunggu sandar,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut justru berdampak pada semakin panjangnya antrean kendaraan di sisi Gilimanuk.
“Ini yang harus dicari formula bersama. Penambahan kapal justru membuat kemacetan di Gilimanuk semakin parah karena kapal banyak berhenti di laut,” pungkasnya. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin