RADARBANYUWANGI.ID - Lonjakan arus mudik Lebaran 2026 di jalur penyeberangan Selat Bali membuat antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk semakin panjang.
Untuk mengurai kepadatan tersebut, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang menerapkan skema tiba bongkar berangkat (TBB) pada sejumlah kapal yang beroperasi di lintas Ketapang–Gilimanuk.
Skema tersebut diberlakukan untuk mempercepat proses penyeberangan kendaraan dari Bali menuju Jawa yang dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan signifikan.
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, mengatakan saat ini terdapat 11 kapal yang menjalankan pola operasi tersebut dari total 35 kapal yang beroperasi di lintasan penyeberangan Selat Bali.
“Dari total 35 kapal yang dioperasikan di lintas Ketapang-Gilimanuk, ada 11 kapal yang kini menjalankan skema tiba bongkar berangkat,” kata Arief, Minggu (15/3/2026).
Skema TBB Percepat Arus Penyeberangan
Dalam skema TBB, kapal yang tiba di Pelabuhan Ketapang hanya menurunkan seluruh muatan kendaraan tanpa melakukan proses pemuatan kembali.
Setelah seluruh kendaraan turun, kapal langsung kembali berlayar menuju Pelabuhan Gilimanuk untuk mengangkut kendaraan berikutnya.
Dengan pola ini, waktu sandar kapal di pelabuhan dapat dipersingkat sehingga frekuensi perjalanan kapal menjadi lebih cepat.
ASDP mulai menerapkan skema tersebut sejak Sabtu (14/3/2026) dengan mengoperasikan enam kapal.
Namun melihat antrean kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk yang semakin panjang, jumlah kapal yang menerapkan skema tersebut kemudian ditambah menjadi 11 kapal.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat distribusi kendaraan yang hendak menyeberang dari Bali menuju Jawa.
Lebih dari 200 Ribu Penumpang Telah Menyeberang
Arief menjelaskan bahwa kepadatan arus mudik di jalur penyeberangan Selat Bali meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data kumulatif sejak H-10 hingga H-7 Lebaran, tercatat lebih dari 200.000 penumpang telah diseberangkan dari Bali menuju Jawa melalui Pelabuhan Gilimanuk.
Selain itu, tercatat pula:
- Lebih dari 35.000 sepeda motor telah menyeberang
- Sekitar 17.000 kendaraan kecil juga telah meninggalkan Bali menuju Jawa
Lonjakan arus kendaraan tersebut diperkirakan masih akan terus meningkat hingga beberapa hari ke depan.
Kendaraan Roda Dua Meningkat Tajam
Menurut Arief, peningkatan paling signifikan terjadi pada kendaraan roda dua.
Jumlah sepeda motor yang menyeberang dari Bali menuju Jawa meningkat sekitar 32 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, kendaraan roda empat mengalami peningkatan sekitar 11 persen.
“Peningkatan paling signifikan terjadi pada kendaraan roda dua, sekitar 32 persen dibandingkan tahun lalu. Sedangkan kendaraan roda empat meningkat sekitar 11 persen,” jelasnya.
Lonjakan Dipicu Penutupan Pelabuhan Saat Nyepi
Lonjakan kendaraan yang meninggalkan Bali juga dipicu oleh jadwal penutupan penyeberangan menjelang Hari Raya Nyepi.
Penyeberangan di lintas Gilimanuk–Ketapang dijadwalkan ditutup pada 18 hingga 20 Maret 2026.
Karena itu, banyak pemudik memilih meninggalkan Bali lebih awal agar tidak terjebak penutupan pelabuhan.
“Prediksinya peningkatan masih akan terjadi sampai tanggal 17 Maret. Bahkan tadi malam arus kendaraan dari Gilimanuk masih cukup deras,” ujar Arief.
Kemacetan Panjang Hingga 32 Kilometer
Sementara itu, kepadatan arus kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk menyebabkan kemacetan panjang hingga 32 kilometer.
Antrean kendaraan bahkan dilaporkan mencapai wilayah Kota Negara, Kabupaten Jembrana.
Kemacetan didominasi oleh mobil pribadi, bus penumpang, serta truk pengangkut barang yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa.
Kondisi tersebut membuat banyak pemudik harus menunggu berjam-jam sebelum bisa mencapai pelabuhan.
Warga Manfaatkan Kemacetan Jadi Tukang Ojek Dadakan
Kemacetan panjang di jalur nasional Denpasar–Gilimanuk juga dimanfaatkan oleh sejumlah warga sekitar untuk mencari penghasilan tambahan.
Di sepanjang jalan, terutama di wilayah Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, banyak warga menawarkan jasa ojek dadakan kepada pemudik yang ingin lebih cepat mencapai pelabuhan.
Salah satunya Ketut Oki (46) yang mulai menawarkan jasa ojek setelah melihat banyak pemudik putus asa menunggu di kendaraan.
“Saya lihat banyak pemudik keluar dari bus dan travel lalu berjalan kaki menuju pelabuhan. Saya coba tawarkan jasa ojek dan ternyata mereka sangat antusias,” ujarnya.
Menurut Oki, tarif ojek yang ia tawarkan bersifat sukarela sesuai keikhlasan penumpang.
“Ada yang memberi Rp100 ribu, ada juga Rp150 ribu,” katanya.
Pedagang Dadakan Raup Keuntungan
Selain jasa ojek, kemacetan panjang juga membawa rezeki bagi warga yang berjualan makanan dan minuman di sepanjang jalur menuju pelabuhan.
Puluhan pedagang tampak menjajakan berbagai makanan seperti:
- nasi jinggo
- kopi hangat
- air mineral
- camilan ringan
Barang dagangan tersebut laris dibeli oleh sopir truk maupun pemudik yang mulai kelelahan dan kelaparan setelah terjebak antrean panjang.
Wayan Netri (48), warga Desa Kaliakah, mengaku sengaja membuka lapak kopi di pinggir jalan setelah melihat kemacetan yang tidak biasa.
“Tumben macetnya sampai ke desa kami. Kasihan lihat sopir truk menunggu lama, jadi kami jual kopi dan makanan,” ujarnya.
Polisi Terus Berupaya Mengurai Kemacetan
Hingga Minggu siang, kepadatan kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk masih belum sepenuhnya terurai.
Petugas kepolisian dari Polres Jembrana terus melakukan pengaturan lalu lintas di sejumlah titik rawan kemacetan.
Upaya rekayasa lalu lintas dan pengaturan jalur kendaraan terus dilakukan agar arus kendaraan menuju pelabuhan dapat bergerak lebih lancar.
Pihak berwenang juga mengimbau para pemudik untuk tetap bersabar dan mengikuti arahan petugas di lapangan demi kelancaran arus mudik Lebaran 2026. (*)
Editor : Ali Sodiqin