RADARBANYUWANGI.ID - Aktivitas gempa bumi di wilayah Indonesia kembali meningkat.
Dalam kurun waktu sekitar 24 jam terakhir, ratusan gempa kecil hingga menengah tercatat terjadi di berbagai wilayah Nusantara.
Data real-time yang dirilis oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan gempa tersebar mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua.
Sebagian besar gempa memiliki magnitudo kecil antara 2,0 hingga 4,0, namun beberapa di antaranya tercatat memiliki kekuatan di atas magnitudo 4.
Gempa Terbesar Mencapai Magnitudo 5,1
Dari ratusan aktivitas seismik tersebut, salah satu gempa terbesar tercatat berkekuatan magnitudo 5,1 yang terjadi di wilayah Kepulauan Kuril pada Minggu (15/3/2026) dini hari.
Gempa tersebut memiliki kedalaman sekitar 134 kilometer di bawah permukaan laut.
Sementara di wilayah Indonesia sendiri, sejumlah gempa dengan magnitudo 4 hingga 4,7 tercatat terjadi di beberapa kawasan seperti:
- Halmahera – magnitudo 4,7
- Laut Banda – magnitudo 4,1
- Pulau Jawa – magnitudo 4,3
- Maluku Utara – magnitudo sekitar 4
Meski demikian, gempa-gempa tersebut umumnya terjadi pada kedalaman menengah hingga dalam sehingga tidak memicu kerusakan.
Jawa dan Sumatra Jadi Wilayah Paling Aktif
Berdasarkan data seismik, aktivitas gempa paling sering terjadi di kawasan Pulau Jawa dan Sumatra.
Beberapa gempa tercatat terjadi di wilayah selatan Jawa dengan kedalaman rata-rata antara 10 hingga 50 kilometer.
Gempa juga terdeteksi di wilayah Sumatra Selatan, khususnya di zona subduksi yang berada di sepanjang pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Selain itu, sejumlah gempa juga terjadi di perairan sekitar Selat Sunda, wilayah yang dikenal sebagai zona tektonik aktif.
Laut Banda dan Nusa Tenggara Turut Bergetar
Aktivitas gempa juga cukup intens terjadi di kawasan Indonesia timur, terutama di wilayah Laut Banda.
Wilayah ini dikenal sebagai salah satu zona gempa terdalam di dunia. Beberapa gempa tercatat memiliki kedalaman hingga 700 kilometer, yang menandakan aktivitas pada lempeng tektonik yang menukik ke dalam mantel bumi.
Selain Laut Banda, aktivitas gempa juga terdeteksi di kawasan:
- Sumbawa
- Flores
- Sumba
- Timor
Mayoritas gempa di wilayah ini berkekuatan kecil dan tidak menimbulkan dampak signifikan.
Sulawesi dan Papua Juga Alami Aktivitas Seismik
Selain wilayah barat dan timur Indonesia, aktivitas gempa juga terdeteksi di wilayah Sulawesi serta Papua Barat.
Beberapa gempa terjadi di sekitar Semenanjung Minahasa, serta kawasan pesisir utara Papua.
Gempa-gempa tersebut umumnya berkekuatan kecil dengan magnitudo sekitar 2 hingga 3 dan kedalaman bervariasi antara 5 hingga 50 kilometer.
Indonesia Memang Rawan Gempa
Para ahli geologi menyebut tingginya aktivitas gempa di Indonesia bukanlah hal yang mengejutkan. Hal ini disebabkan posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire.
Wilayah ini merupakan pertemuan beberapa lempeng tektonik besar dunia, yaitu:
- Lempeng Indo-Australia
- Lempeng Eurasia
- Lempeng Pasifik
- Lempeng Filipina
Pertemuan lempeng-lempeng tersebut memicu aktivitas tektonik yang tinggi, sehingga gempa bumi kerap terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Sebagian Besar Gempa Tidak Terasa
BMKG menegaskan bahwa sebagian besar gempa yang tercatat memiliki magnitudo kecil sehingga tidak dirasakan oleh masyarakat.
Gempa kecil tersebut biasanya hanya terekam oleh alat seismograf yang dimiliki jaringan pemantauan gempa.
Namun demikian, masyarakat tetap diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi gempa yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Pentingnya Edukasi Mitigasi Bencana
Pakar kebencanaan menilai edukasi mitigasi gempa sangat penting bagi masyarakat Indonesia.
Langkah sederhana seperti mengetahui jalur evakuasi, memahami prosedur keselamatan saat gempa, serta memperhatikan informasi resmi dari BMKG dinilai dapat mengurangi risiko korban saat terjadi bencana.
Dengan aktivitas seismik yang tinggi seperti saat ini, pemantauan gempa secara real-time menjadi sangat penting agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang cepat dan akurat.
BMKG juga terus mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya, serta selalu mengikuti perkembangan terbaru melalui kanal resmi lembaga tersebut. (*)
Editor : Ali Sodiqin