RADARBANYUWANGI.ID - Pergerakan arus mudik dari Bali menuju Pulau Jawa melalui lintasan penyeberangan Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang Banyuwangi mengalami lonjakan drastis. Antrean kendaraan bahkan mengular hingga puluhan kilometer dari pelabuhan.
Hingga pembaruan data Sabtu (14/3/2026), antrean kendaraan dilaporkan telah mencapai wilayah Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Panjang antrean diperkirakan mencapai sekitar 25 kilometer dari area Pelabuhan Gilimanuk.
Ribuan kendaraan memadati kawasan pelabuhan sejak beberapa hari terakhir. Kepadatan arus didominasi sepeda motor dan mobil pribadi milik pemudik yang ingin kembali ke Pulau Jawa sebelum penutupan operasional penyeberangan saat Hari Raya Nyepi.
Seluruh Area Parkir Pelabuhan Penuh
Pantauan di lokasi pada Sabtu (14/3) menunjukkan seluruh kantong parkir di dalam area Pelabuhan Gilimanuk telah terisi penuh oleh kendaraan pemudik.
Tidak hanya sepeda motor dan mobil pribadi, antrean panjang juga diisi oleh bus antarkota serta truk logistik yang hendak menyeberang menuju Jawa.
Deretan kendaraan tampak memenuhi hampir seluruh area pelabuhan, termasuk jalur antrean menuju dermaga kapal feri.
Data produksi penyeberangan selama 24 jam terakhir hingga Sabtu (14/3) menunjukkan peningkatan aktivitas penyeberangan yang cukup signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Lonjakan volume kendaraan ini menjadi indikasi meningkatnya mobilitas masyarakat yang ingin meninggalkan Bali sebelum pemberlakuan pembatasan operasional penyeberangan menjelang Hari Raya Nyepi.
Antrean Panjang Sejak Awal Pekan
Lonjakan kendaraan mulai terasa sejak Selasa sore (10/3) hingga Rabu pagi (11/3). Pada periode tersebut, arus kendaraan yang menuju pelabuhan meningkat tajam.
Antrean panjang didominasi kendaraan pribadi milik pemudik serta kendaraan angkutan barang yang hendak menyeberang lebih awal.
Akibat kepadatan tersebut, banyak pengendara harus menunggu berjam-jam untuk bisa masuk ke kapal penyeberangan.
“Antre dari jam empat subuh, sampai hampir jam delapan pagi ini belum juga menyeberang,” keluh Abdul Kholik, pemudik asal Kediri yang hendak pulang bersama keluarganya.
Berdasarkan kondisi di lapangan, waktu tunggu kendaraan untuk dapat naik ke kapal bahkan diperkirakan mencapai lima jam pada saat puncak kepadatan.
Truk Logistik Ikut Padati Antrean
Selain pemudik, lonjakan kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk juga dipicu oleh meningkatnya aktivitas angkutan barang.
Banyak truk logistik memilih menyeberang lebih awal untuk menghindari aturan pembatasan kendaraan barang yang mulai diberlakukan sejak Jumat (13/3).
Pembatasan tersebut menyasar kendaraan berat seperti truk sumbu tiga atau lebih, kendaraan gandengan atau tempelan, serta truk yang mengangkut material bangunan.
Para sopir truk memilih antre lebih awal agar tidak terjebak pembatasan operasional kendaraan barang.
“Kalau tidak cepat pulang sekarang, keburu dilarang lewat nanti,” ujar Eko, sopir truk tronton tujuan Surabaya yang ikut mengantre di jalur kendaraan berat.
ASDP Siagakan 55 Kapal
Manajer Usaha PT ASDP Indonesia Ferry Pelabuhan Gilimanuk, Didi Juliansyah, mengonfirmasi adanya lonjakan signifikan kendaraan yang hendak menyeberang menuju Pulau Jawa.
Menurut dia, antrean kendaraan mulai berangsur berkurang pada Rabu siang setelah operasional penyeberangan ditingkatkan.
Untuk mengantisipasi lonjakan arus mudik, pihak ASDP kini menyiagakan sebanyak 55 kapal feri yang beroperasi di lintasan Gilimanuk–Ketapang.
“Kami memprioritaskan kendaraan roda dua dan mobil kecil agar arus pemudik bisa bergerak lebih cepat,” ujar Didi.
Optimalisasi operasional kapal dilakukan agar proses penyeberangan dapat berlangsung lebih cepat serta mampu mengurai antrean kendaraan yang terus bertambah.
Puncak Arus Diprediksi 15–16 Maret
ASDP memperkirakan puncak arus kendaraan yang menyeberang dari Bali menuju Jawa akan terjadi pada Minggu (15/3) hingga Senin (16/3).
Periode tersebut menjadi waktu terakhir bagi masyarakat untuk menyeberang sebelum operasional pelabuhan dihentikan sementara saat Hari Raya Nyepi.
Penutupan operasional penyeberangan dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap Hari Raya Nyepi yang membuat seluruh aktivitas di Bali berhenti total selama 24 jam.
“Kami mengimbau masyarakat untuk mudik lebih awal agar tidak terjebak antrean panjang, mengingat akan ada penutupan sementara operasional pelabuhan saat Nyepi,” tambah Didi.
Dengan kondisi antrean yang masih berpotensi meningkat, masyarakat yang hendak menyeberang melalui lintasan Gilimanuk–Ketapang diminta memperhitungkan waktu perjalanan serta memantau perkembangan arus penyeberangan sebelum berangkat.
Langkah tersebut dinilai penting agar perjalanan mudik dapat berlangsung lebih lancar dan aman di tengah tingginya mobilitas masyarakat menjelang Nyepi dan Lebaran 2026. (*)
Editor : Ali Sodiqin