RADARBANYUWANGI.ID – Arus mudik Lebaran 2026 di lintasan penyeberangan Jawa–Bali mulai terasa.
Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan dan penumpang, operator penyeberangan menyiagakan kapal feri berkapasitas besar atau kapal jumbo di lintasan Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk Bali.
Langkah ini dilakukan agar antrean kendaraan yang kerap terjadi saat musim mudik dapat diminimalisasi.
Selain itu, penggunaan kapal berkapasitas besar diharapkan mampu mengangkut lebih banyak kendaraan dan penumpang dalam satu kali perjalanan.
General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 55 kapal yang tersedia untuk melayani lintasan Ketapang–Gilimanuk. Namun, tidak seluruh kapal dioperasikan setiap hari.
Dalam kondisi normal, jumlah kapal yang beroperasi berkisar 28 unit. Saat arus kendaraan meningkat seperti pada periode mudik Lebaran, jumlah kapal yang beroperasi akan ditambah menjadi sekitar 30 hingga 32 unit.
“Kami bekerja sama dengan BPTD dan KSOP agar selama periode H-7 Lebaran hingga setelah Nyepi seluruh kapal besar yang ada di Ketapang bisa beroperasi,” ujar Arief, Sabtu (14/3/2026).
Kapal Jumbo Berkapasitas 200 Kendaraan
Menurut Arief, terdapat delapan kapal feri berukuran jumbo yang tersedia di lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk.
Kapal-kapal tersebut memiliki kapasitas angkut yang jauh lebih besar dibanding kapal feri reguler.
Dalam satu kali perjalanan, kapal jumbo mampu mengangkut sekitar 200 unit kendaraan campuran, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga kendaraan logistik.
Dengan kapasitas tersebut, keberadaan kapal besar dinilai sangat efektif untuk mempercepat proses pengangkutan kendaraan dari pelabuhan, sehingga antrean panjang yang biasanya terjadi saat puncak mudik dapat dikurangi.
“Semakin banyak kapal besar yang beroperasi, maka daya tampung kendaraan dan penumpang akan meningkat. Harapannya antrean kendaraan di pelabuhan bisa lebih cepat terurai,” jelasnya.
Arief juga menyebutkan bahwa tidak menutup kemungkinan pihaknya akan mendatangkan tambahan kapal jika situasi di lapangan membutuhkan.
Namun, untuk sementara jumlah armada yang sudah disiagakan dinilai masih cukup untuk mengakomodasi kebutuhan penyeberangan selama musim mudik.
“Kapal yang saat ini disiagakan masih bisa dioperasikan untuk membantu meng-cover kebutuhan penyeberangan,” ungkapnya.
Buffer Zone Disiapkan untuk Antisipasi Antrean
Selain menambah armada kapal, ASDP juga menyiapkan sejumlah buffer zone atau area parkir sementara di luar pelabuhan untuk menampung kendaraan apabila terjadi penumpukan.
Buffer zone tersebut berada di kawasan Watudodol dan Dermaga Bulusan. Area ini difungsikan sebagai tempat parkir sementara kendaraan sebelum memasuki area pelabuhan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah antrean kendaraan meluber hingga ke jalan raya.
“Kami juga bekerja sama dengan sejumlah instansi dan dinas terkait yang memiliki lokasi cadangan jika kondisi antrean menjadi ekstrem,” kata Arief.
Setiap buffer zone memiliki kapasitas tampung yang berbeda-beda. Beberapa lokasi mampu menampung sekitar 50 hingga 100 kendaraan, sementara lokasi yang lebih besar dapat menampung hingga 200 kendaraan.
Salah satu buffer zone terbesar berada di Dermaga Bulusan yang mampu menampung ratusan kendaraan logistik seperti truk berukuran besar.
Area tersebut juga akan dimanfaatkan saat Pelabuhan Ketapang ditutup sementara karena perayaan Hari Raya Nyepi di Bali. Pada periode tersebut, kendaraan yang tidak dapat menyeberang akan dialihkan ke lokasi penampungan sementara.
Arus Kendaraan Mulai Meningkat
Sementara itu, memasuki H-7 Lebaran, arus kendaraan di Pelabuhan Ketapang mulai mengalami peningkatan.
Pada Sabtu (14/3), kendaraan pribadi dan bus tampak mendominasi antrean menuju kapal penyeberangan yang akan berangkat ke Bali.
Kepadatan kendaraan bahkan sudah terlihat sejak pagi hari dan memadati area parkir pelabuhan. Kondisi ini diperkirakan akan terus meningkat menjelang puncak arus mudik Lebaran.
Kepala Cabang PT ASDP Indonesia Ferry Ketapang, Arief Eko, mengatakan pihaknya telah menyiapkan total 55 armada kapal untuk melayani angkutan Lebaran tahun ini.
Menurut dia, lonjakan jumlah penumpang sebenarnya sudah mulai terjadi sejak H-8 Lebaran, tepatnya pada Jumat (13/3/2026).
“Kita sudah siapkan 55 armada selama angkutan Lebaran 2026. Lonjakan penumpang di lintasan Ketapang–Gilimanuk sudah terjadi mulai kemarin,” ujarnya.
Lebih dari 64 Ribu Penumpang Menyeberang
Berdasarkan data Posko Angkutan Lebaran ASDP Ketapang Banyuwangi, pada H-8 tercatat sebanyak 64.050 penumpang telah menyeberang melalui lintasan Ketapang–Gilimanuk, baik dari Jawa menuju Bali maupun sebaliknya.
Jumlah tersebut terdiri dari ribuan kendaraan roda dua, bus, serta kendaraan logistik lainnya.
Dari arah Bali menuju Jawa tercatat sebanyak 37.877 penumpang menyeberang dengan 6.066 sepeda motor serta 383 unit bus.
Sementara itu, dari Jawa menuju Bali tercatat 26.173 penumpang dengan 561 kendaraan roda dua dan 635 kendaraan lainnya.
ASDP memprediksi angka tersebut akan terus meningkat seiring mendekatnya puncak arus mudik Lebaran 2026.
Karena itu, berbagai skema pengaturan lalu lintas kendaraan dan pengoperasian kapal telah disiapkan sejak dini untuk memastikan kelancaran penyeberangan di salah satu jalur transportasi tersibuk di Indonesia tersebut. (ram/aif)
Editor : Ali Sodiqin