RADARBANYUWANGI.ID – Lonjakan kendaraan logistik dari Pulau Jawa menuju Bali mulai terasa di Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi.
Untuk mengantisipasi kepadatan penyeberangan, otoritas pelabuhan langsung menerapkan skema padat dengan mengaktifkan Dermaga Bulusan sebagai dermaga bongkar muat tambahan.
Langkah tersebut mulai diberlakukan sejak Kamis (12/3). Aktivasi Dermaga Bulusan dilakukan setelah ratusan truk logistik memadati kawasan pelabuhan sejak pagi hari.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan berat memenuhi kantong parkir di area Dermaga Bulusan. Secara bertahap, truk-truk tersebut diangkut menggunakan kapal berkapasitas besar menuju Pulau Bali.
Pada hari yang sama, kebijakan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang penataan lalu lintas selama periode angkutan Lebaran mulai diberlakukan. Kebijakan tersebut membuat para sopir truk berusaha secepat mungkin menyeberang sebelum pembatasan kendaraan berat berlaku.
Koordinator Satuan Pelayanan (Korsatpel) BPTD Wilker Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho mengatakan bahwa pengoperasian Dermaga Bulusan menjadi solusi untuk mengurai kepadatan kendaraan logistik di pelabuhan.
Menurutnya, tiga dermaga LCM yang selama ini digunakan belum mampu mengangkut seluruh kendaraan secara optimal karena tingginya volume truk yang datang.
“Karena jumlah kendaraan logistik sangat padat, Dermaga Bulusan langsung kami operasikan untuk mempercepat pengangkutan truk-truk menuju Bali,” ujarnya.
Situasi semakin kompleks karena sempat terjadi gangguan operasional di area dermaga utama. Pada Kamis malam, sebuah truk dilaporkan mengalami patah as di dekat dermaga LCM sehingga sempat menghambat aktivitas penyeberangan.
Akibat insiden tersebut, dari tiga dermaga yang biasanya beroperasi hanya dua yang dapat digunakan.
“Ditambah lagi tadi malam ada truk yang patah as di dekat dermaga LCM. Sehingga dari tiga dermaga hanya dua yang bisa beroperasi. Ini ikut mengganggu aktivitas,” jelas Bayu.
Ia menambahkan, kepadatan lalu lintas di pelabuhan juga dipicu oleh penerapan pembatasan angkutan barang sesuai SKB yang mulai berlaku pada periode angkutan Lebaran.
Kondisi tersebut membuat banyak sopir logistik memilih menyeberang lebih awal sebelum aturan pembatasan kendaraan diberlakukan secara penuh.
Selain mengoperasikan Dermaga Bulusan, pihak otoritas pelabuhan juga meningkatkan jumlah kapal yang melayani penyeberangan lintas Ketapang–Gilimanuk.
Jika pada hari biasa terdapat sekitar 28 kapal yang beroperasi secara reguler, saat ini jumlah kapal yang dikerahkan ditingkatkan menjadi 30 unit.
Beberapa kapal berkapasitas besar juga mulai dioperasikan secara intensif untuk mengangkut kendaraan logistik dalam jumlah lebih besar.
Di antaranya adalah Dharma Kencana 9, KMP Bontang, serta KMP Jambo X yang mulai dijadwalkan beroperasi secara reguler.
Kapal-kapal dengan kapasitas di atas 2.000 gross tonnage (GT) tersebut dinilai mampu mempercepat distribusi kendaraan selama periode angkutan Lebaran.
Selama masa angkutan Lebaran, kapal-kapal berkapasitas besar akan diberi kesempatan beroperasi lebih sering agar jumlah kendaraan yang dapat diangkut semakin banyak.
“Skema yang diterapkan sekarang sudah masuk mode padat. Saat ini ada 30 kapal yang beroperasi, dan jika volume kendaraan terus meningkat, jumlah kapal bisa kami tambah hingga maksimal 32 kapal,” tegas Bayu.
Sementara itu, data produksi penyeberangan yang dihimpun oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang menunjukkan peningkatan aktivitas yang cukup signifikan.
Sejak Kamis malam (12/3) hingga Jumat pagi (13/3), tercatat sebanyak 20.733 penumpang menyeberang dari Ketapang menuju Bali.
Selain itu, terdapat 534 kendaraan roda dua, 1.525 kendaraan roda empat, 478 unit bus, serta 2.517 truk logistik yang menyeberang melalui jalur tersebut.
Sementara dari arah sebaliknya, yakni Pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang, tercatat sebanyak 32.393 penumpang melakukan perjalanan.
Jumlah kendaraan yang menyeberang dari Bali ke Jawa meliputi 4.933 sepeda motor, 2.638 kendaraan roda empat, 361 bus, serta 2.300 truk logistik.
General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko mengatakan bahwa peningkatan arus kendaraan dari Jawa menuju Bali saat ini didominasi oleh truk logistik.
Sebaliknya, dari arah Bali menuju Jawa peningkatan terjadi secara lebih bervariasi, baik dari jumlah penumpang maupun kendaraan pribadi.
“Kenaikan sudah mencapai sekitar 14 persen dibanding hari sebelumnya. Peningkatan terbesar memang berasal dari kendaraan logistik,” ujarnya.
Menurut Arief, kondisi tersebut terjadi karena para sopir truk berusaha menyeberang lebih awal untuk menghindari pembatasan kendaraan berat yang mulai diberlakukan selama masa angkutan Lebaran.
“Para sopir logistik mengejar penyeberangan sebelum pembatasan sesuai SKB mulai berlaku,” tandasnya.
Dengan skema padat yang telah diterapkan serta tambahan dermaga dan kapal, pihak otoritas pelabuhan berharap arus penyeberangan di lintasan Ketapang–Gilimanuk dapat tetap berjalan lancar meskipun terjadi lonjakan kendaraan menjelang arus mudik Lebaran. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin