Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

BREAKING NEWS: 4 Hari Lagi Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Tutup

Ali Sodiqin • Sabtu, 14 Maret 2026 | 12:51 WIB

KEJAR WAKTU: Deretan truk mememuhi kantong parkir Pelabuhan Ketapang untuk mengirim barang ke Bali. Kamis 29 Maret nanti pelabuhan ditutup total.
KEJAR WAKTU: Deretan truk mememuhi kantong parkir Pelabuhan Ketapang untuk mengirim barang ke Bali. Kamis 29 Maret nanti pelabuhan ditutup total.

RADARBANYUWANGI.ID - Pulau Bali bersiap memasuki masa hening total saat perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Perayaan suci umat Hindu tersebut tinggal empat hari lagi, tepatnya pada Kamis, 19 Maret 2026.

Pada hari tersebut, seluruh aktivitas di Pulau Dewata akan berhenti sepenuhnya selama 24 jam penuh, mulai 19 Maret 2026 pukul 05.59 WITA hingga 20 Maret 2026 pukul 06.00 WITA.

Selama rentang waktu itu, Bali benar-benar berada dalam kondisi sunyi tanpa aktivitas masyarakat. Jalanan yang biasanya ramai kendaraan akan kosong tanpa lalu lalang manusia maupun kendaraan.

Tidak hanya aktivitas masyarakat, seluruh kegiatan ekonomi, transportasi, hingga pariwisata juga dihentikan sementara demi menghormati hari suci umat Hindu tersebut.

Bandara Ngurah Rai hingga Pelabuhan Tutup Total

Saat Nyepi berlangsung, hampir seluruh fasilitas publik di Bali menghentikan operasionalnya.

Bandara internasional utama di Bali, yakni Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, juga menutup seluruh aktivitas penerbangan selama satu hari penuh.

Penutupan tersebut berlaku untuk seluruh penerbangan, baik domestik maupun internasional. Selama 24 jam perayaan Nyepi, tidak ada pesawat yang mendarat maupun lepas landas dari Bali.

Selain bandara, jalur transportasi laut juga ikut berhenti beroperasi. Penyeberangan di Selat Bali antara Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Ketapang biasanya ditutup mulai H-1 Nyepi pada sore hari.

Artinya, masyarakat yang ingin keluar dari Bali harus menyeberang sebelum penutupan pelabuhan tersebut.

Selain itu, berbagai fasilitas publik lain seperti pusat perbelanjaan, restoran, objek wisata, hingga tempat hiburan juga menghentikan aktivitasnya.

Kondisi ini menjadikan Bali sebagai salah satu wilayah di dunia yang benar-benar “berhenti beraktivitas” selama satu hari penuh.

Banyuwangi Jadi Tujuan Favorit Warga yang Keluar dari Bali

Menjelang Nyepi, fenomena perpindahan warga maupun wisatawan dari Bali menuju Pulau Jawa kembali terjadi.

Ribuan orang memilih meninggalkan Bali sebelum hari penyepian dimulai untuk menghindari penutupan total aktivitas selama 24 jam.

Wilayah Banyuwangi menjadi salah satu tujuan favorit karena lokasinya paling dekat dengan Bali dan mudah diakses melalui jalur penyeberangan laut.

Arus kendaraan biasanya meningkat di jalur penyeberangan Gilimanuk–Ketapang. Kendaraan pribadi, bus pariwisata, hingga wisatawan backpacker memadati pelabuhan untuk menyeberang ke Jawa Timur.

Sebagian orang memanfaatkan momen tersebut untuk berlibur sementara waktu di Banyuwangi sebelum kembali ke Bali setelah Nyepi selesai.

Makna Nyepi bagi Umat Hindu

Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka bagi umat Hindu. Perayaan ini menggunakan kalender Saka yang dimulai sejak tahun 78 Masehi dan berbeda dengan kalender Masehi yang digunakan secara umum.

Bagi umat Hindu, Nyepi bukan sekadar pergantian tahun, tetapi juga momentum untuk melakukan penyucian diri, introspeksi, serta memperbaiki hubungan manusia dengan alam semesta.

Hari suci ini dimaknai sebagai proses penyucian alam semesta yang disebut Bhuana Agung, sekaligus penyucian diri manusia atau Bhuana Alit.

Suasana hening tanpa aktivitas diharapkan dapat membantu umat melakukan perenungan mendalam atau mulatsalira, yakni melihat kembali perjalanan hidup dan memperbaiki diri di tahun yang baru.

Empat Pantangan Catur Brata Penyepian

Selama Nyepi, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian.

Empat pantangan tersebut meliputi:

Seluruh aturan tersebut berlaku bagi semua orang yang berada di Bali, termasuk wisatawan.

Pengawasan dilakukan oleh petugas keamanan adat Bali yang dikenal sebagai pecalang yang berjaga di berbagai wilayah selama Nyepi berlangsung.

Rangkaian Ritual Sebelum Nyepi

Sebelum Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalani sejumlah rangkaian ritual keagamaan.

Salah satu yang paling dikenal adalah Melasti, yaitu prosesi penyucian diri dan benda-benda sakral di sumber air seperti laut, danau, atau mata air.

Melalui ritual ini, umat Hindu memohon pembersihan dari energi negatif serta kesucian menjelang pergantian Tahun Baru Saka.

Sehari sebelum Nyepi, masyarakat Bali juga melaksanakan ritual Bhuta Yajna atau Pengerupukan.

Pada malam pengerupukan, masyarakat mengarak patung raksasa yang dikenal sebagai Ogoh-ogoh di berbagai wilayah Bali.

Arak-arakan tersebut melambangkan upaya mengusir Bhuta Kala, simbol energi negatif yang diyakini dapat mengganggu keseimbangan alam.

Tradisi Ngembak Geni Setelah Nyepi

Setelah masa hening berakhir, umat Hindu melaksanakan tradisi Ngembak Geni pada keesokan harinya.

Dalam tradisi ini, masyarakat saling mengunjungi keluarga, kerabat, maupun tetangga untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial.

Ngembak Geni juga menjadi simbol dimulainya kehidupan baru setelah proses penyucian diri selama Nyepi.

Masyarakat menyambut Tahun Baru Saka dengan semangat baru, kedamaian, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Imbauan bagi Wisatawan yang Berada di Bali

Pemerintah daerah dan pengelola pariwisata biasanya mengimbau wisatawan domestik maupun mancanegara yang berada di Bali agar menghormati aturan selama Nyepi.

Wisatawan diminta tetap berada di area hotel atau penginapan serta menghindari aktivitas di luar ruangan.

Banyak hotel di Bali juga menyesuaikan layanan mereka selama Nyepi, seperti membatasi penggunaan lampu serta menghentikan aktivitas hiburan.

Meski demikian, bagi sebagian wisatawan, suasana Bali yang sunyi total justru menjadi pengalaman unik yang jarang ditemukan di tempat lain di dunia.

Keheningan tanpa kendaraan, tanpa kebisingan kota, serta langit malam yang lebih gelap membuat Nyepi sering disebut sebagai momen paling tenang di Pulau Dewata. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#bali #pelabuhan ditutup #bandara ngurah rai #nyepi 1942 saka #ogoh-ogoh #Pelabuhan Ketapang Gilimanuk #Catur Brata Penyepian