RADARBANYUWANGI.ID - Data astronomi terkait penentuan awal Syawal 1447 Hijriah mulai bermunculan.
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama merilis informasi hilal yang menunjukkan posisi bulan sabit muda pada 29 Ramadan 1447 H sudah berada di atas ufuk. Namun, posisinya belum memenuhi kriteria imkanur rukyah.
Data tersebut tertuang dalam dokumen Informasi Hilal Awal Syawal 1447 H yang disusun berdasarkan perhitungan falakiyah khas Nahdlatul Ulama.
Berdasarkan data tersebut, 29 Ramadan 1447 H bertepatan dengan Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 M.
Hasil penghitungan menunjukkan hilal memang sudah berada di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia.
Meski demikian, ketinggiannya masih relatif rendah sehingga belum memenuhi batas minimal visibilitas hilal yang disepakati secara astronomis.
Sabang Tertinggi, Merauke Terendah
Dalam data falakiyah tersebut disebutkan bahwa ketinggian hilal tertinggi terjadi di Kota Sabang, Provinsi Aceh.
Di wilayah paling barat Indonesia itu, tinggi hilal mar’ie tercatat 2 derajat 53 menit dengan elongasi hilal haqiqy 6 derajat 09 menit serta lama hilal di atas ufuk 14 menit 44 detik.
Sementara itu, ketinggian hilal terendah terjadi di Merauke, Papua Selatan. Di wilayah timur Indonesia tersebut, tinggi hilal mar’ie hanya mencapai 0 derajat 49 menit dengan elongasi hilal haqiqy 4 derajat 36 menit serta lama hilal 6 menit 36 detik.
Perbedaan ketinggian hilal ini dipengaruhi posisi geografis wilayah Indonesia yang membentang dari barat hingga timur.
Posisi Hilal di Jakarta
Di titik pengamatan Jakarta dengan markaz Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, yang memiliki koordinat 6º 11’ 25” Lintang Selatan dan 106º 50’ 50” Bujur Timur, ketinggian hilal tercatat 1 derajat 43 menit 54 detik.
Adapun posisi matahari saat terbenam berada pada 12 derajat 03 menit 24 detik selatan titik barat dengan elongasi hilal 5 derajat 44 menit 49 detik.
Durasi hilal berada di atas ufuk di Jakarta tercatat 10 menit 51 detik.
Sementara itu, fenomena ijtimak atau konjungsi terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 pukul 08.25.58 WIB.
Pada saat matahari terbenam, posisi matahari berada di 00 derajat 33 menit 01 detik selatan titik barat, sedangkan posisi hilal berada di 03 derajat 33 menit 03 detik selatan titik barat.
Hilal juga tercatat berada 3 derajat 00 menit 02 detik di selatan matahari dengan kondisi kemiringan ke arah utara.
Seluruh penghitungan tersebut dilakukan menggunakan metode hisab tahqiqi tadqiki ashri kontemporer yang menjadi metode falakiyah khas Nahdlatul Ulama.
Data BMKG: Hilal Masih Rendah
Selain LF PBNU, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis data perhitungan hilal awal Syawal 1447 H.
Dalam dokumen Informasi Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam 19 Maret 2026, BMKG menyebutkan konjungsi atau ijtimak terjadi pada:
- 23.23 UT
- 23.23 WIB
- 23.23 WITA
- 23.23 WIT
Konjungsi tersebut terjadi ketika bujur ekliptika Matahari dan Bulan sama, yakni 358,45 derajat.
BMKG juga mencatat bahwa waktu matahari terbenam paling awal di Indonesia pada tanggal tersebut terjadi di Waris, Papua pada pukul 17.48.13 WIT.
Sementara itu, waktu matahari terbenam paling akhir terjadi di Banda Aceh pada pukul 18.49.39 WIB.
Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan waktu matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, dapat disimpulkan bahwa konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam pada 19 Maret 2026 di seluruh Indonesia.
Ketinggian Hilal di Indonesia
BMKG mencatat ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026 berkisar antara:
- 0,91 derajat di Merauke
- 3,13 derajat di Sabang
Sedangkan elongasi geosentris berkisar antara:
- 4,54 derajat di Waris, Papua
- 6,1 derajat di Banda Aceh
Sementara itu, umur bulan saat matahari terbenam di Indonesia berada pada rentang:
- 7,41 jam di Waris, Papua
- 10,44 jam di Banda Aceh
Durasi hilal di atas ufuk saat matahari terbenam juga relatif singkat, yakni antara:
- 5,6 menit di Merauke
- 15,66 menit di Sabang
Ramadhan Berpotensi Digenapkan 30 Hari
Berdasarkan seluruh data astronomi tersebut, posisi hilal masih belum memenuhi kriteria imkanur rukyah yang menjadi standar pengamatan hilal.
Karena itu, potensi besar bulan Ramadan 1447 H akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Jika skenario tersebut terjadi, maka 1 Syawal 1447 H atau Idul Fitri 2026 berpotensi jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026.
Namun demikian, kepastian awal Syawal tetap menunggu hasil pengamatan hilal atau rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai titik pemantauan.
Selain itu, keputusan resmi pemerintah akan ditetapkan melalui sidang isbat Kementerian Agama yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 19 Maret 2026.
Hasil sidang tersebut nantinya menjadi dasar penetapan resmi hari raya Idul Fitri 1447 Hijriah di Indonesia. (*)
Editor : Ali Sodiqin