RADARBANYUWANGI.ID - Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI akhirnya memasuki babak baru. Peneliti independen Rismon Hasiholan Sianipar mengakui telah melakukan kesalahan dalam penelitian yang sebelumnya menyimpulkan adanya dugaan manipulasi digital pada ijazah Joko Widodo.
Pengakuan tersebut disampaikan Rismon setelah melakukan penelitian lanjutan atas temuannya yang sebelumnya dipublikasikan dalam buku Jokowi’s White Paper.
Dalam penelitian terbaru itu, ia justru menyimpulkan bahwa ijazah Jokowi tidak memiliki kejanggalan seperti yang sebelumnya ia nyatakan.
Rismon juga telah bertemu langsung dengan Jokowi di kediamannya di kawasan Sumber, Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (12/3) sore untuk menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf secara langsung.
Peneliti Akui Kesalahan Metodologi Analisis
Rismon mengatakan, sebagai peneliti independen ia memiliki tanggung jawab moral untuk mengoreksi kesalahan apabila hasil penelitian terbukti tidak tepat.
Ia menegaskan bahwa metodologi yang digunakan dalam penelitian sebenarnya merupakan metode yang lazim digunakan dalam kajian forensik digital. Namun dalam praktiknya, terdapat kesalahan dalam pemilihan objek penelitian.
Menurutnya, kesalahan utama terjadi karena ia menggunakan foto ijazah Jokowi yang diunggah di media sosial, bukan dokumen asli atau reproduksi yang terstandar.
Foto tersebut diunggah oleh kader Partai Solidaritas Indonesia, Dian Sandi Utama, yang kemudian dianalisis oleh Rismon.
Namun setelah penelitian lanjutan dilakukan, ia menemukan bahwa gambar tersebut telah mengalami perubahan perspektif akibat sudut pengambilan gambar dan pencahayaan.
“Kesalahan fatal yang saya lakukan adalah tidak melibatkan operasi variabel geometri seperti translasi, rotasi, dan pengaruh pencahayaan dalam analisis,” kata Rismon.
Kesalahan teknis tersebut akhirnya membuat kesimpulan awal yang dituangkan dalam buku Jokowi’s White Paper tidak valid.
Penelitian Lanjutan: Ijazah Jokowi Tidak Bermasalah
Setelah melakukan penelitian ulang dengan metode yang lebih lengkap, Rismon menyimpulkan bahwa tidak terdapat manipulasi digital pada ijazah Jokowi.
Ia menegaskan bahwa dokumen tersebut tetap memiliki keaslian sebagaimana mestinya.
“Tidak ada manipulasi digital seperti yang saya simpulkan sebelumnya. Artinya, keaslian dokumen tersebut terjaga,” ujarnya.
Karena itu, Rismon juga menyatakan akan menyanggah isi buku yang sebelumnya ia tulis dan berupaya menarik peredarannya dari publik.
Selain buku Jokowi’s White Paper, ia juga berencana membuat sanggahan terhadap buku lain yang berkaitan dengan polemik tersebut.
Minta Maaf kepada Jokowi dan Gibran
Rismon secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada Joko Widodo serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka atas polemik yang sempat muncul akibat penelitiannya.
Ia berharap klarifikasi dan permintaan maaf tersebut dapat diterima oleh kedua tokoh tersebut maupun oleh masyarakat luas.
“Dari hati yang paling dalam, saya memohon maaf kepada Bapak Joko Widodo dan Bapak Gibran Rakabuming Raka,” kata Rismon.
Ia juga menyatakan akan keluar dari polemik politik yang berkembang terkait isu ijazah Jokowi maupun Gibran.
Menurutnya, sejak awal ia tidak memiliki kepentingan politik dan merasa sempat dieksploitasi oleh pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan polemik tersebut.
Ajukan Restorative Justice
Dalam kasus hukum yang tengah berjalan, Rismon juga mengajukan permohonan restorative justice kepada pihak kepolisian.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin, membenarkan bahwa permohonan tersebut telah diajukan sejak pekan lalu.
Pihak kepolisian saat ini masih mempelajari pengajuan tersebut sebelum mengambil keputusan terkait kelanjutan proses hukum.
Dalam kasus polemik ijazah ini, penyidik membaginya ke dalam dua klaster tersangka.
Klaster pertama melibatkan sejumlah tokoh seperti Eggi Sudjana, Kurnia Tri Rohyani, Damai Hari Lubis, Rustam Effendi, dan Muhammad Rizal Fadillah.
Sementara klaster kedua melibatkan Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, serta Tifauziah Tyassuma atau yang dikenal sebagai dr Tifa.
PSI: Tuduhan Ijazah Jokowi Keliru Total
Menanggapi pengakuan Rismon, Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia, Raja Juli Antoni, mengatakan pihaknya menyambut baik klarifikasi tersebut.
Menurutnya, pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa tuduhan mengenai ijazah Jokowi yang sebelumnya beredar merupakan kekeliruan.
“Kami menyambut baik pengakuan Rismon Sianipar bahwa tuduhannya tentang ijazah Pak Jokowi palsu adalah tuduhan yang keliru total,” ujarnya.
Ia juga mempersilakan Rismon menempuh jalur restorative justice sebagai hak setiap warga negara, sembari menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum.
Respons Gibran: Ramadan Waktu Tepat Saling Memaafkan
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut merespons permintaan maaf tersebut.
Melalui pernyataan tertulis yang disampaikan oleh Biro Pers Sekretariat Wakil Presiden, Gibran menyebut bahwa momen bulan Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk saling memaafkan.
Ia juga mengapresiasi langkah Rismon yang telah melakukan klarifikasi dan meninjau kembali pernyataan yang sebelumnya disampaikan kepada publik.
Menurutnya, sikap tersebut mencerminkan kedewasaan dalam berdemokrasi serta menjadi pelajaran penting bagi masyarakat dalam menyikapi informasi di ruang publik.
Dengan perkembangan terbaru ini, polemik panjang terkait ijazah Jokowi diharapkan dapat segera menemukan penyelesaian, sekaligus menjadi pembelajaran mengenai pentingnya akurasi penelitian serta tanggung jawab akademik dalam menyampaikan temuan kepada publik. (*)
Editor : Ali Sodiqin