RADARBANYUWANGI.ID - Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia kini menghadapi tekanan serius akibat perubahan iklim dan gangguan ekosistem.
Salah satu ancaman yang semakin mendapat perhatian para peneliti adalah keberadaan spesies asing invasif atau invasive alien species (IAS).
Kehadiran spesies non-endemik yang menyebar secara tidak terkendali ini tidak hanya mengancam keberlangsungan ekosistem alami, tetapi juga berdampak luas terhadap ketahanan pangan, ekonomi masyarakat lokal, kesehatan publik, hingga keseimbangan ekologis di berbagai wilayah Indonesia.
Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer di Badan Riset dan Inovasi Nasional, Tri Atmaja, mengungkapkan bahwa perubahan iklim berperan besar dalam mempercepat dinamika invasi spesies asing tersebut.
Menurutnya, perubahan kondisi lingkungan akibat iklim global membuat banyak wilayah menjadi semakin cocok bagi pertumbuhan dan penyebaran spesies asing invasif.
“Dalam konteks inilah riset menjadi instrumen penting untuk memahami pola invasi sekaligus merumuskan strategi pengelolaan yang lebih adaptif dan berbasis bukti ilmiah,” tulis Tri dalam artikel yang dipublikasikan melalui laman resmi BRIN.
Ancaman bagi Keanekaragaman Hayati Indonesia
Tri menjelaskan bahwa spesies asing invasif didefinisikan sebagai spesies non-endemik yang kehadiran dan penyebarannya dapat mengancam ekosistem asli, keanekaragaman hayati, serta berbagai jasa ekosistem yang menopang kehidupan manusia.
Sebagai negara yang berada di wilayah ekuator dengan beragam tipe ekosistem—mulai dari sabana, hutan hujan tropis, hingga kawasan pesisir—Indonesia memiliki kerentanan tinggi terhadap gangguan ekologis yang dipicu oleh invasi spesies asing.
Dalam banyak kasus, spesies asing tersebut mampu tumbuh lebih cepat dan lebih agresif dibandingkan spesies lokal, sehingga mendominasi ruang hidup dan mengganggu keseimbangan alami ekosistem.
“Di wilayah ekuator Indonesia, spesies asing invasif telah memicu gangguan ekologis yang signifikan,” jelasnya.
Kasus Langkap di Ujung Kulon
Salah satu kasus yang menjadi perhatian serius para peneliti adalah invasi tanaman langkap di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.
Langkap atau Arenga obtusifolia merupakan tanaman dari famili palem-paleman yang berkembang sangat cepat dan mampu mendominasi ruang tumbuh di kawasan hutan.
Dominasi tanaman ini berdampak besar terhadap tumbuhan bawah yang seharusnya menjadi sumber pakan bagi berbagai satwa liar di kawasan konservasi tersebut.
Kondisi ini secara langsung mengancam ketersediaan pakan bagi satwa langka seperti Badak Jawa yang habitat alaminya berada di Ujung Kulon.
Menurut Tri, penyebaran langkap yang tidak terkendali menjadikannya salah satu spesies asing yang paling bermasalah secara ekologis karena mengganggu keseimbangan habitat satwa kunci di kawasan tersebut.
Invasi Akasia Berduri di Baluran
Kasus lain terjadi di Taman Nasional Baluran yang dikenal sebagai “Africa van Java” karena lanskap sabananya yang luas.
Di kawasan ini, spesies tanaman akasia berduri atau Vachellia nilotica berkembang secara tidak terkendali.
Tanaman asal Afrika tersebut sebenarnya diperkenalkan pada tahun 1969 sebagai firebreak atau penghalang alami untuk mencegah penyebaran kebakaran dari sabana ke kawasan hutan tropis.
Namun dalam perkembangannya, tanaman ini justru menyebar luas dan mendominasi sabana Bekol serta kawasan sabana lainnya hingga ribuan hektare.
“Invasi akasia berduri mengancam keberadaan padang rumput alami yang menjadi sumber pakan herbivor besar seperti Banteng Jawa, rusa, dan kerbau, serta mengurangi luas habitat penting bagi satwa liar,” tulis Tri.
Akibat dominasi tanaman tersebut, padang rumput yang selama ini menjadi sumber makanan utama satwa herbivora semakin berkurang.
Tantangan Pengendalian Spesies Invasif
Upaya pengendalian sebenarnya telah dilakukan di kedua kawasan konservasi tersebut.
Di Ujung Kulon, pengelola kawasan melakukan pemotongan manual terhadap individu dewasa maupun anakan langkap untuk mengurangi populasinya.
Sementara itu di Baluran, metode yang digunakan lebih beragam, seperti teknik oles batang, tebang oles, serta tebang bakar dengan pengolesan campuran solar dan bahan kimia pada batang akasia berduri.
Meski demikian, berbagai upaya tersebut masih menghadapi tantangan besar karena belum didukung oleh sistem penilaian risiko spesies asing invasif yang terintegrasi secara nasional.
Selama ini, pengelolaan spesies invasif di Indonesia masih cenderung bersifat reaktif, yakni melakukan tindakan pengendalian setelah invasi terjadi dan dampaknya sudah terasa.
Padahal menurut para peneliti, pengelolaan yang efektif membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis data ilmiah.
Riset Kolaboratif Internasional
Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama IPB University menginisiasi riset berskala internasional mengenai dinamika penyebaran spesies asing invasif di ekosistem ekuator.
Riset berjudul The Dynamics and Spread of Invasive Alien Species (IAS) in Equatorial Ecosystems under Climate Change ini didanai oleh Asia-Pacific Network for Global Change Research melalui skema Collaborative Regional Research Programme untuk periode Oktober 2025 hingga September 2027.
Penelitian tersebut melibatkan sejumlah institusi internasional, termasuk The University of Tokyo, Universiti Putra Malaysia, dan Universiti Teknologi Malaysia.
Tujuan utama riset ini adalah memahami dinamika dan pola penyebaran spesies asing invasif, sekaligus menyediakan dasar ilmiah bagi strategi pengelolaan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Pendekatan Ilmiah Berbasis Teknologi
Dalam pelaksanaannya, riset ini menggunakan pendekatan komprehensif yang mencakup berbagai metode ilmiah modern.
Beberapa di antaranya adalah analisis genomik untuk memahami karakter genetik spesies invasif, pemantauan lapangan (in situ observation), serta pemodelan risiko berbasis data satelit dan big Earth data.
Selain itu, para peneliti juga melakukan simulasi dinamika penyebaran spesies asing invasif serta mengembangkan strategi pengelolaan berbasis Nature-based Solutions yang melibatkan masyarakat dan pengelola kawasan konservasi.
Pendekatan ini diharapkan mampu mengatasi keterbatasan sistem penilaian risiko yang selama ini masih terfragmentasi di Indonesia.
“Riset ini juga menekankan pentingnya strategi pengelolaan bersama yang melibatkan peneliti, pengelola kawasan konservasi, dan pengambil kebijakan,” tulis Tri.
Menuju Kebijakan Nasional yang Lebih Adaptif
Melalui kolaborasi antara peneliti nasional dan internasional, penelitian ini diharapkan mampu memperkuat dasar ilmiah dalam pengelolaan spesies asing invasif di Indonesia.
Hasil riset tersebut nantinya dapat menjadi landasan penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan nasional yang lebih adaptif terhadap ancaman perubahan iklim dan gangguan ekosistem.
Selain itu, temuan dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan panduan praktik terbaik bagi pengelolaan kawasan konservasi di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan pendekatan ilmiah yang lebih terintegrasi, upaya perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia diharapkan dapat berjalan lebih efektif, sehingga ekosistem alam tetap terjaga dan mampu mendukung kehidupan generasi mendatang. (*)
Editor : Ali Sodiqin