RADARBANYUWANGI.ID - Rencana pembangunan jalan tol yang menghubungkan Kota Malang dengan Kepanjen, Kabupaten Malang, kembali mengemuka.
Proyek strategis ini digadang-gadang menjadi solusi kemacetan sekaligus motor penggerak ekonomi baru di wilayah Malang Raya.
Sebagaimana dikutip dari Radar Malang, Tol Malang–Kepanjen dirancang sebagai lanjutan dari ruas tol Gempol–Malang.
Jika terealisasi, jalur ini akan memperbaiki konektivitas darat sekaligus membuka akses cepat menuju wilayah selatan Kabupaten Malang yang dikenal kaya potensi ekonomi, pertanian, hingga destinasi wisata.
Masuk Prioritas Nasional dan Dokumen RPJMD
Proyek tol ini telah masuk dalam prioritas nasional serta tercantum dalam dokumen perencanaan daerah seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Malang 2025–2045.
Jejak awal rencana pembangunan tol Malang–Kepanjen sebenarnya sudah muncul sejak 2019.
Saat itu, usulan pra-studi kelayakan diajukan seiring dengan ekspansi jaringan jalan tol nasional di berbagai daerah.
Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, izin prinsip proyek sempat diterbitkan pada 2019.
Tahapan berikutnya meliputi studi kelayakan final, proses lelang, hingga penetapan pemenang proyek dalam skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).
Namun, hingga kini konstruksi fisik belum dimulai karena sejumlah tahap persiapan masih berjalan.
Jalur 30–33 Kilometer, Tembus Sejumlah Kecamatan
Dalam perencanaan awal, tol ini memiliki panjang sekitar 30–33 kilometer. Rutenya dirancang membentang dari ujung ruas tol Pandaan–Malang di kawasan Madyopuro, Kota Malang, menuju Kepanjen.
Beberapa wilayah yang akan dilalui antara lain Kedungkandang, Bululawang, dan Gondanglegi.
Jalur tersebut diharapkan dapat memecah kepadatan lalu lintas di ruas utama sekitar Krebet yang selama ini kerap menjadi titik kemacetan.
Lebih dari itu, keberadaan tol ini diproyeksikan mampu:
- Mempercepat mobilitas barang dan orang
- Meningkatkan efisiensi distribusi logistik
- Mendukung pengembangan kawasan industri dan wisata
- Mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah selatan Malang
Dengan akses yang lebih cepat, konektivitas antara pusat kota dan ibu kota Kabupaten Malang diyakini akan semakin solid.
Target Operasional 2030, Biaya Capai Rp10,7 Triliun
Sejak awal 2025, proses perencanaan terus disempurnakan, khususnya pada tahap studi kelayakan.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) menargetkan tol ini dapat beroperasi pada 2030.
Meski begitu, detail teknis pelaksanaan proyek masih belum final, termasuk penentuan badan usaha yang akan menggarap proyek tersebut.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Malang juga melakukan kajian ulang terhadap studi kelayakan.
Salah satu pertimbangan utama adalah besarnya estimasi biaya pembangunan yang mencapai sekitar Rp10,7 triliun—angka tersebut belum termasuk biaya pembebasan lahan.
Rencana pembebasan lahan sendiri ditargetkan mulai pada 2027. Tahap tersebut akan dilakukan setelah penyusunan basic design (desain dasar) rampung serta koordinasi lanjutan dengan pemerintah pusat selesai.
Respons Warga Beragam
Rencana pembangunan tol Malang–Kepanjen memunculkan beragam respons dari masyarakat.
Sebagian warga menyambut positif karena melihat peluang ekonomi yang terbuka lebar, mulai dari kemudahan akses hingga potensi penyerapan tenaga kerja.
Namun, ada pula warga yang mengaku masih minim menerima sosialisasi terkait detail proyek.
Kekhawatiran soal dampak lingkungan dan perubahan tata ruang juga menjadi perhatian tersendiri.
Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah agar proses perencanaan dan pelaksanaan proyek tetap transparan serta mengedepankan prinsip keberlanjutan.
Proyek Kunci Penguatan Infrastruktur Jawa Timur
Terlepas dari pro dan kontra, tol Malang–Kepanjen tetap menjadi salah satu proyek infrastruktur penting yang dipantau pemerintah dan masyarakat.
Jika terealisasi sesuai target 2030, jalur ini akan memperkuat jaringan transportasi di Jawa Timur, khususnya di kawasan Malang Raya.
Integrasi dengan ruas tol yang sudah ada akan memperpendek waktu tempuh, meningkatkan efisiensi ekonomi, serta membuka peluang investasi baru di sektor industri, pertanian, dan pariwisata.
Kini, masyarakat menanti kepastian lanjutan proyek tersebut. Dengan nilai investasi besar dan dampak strategis jangka panjang, tol Malang–Kepanjen berpotensi menjadi game changer pembangunan di selatan Malang dalam dua dekade mendatang. (*)
Editor : Ali Sodiqin