RADARBANYUWANGI.ID – Menjelang Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Selasa (17/2), umat Khonghucu di Banyuwangi melakukan kerja bakti membersihkan Klenteng Hoo Tong Bio, Kelurahan Karangrejo, Sabtu (14/2).
Kegiatan dilakukan sejak pagi dengan suasana gotong royong. Mulai dari membersihkan halaman, menata kursi ibadah, memasang lampion, hingga membersihkan patung dewa sebagai bagian dari tradisi penyambutan Tahun Baru Tionghoa.
Patung Dewa Diturunkan, Jubah Diganti
Ketua Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hoo Tong Bio Sylvia Ekawati mengatakan bersih-bersih klenteng merupakan agenda rutin setiap menjelang Imlek.
“Bersih-bersih sebelum Imlek ini meliputi semua bagian klenteng dan diikuti umat Khonghucu serta pengurus,” ujarnya.
Dari pantauan di lokasi, umat bersama pengurus menurunkan patung dewa satu per satu. Setelah dibersihkan, jubah patung diganti sebelum dikembalikan ke altar.
“Patung diturunkan, dibersihkan, lalu jubahnya diganti sebelum dikembalikan lagi ke tempatnya,” jelas Sylvia.
Patung-patung tersebut dibersihkan menggunakan bunga mawar. Tradisi itu telah dilakukan turun-temurun di klenteng tersebut. Total terdapat 19 patung utama selain patung sumbangan umat.
Makna Spiritual Menyambut Tahun Baru
Menurut Sylvia, tradisi bersih-bersih berangkat dari kepercayaan bahwa sebelum Imlek para dewa naik ke surga. Karena itu tempat ibadah maupun rumah harus dalam keadaan bersih.
“Agar di tahun baru semuanya terlihat bersih sehingga rezeki bisa datang dengan baik,” katanya.
Perayaan Tahun Baru Imlek sendiri merupakan pergantian tahun dalam kalender lunar Tionghoa sekaligus penanda datangnya musim semi.
Puasa Daging Dua Hari Sebelum Bersih-Bersih
Sebelum mengikuti kerja bakti, sebagian umat menjalani tradisi Chi Su. Tradisi ini berupa pantangan mengonsumsi daging selama dua hari.
Petugas penjaga klenteng, Dede, menjelaskan kebiasaan tersebut khususnya dilakukan oleh petugas yang membersihkan patung dewa.
“Biasanya hanya makan sayur seperti vegetarian dua hari sebelum kerja bakti,” ujarnya.
Perkuat Kebersamaan Umat
Selain membersihkan patung, umat juga membersihkan abu dupa di altar sembahyang yang biasa digunakan pada tanggal 1 dan 15 kalender Tionghoa.
Salah satu umat, Megawati, mengaku senang bisa ikut berpartisipasi.
“Saya ikut membersihkan abu di tempat dupa yang biasa digunakan ibadah,” katanya.
Sylvia berharap Imlek tahun ini membawa kedamaian dan mempererat kebersamaan masyarakat Banyuwangi.
“Kami berdoa agar umat bisa terus guyup dan Indonesia tetap damai tanpa permusuhan,” tutupnya.
Tradisi tahunan ini tak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol kebersamaan dan harmoni masyarakat di Bumi Blambangan. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin