RADARBANYUWANGI.ID - Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (Satgas MBG) Kabupaten Tuban masih terus menelusuri penyebab dugaan keracunan yang dialami 14 siswa SMP Negeri 1 Montong.
Penelusuran tidak hanya difokuskan pada menu makanan yang dikonsumsi siswa, tetapi juga pada kemungkinan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) di dapur penyedia makanan.
Dapur MBG tersebut diketahui dikelola oleh Yayasan Bumi Wali Berdikari melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Montong.
Evaluasi menyeluruh dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan telah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Ketua Satgas MBG Tuban, Abdul Rakhmat, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban menjelaskan bahwa pihaknya kini memfokuskan pemeriksaan pada aspek operasional dapur.
“Evaluasi kami fokuskan pada operasional SPPG Montong. Kami ingin memastikan apakah proses pengolahan ribuan porsi makanan pada Selasa (27/1) sudah sesuai SOP yang ditetapkan BGN,” kata Rakhmat.
SOP Jadi Kunci Pencegahan
Menurut Rakhmat, setiap dapur umum penyedia MBG memiliki SOP yang wajib dijalankan secara ketat.
SOP tersebut mencakup pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
“Setiap dapur umum memiliki SOP yang harus dijalankan. Jika seluruh tahapan dipatuhi, kejadian seperti ini seharusnya bisa dihindari. Karena itu, kami akan melihat apakah ada prosedur yang terlewati hingga muncul dugaan keracunan,” terangnya.
Hasil evaluasi tersebut, lanjut Rakhmat, akan menjadi dasar penting untuk melakukan perbaikan sistem di SPPG. Tujuannya agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
“Dengan perbaikan yang tepat, program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan tanpa kendala dan manfaatnya benar-benar dirasakan para siswa,” imbuhnya.
Pemantauan Berkelanjutan
Rakhmat yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Tuban menegaskan bahwa pemantauan terhadap pelaksanaan MBG akan dilakukan secara berkelanjutan.
“Pemantauan akan kami lakukan terus-menerus. Ini penting untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan bagi anak-anak,” ujarnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa Satgas MBG tidak memiliki kewenangan untuk menghentikan atau menutup sementara operasional SPPG Montong.
“Kewenangan itu ada pada instansi lain. Langkah kami adalah pencegahan melalui evaluasi dan rekomendasi perbaikan,” tegas Rakhmat.
Kondisi Siswa Membaik
Terkait kondisi para siswa, Rakhmat memastikan bahwa penanganan awal telah dilakukan segera setelah kejadian.
Para siswa yang mengalami keluhan langsung dibawa untuk mendapatkan perawatan medis.
“Alhamdulillah, kondisi siswa membaik dan pada sore hari sudah diperbolehkan pulang,” katanya.
Untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan, sampel makanan telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).
Uji laboratorium tersebut diharapkan dapat memastikan apakah makanan MBG menjadi sumber keracunan atau terdapat faktor lain.
Dapur SPPG Masih Tertutup
Hingga Rabu (28/1), pihak SPPG Montong belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut.
Upaya konfirmasi kepada salah satu petugas melalui pesan singkat juga belum mendapatkan respons.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban di lokasi dapur umum SPPG Montong yang berada di Desa Montongsekar, Kecamatan Montong, menunjukkan seluruh pintu gedung dalam kondisi tertutup. Di depan lokasi hanya tampak sebuah mobil puskesmas terparkir.
Satgas MBG menegaskan komitmennya untuk mengawal program Makan Bergizi Gratis agar tetap aman, berkualitas, dan benar-benar mendukung peningkatan gizi serta kesehatan peserta didik di Kabupaten Tuban. (*)
Editor : Ali Sodiqin