Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Desain Tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi Berubah Berkali-kali, Medan Perbukitan Jadi Tantangan Utama

Ali Sodiqin • Senin, 12 Januari 2026 | 00:30 WIB

Sejumlah pekerja Tol Probowangi terus mengerjakan proyek strategis nasional tersebut. Ruas Probolinggo-Besuki ditarget beroperasi penuh pada Februari 2026.
Sejumlah pekerja Tol Probowangi terus mengerjakan proyek strategis nasional tersebut. Ruas Probolinggo-Besuki ditarget beroperasi penuh pada Februari 2026.

RADARBANYUWANGI.ID - Siapa sangka, pembangunan jalan tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi (Prosiwangi) ternyata diwarnai dengan banyak perubahan desain.

Desain perencanaan yang telah disusun sejak awal tidak sepenuhnya bisa diterapkan di lapangan, sehingga penyesuaian harus dilakukan berulang kali selama proses pengerjaan berlangsung.

Fakta tersebut disampaikan langsung melalui media sosial resmi pelaksana proyek, @pp_probowangi3.

Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa perubahan desain bukan hanya terjadi satu atau dua kali, melainkan berkali-kali, demi menyesuaikan dengan kondisi lapangan yang dihadapi.

“Dalam pelaksanaannya, paket 3 ini mengalami banyak perubahan desain karena menyesuaikan kondisi lapangan,” tulis akun Instagram @pp_probowangi3 dalam keterangannya.

Kondisi medan yang dilalui proyek Tol Prosiwangi memang terbilang tidak biasa.

Pembangunan jalan tol ini tidak sepenuhnya dilakukan di medan datar sebagaimana tol pada umumnya.

Sebaliknya, sebagian besar trase melintasi kawasan perbukitan dengan kontur tanah yang tidak rata dan memiliki perbedaan elevasi cukup signifikan.

Situasi tersebut membuat desain teknis yang telah direncanakan sebelumnya harus terus dievaluasi.

Setiap perubahan kondisi geologi dan topografi di lapangan menuntut solusi konstruksi yang berbeda, mulai dari penyesuaian kemiringan jalan, struktur tanah, hingga metode pengerjaan.

Untuk Paket 3 sendiri, ruas pembangunan dimulai dari Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, hingga Banyuglugur, Kabupaten Situbondo.

Di ruas inilah tantangan paling berat dihadapi oleh para pekerja proyek.

Tol Prosiwangi pada Paket 3 diketahui membelah kawasan perbukitan tepat di atas area PLTU Paiton hingga menuju Banyuglugur.

Trase yang melintasi bukit membuat proses konstruksi harus dilakukan dengan kehati-hatian ekstra, mengingat risiko longsor, kestabilan tanah, dan keselamatan pekerja.

Tak heran jika pengerjaan Paket 3 ini memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan paket lainnya.

Berbagai hambatan dan kesulitan teknis kerap muncul di lapangan, mulai dari proses pemotongan bukit, penguatan lereng, hingga penyesuaian desain struktur jalan agar tetap aman dan sesuai standar.

Meski demikian, perubahan desain yang dilakukan berulang kali ini disebut sebagai langkah penting untuk memastikan hasil pembangunan tetap berkualitas dan aman digunakan dalam jangka panjang.

Penyesuaian tersebut juga menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah dengan karakter geografis kompleks membutuhkan fleksibilitas perencanaan dan ketelitian tinggi.

Tol Prosiwangi sendiri diharapkan menjadi tulang punggung konektivitas di kawasan tapal kuda Jawa Timur.

Kehadirannya diyakini mampu mempercepat mobilitas masyarakat, memperlancar distribusi logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Probolinggo, Situbondo, hingga Banyuwangi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#situbondo #tol prosiwangi #probolinggo #banyuwangi #desain tol