RADARBANYUWANGI.ID - Sebuah pesta pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia berubah menjadi bencana besar setelah layanan katering yang dijanjikan tidak muncul sama sekali.
Peristiwa yang terjadi di Jakarta ini sontak viral di media sosial dan menyeret nama Ayu Puspita Dinanti, pemilik wedding organizer (WO) yang kini diduga menelantarkan ratusan kliennya.
Pemicunya, Prasmanan Kosong dan WO yang Tidak Hadir
Kronologi bermula dari unggahan pengguna Threads, @cindyangelina, pada 7 Desember 2025.
Ia membagikan video suasana gedung resepsi yang telah tertata rapi, namun meja prasmanan terlihat kosong tanpa satu pun hidangan.
Satu-satunya konsumsi yang tersaji hanyalah jus jambu yang diduga berasal dari pihak gedung, bukan dari vendor katering.
Unggahan tersebut memicu banyak korban lain untuk bersuara.
Dalam hitungan jam, berbagai video tamu dan pengantin yang mengalami kejadian serupa beredar di TikTok dan platform lain, memperlihatkan kekosongan layanan yang seharusnya sudah dibayar lunas.
Ratusan Korban Membentuk Grup dan Menghitung Kerugian
Setelah kasus viral, para pengantin yang mengalami kerugian membentuk grup komunikasi untuk mendata total kerusakan.
Hasil pendataan menunjukkan 230 pasangan menjadi korban, dengan estimasi kerugian antara Rp15 hingga Rp16 miliar.
Salah satu tamu undangan mengungkapkan bahwa proses perhitungan kerugian bersama telah dilakukan sejak siang hari pada tanggal 7 Desember 2025.
Rumah Pelaku Digerebek Korban
Pada hari yang sama, ratusan korban mendatangi rumah Ayu Puspita di kawasan Cipayung, Jakarta Timur.
Aksi tersebut terjadi karena korban merasa acara sakral mereka hancur total akibat ketidakhadiran pihak WO.
Beberapa video memperlihatkan momen ketika Ayu digelandang ke kantor polisi, dikelilingi korban yang menuntut pertanggungjawaban.
Pihak kepolisian kemudian membawa Ayu beserta suami, rekan, dan tim marketingnya ke Mapolres Jakarta Utara untuk pemeriksaan.
Pengakuan Pelaku, Skema ‘Gali Lubang Tutup Lubang’
Dalam proses penyelidikan, Ayu Puspita mengakui bahwa manajemen keuangan usahanya sangat kacau.
Ia menjalankan bisnis dengan pola gali lubang tutup lubang, yaitu menggunakan pembayaran klien baru untuk menutupi tanggungan klien lama.
Lebih parah lagi, sebagian dana klien disebut telah dipakai untuk keperluan pribadi, termasuk membeli rumah mewah dan berlibur ke luar negeri.
Meski berjanji akan mengembalikan dana para korban, Ayu meminta waktu untuk menjual sejumlah aset perusahaannya.
Kisah Korban, Akad Nikah Terancam Batal
Salah satu korban, Reza, mengalami malam yang penuh kepanikan beberapa jam sebelum akad nikahnya.
Pada malam 6 Desember 2025, ia menerima telepon dari admin WO yang menangis dan mengakui bahwa katering untuk acara lain tidak datang.
Saat dicek, Reza mengetahui bahwa tagihan ke berbagai vendor, termasuk venue, fotografer, MUA, hingga hiburan, belum dibayar oleh WO.
Ia terpaksa menutup kekurangan pembayaran venue, membeli makanan cepat saji untuk tamu, serta mengatur dekorasi seadanya.
Total biaya tambahan yang dikeluarkan mencapai jutaan rupiah.
Reza kemudian melapor ke Polres Jakarta Utara dan meminta pengembalian dana penuh.
Kasus Diambil Alih Polda Metro Jaya
Karena banyaknya laporan yang masuk dari berbagai wilayah, mulai dari Jakarta hingga Bogor dan Bekasi, kasus WO Ayu Puspita akhirnya diambil alih oleh Polda Metro Jaya.
Jumlah korban yang terus bertambah membuat penyelidikan diperluas untuk memastikan pertanggungjawaban pelaku.
Pernikahan Impian Berubah Menjadi Mimpi Buruk
Bagi 230 pasangan pengantin, momen yang seharusnya menjadi hari terindah malah berubah menjadi pengalaman pahit yang menyisakan trauma.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa kehati-hatian memilih vendor pernikahan sangatlah penting, mulai dari memeriksa rekam jejak, legalitas, hingga sistem pembayaran yang aman.
Editor : Lugas Rumpakaadi