RADARBANYUWANGI.ID - Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Aceh mengirim relawan untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang.
Langkah ini menjadi salah satu bentuk respons cepat atas bencana besar yang menimbulkan kerusakan fisik dan psikologis bagi ribuan warga.
Ketua ICMI Aceh, Taqwaddin, menyampaikan bahwa relawan berasal dari unsur ICMI Aceh dan Pemuda ICMI.
Mereka membawa donasi yang digalang dari berbagai daerah di Indonesia.
Bantuan yang dibawa meliputi tiga ton beras, pakaian layak pakai, perlengkapan ibadah, kebutuhan pokok, air mineral, serta logistik darurat lainnya.
Pengiriman dilakukan menggunakan kapal dari Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh, menuju Pelabuhan Kuala Langsa, kemudian dilanjutkan melalui jalur darat ke Aceh Tamiang.
Taqwaddin menegaskan bahwa penyaluran ini merupakan langkah awal, dan ICMI akan terus menggalang bantuan untuk wilayah terdampak lainnya di Aceh.
Kerusakan Parah dan Akses Terputus
Banjir bandang yang menerjang sejak 26 November menyisakan kerusakan ekstrem.
Di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, area sekitar Pondok Pesantren Darul Mukhlishin tertutup tumpukan kayu gelondongan dan lumpur tebal.
Air masih menggenangi halaman masjid serta kompleks pesantren, membuat akses bantuan menjadi sangat terbatas.
Lumpur juga memenuhi RSUD Aceh Tamiang, jalan desa, hingga rumah warga.
Pemerintah daerah menargetkan pembersihan RSUD selesai dalam tiga hari berkat dukungan tim gabungan.
Bantuan logistik kini mulai masuk melalui jalur darat, laut, dan udara. Total 18,2 ton bantuan tiba melalui jalur udara, sementara 1,8 ton lainnya disalurkan via laut.
Kisah Warga Bertahan di Tengah Ancaman Banjir
Dampak paling berat dirasakan desa-desa seperti Lintang Bawah dan Sukajadi, tempat sebagian besar rumah warga hancur.
Fitri, warga Lintang Bawah, menceritakan bagaimana dirinya dan ratusan keluarga harus bertahan hidup di atas atap rumah selama beberapa hari tanpa makanan dan minuman.
Gelap malam, suara arus deras, serta benturan kayu gelondongan membuat situasi sangat mencekam.
Sekitar 90 persen rumah di desanya rata dengan tanah, memaksa warga membangun posko swadaya dari sisa-sisa kayu yang hanyut.
Di Desa Sukajadi, Nur dan keluarganya mengalami tiga kali proses evakuasi karena daerah pengungsian turut terendam.
Ia belum berani melihat kondisi rumahnya, setelah mendengar kabar bahwa bangunan tersebut telah rata dengan tanah.
Penjarahan dan Kondisi Sosial yang Memburuk
Minimnya bantuan pada hari-hari awal menyebabkan situasi sosial memburuk.
Di beberapa wilayah, warga terpaksa menjarah toko swalayan dan gudang grosir untuk mendapatkan makanan.
Harga sembako melambung drastis, menyebabkan banyak orang tak mampu membeli bahan pokok.
Selain itu, satu lembaga pemasyarakatan di Aceh Tamiang harus melepaskan warga binaan karena bangunan terendam hingga ke bagian atap, demi alasan keselamatan.
Upaya Pemerintah Membuka Akses dan Memulihkan Layanan Dasar
Enam hari setelah banjir, pemerintah mulai membersihkan jalur Medan–Aceh Tamiang menggunakan alat berat.
Akses darat kini mulai terbuka untuk kendaraan kecil dengan kecepatan terbatas.
Bantuan udara terus mengalir, mencakup makanan siap saji, hygiene kit, sembako, selimut, matras, dan alat kebersihan.
PLN turut mengirimkan berbagai genset untuk memulihkan pasokan listrik, terutama untuk RSUD Muda Sedia yang menjadi pusat layanan kesehatan darurat.
Keberadaan listrik menjadi faktor penting untuk menjalankan tindakan medis, mengoperasikan posko pengungsian, dan memenuhi kebutuhan air bersih melalui PDAM setempat.
Solidaritas yang Terus Diperkuat
Banjir Aceh Tamiang menyisakan dampak luas, baik fisik maupun psikososial.
Kehadiran relawan seperti dari ICMI Aceh memberi harapan bagi masyarakat yang kehilangan harta, rumah, bahkan anggota keluarga.
Dengan terbukanya akses dan meningkatnya distribusi logistik, proses pemulihan diharapkan berjalan lebih cepat dan merata.
ICMI Aceh menegaskan komitmennya untuk terus menyalurkan bantuan ke seluruh wilayah terdampak.
Semangat solidaritas dan gotong royong diyakini menjadi kunci bagi Aceh Tamiang untuk bangkit dari salah satu bencana terparah dalam sejarahnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi