Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Krisis PBNU 2025: Konflik Elit, Pemecatan Gus Yahya, dan Upaya Islah oleh Sesepuh NU

Ali Sodiqin • Minggu, 7 Desember 2025 | 23:43 WIB
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menggelar silaturahmi bersama para alim ulama di tengah memanasnya isu pemakzulan yang mencuat usai Rapat Harian Syuriyah beberapa hari lalu.
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menggelar silaturahmi bersama para alim ulama di tengah memanasnya isu pemakzulan yang mencuat usai Rapat Harian Syuriyah beberapa hari lalu.

RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan internal kembali mencuat di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Polemik yang berkembang semakin meluas hingga menarik perhatian kalangan Istana.

Pemerintah pun mendorong agar konflik tersebut dapat segera mereda demi menjaga stabilitas organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Berbagai isu perbedaan pandangan di internal PBNU belakangan menjadi sorotan publik. Situasi ini mendorong tokoh-tokoh senior NU untuk turun tangan.

Para ulama dan sesepuh organisasi menggelar pertemuan dengan tujuan memperkuat ukhuwah serta memastikan jalannya organisasi tetap pada khitah dan kepentingan umat.

Salah satu langkah penting dalam meredakan konflik ini adalah pertemuan lanjutan yang diupayakan oleh jajaran kepemimpinan PBNU bersama para tokoh NU di daerah.

Mereka menekankan pentingnya menjaga marwah dan soliditas NU di tengah dinamika internal dan eksternal.

Sejumlah pihak berharap agenda dialog akan terus berlanjut untuk mencari titik temu dan menyatukan aspirasi kader-kader NU di seluruh negeri.

Harapan besar tertumpu pada kebesaran NU sebagai organisasi yang mampu menjadi perekat umat—bukan justru terbelah oleh perbedaan sikap dan dinamika politik yang berkembang.

Gambaran Konflik di Tubuh PBNU

Kondisi itu memicu gejolak struktural yang luas: rotasi pengurus struktural PBNU, tarik-ulur kewenangan antara Syuriyah dan Tanfidziyah, serta kebingungan di kalangan pengurus daerah.

Akibat konflik berkepanjangan, citra organisasi besar tersebut terus tergerus.

Banyak pihak — termasuk lembaga eksternal — memperingatkan agar pengurus tingkat daerah tidak terjebak dalam perebutan kekuasaan pusat.

Upaya Pengamanan dan Islah oleh Sesepuh & Mustasyar NU

Menanggapi situasi genting ini, sejumlah tokoh senior NU menginisiasi upaya islah melalui pertemuan para kiai sepuh dan mustasyar.

Forum-forum tersebut digelar di beberapa pondok pesantren — termasuk di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan Pondok Pesantren Al‑Falah Ploso, Kediri.

Dalam pertemuan terbaru, pada Sabtu (6/12/2025) di Tebuireng, Gus Yahya hadir dan menyampaikan penjelasan terkait tudingan terhadapnya — termasuk soal keuangan dan kebijakan organisasi — kepada para kiai sepuh dan mustasyar.

Ia mengaku bersyukur mendapat kesempatan klarifikasi dan menyatakan dirinya terbuka untuk islah demi menjaga khidmah jam’iyah.

Selanjutnya, para sesepuh NU menekankan bahwa segala keputusan besar di tubuh PBNU — termasuk penetapan Penjabat (Pj) Ketua Umum — harus tunduk pada mekanisme organisasi sesuai AD/ART.

Mereka mendesak agar proses penunjukan tidak dilakukan secara tergesa-gesa atau sepihak.

Hasil resmi dari Forum Sesepuh dan Mustasyar ini diharapkan menjadi pijakan bagi penyelesaian konflik.

Forum menyerukan agar semua pihak menahan diri, menjaga martabat jam’iyah, dan mengutamakan musyawarah internal — bukan pengumbaran ke media atau eskalasi publik.

Mengapa Krisis Ini Sangat Krusial untuk NU

Situasi Terbaru & Titik Pemulihan

Editor : Ali Sodiqin
#Konflik PBNU 2025 #Pemecatan Gus Yahya #Sesepuh NU #nahdlatul ulama #islah