Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Geolog Indonesia–Australia Teliti Jejak Mineral Emas dan Tembaga di Banyuwangi, Tinjau Geopark Ijen dan Pulau Merah

Ali Sodiqin • Selasa, 2 Desember 2025 | 17:23 WIB
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menerima tim geolog Indonesia-Australia di Pendapa Shaba Swagata Blambangan, Minggu malam (30/11/2025).
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menerima tim geolog Indonesia-Australia di Pendapa Shaba Swagata Blambangan, Minggu malam (30/11/2025).

RADARBANYUWANGI.ID – Kekayaan geologi Banyuwangi kembali menarik perhatian kalangan ilmiah.

Sejumlah geolog dari Indonesia dan Australia melakukan kajian lapangan terhadap jejak mineralisasi emas dan tembaga di wilayah setempat.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian annual conference Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) yang menggelar field trip ke kawasan Geopark Ijen, termasuk destinasi ikonik Pulau Merah.

MGEI merupakan organisasi di bawah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) yang mewadahi para ahli geologi ekonomi dari industri mineral dan batubara.

Dalam kegiatan tahun ini, rombongan yang terdiri dari 10 peserta dan 3 trip leader—salah satunya geolog dari Australia—menghabiskan empat hari di Banyuwangi untuk mengkaji karakter geologi setempat.

Dalam pertemuan dengan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Minggu malam (30/11/2025), perwakilan MGEI Arif Hermawan menuturkan bahwa Banyuwangi dipilih karena memiliki potensi mineral yang kuat.

Para geolog ingin memahami proses pembentukan mineralisasi yang terekam di Pulau Merah dan keterkaitannya dengan struktur geologi Gunung Ijen.

“Kami mempelajari bagaimana sistemnya terbentuk agar bisa menjadi rujukan pencarian mineral di wilayah lain, tidak hanya di Indonesia namun juga di luar Indonesia,” ujar Arif.

Wakil Ketua Jaringan Geopark Indonesia, Abdillah Baraas, menambahkan Banyuwangi memiliki kekayaan geologi unik yang jarang dimiliki daerah lain.

Ia menjelaskan bahwa Pulau Merah dan Ijen merepresentasikan dua fase berbeda dari proses geologi yang saling berkaitan.

Batuan berwarna kemerahan di keduanya menunjukkan kesamaan karakter akibat proses oksidasi.

“Jika ingin melihat masa lalu Pulau Merah, lihatlah Ijen. Jika ingin melihat masa depan Ijen, lihatlah Pulau Merah,” ujar Abdillah.

Menurutnya, dari Pulau Merah geolog dapat mempelajari proses terbentuknya emas dan tembaga tanpa masuk jauh ke struktur dalam Gunung Ijen.

Selama kunjungan, para geolog juga menyambangi Pusat Informasi Geologi Gopak Ijen.

Mereka mempelajari sejarah geologi Banyuwangi sejak lebih dari 30 juta tahun silam hingga pembentukan endapan muda yang kini menjadi kawasan permukiman.

Selain aspek ilmiah, rombongan turut meninjau kekayaan budaya dan keragaman hayati yang selama ini menjadi elemen penting Geopark Ijen.

Peneliti dari IPB University, Dr. Ir. Arzyana Sunkar, yang ikut dalam rombongan, mengatakan bahwa keterlibatan IPB berkaitan dengan pengembangan kebijakan geopark.

Ia menilai keberadaan Geopark Ijen memberi manfaat luas bagi ekosistem sekitar serta dapat menjadi model pengembangan geopark dunia.

“Perkembangan Geopark Ijen dan pariwisata Banyuwangi bisa menjadi contoh nasional bahkan global. Praktik baik di sini, termasuk keterlibatan masyarakat dan pengelolaan potensi alam, layak diterapkan di daerah lain,” ujarnya.

Arzyana juga berencana memperkenalkan Banyuwangi dalam forum International Conference on Responsible Tourism and Hospitality di Malaysia tahun depan.

Dari sektor industri, peserta field trip juga tertarik mempelajari praktik pengelolaan lingkungan yang diterapkan PT Bumi Suksesindo (BSI).

Rendy, exploration geologist dari PT Meares Soputan Mining (MSM) Sulawesi Utara, mengaku mendapat banyak pelajaran dari kunjungan tersebut.

“Kami mendapat banyak pembelajaran, termasuk hubungan geologi Pulau Merah dan Ijen, hingga bagaimana menemukan mineralisasi yang baik di sini. Dari praktik lingkungan yang diterapkan BSI juga bisa menjadi contoh di perusahaan kami ke depan,” kata Rendy.

Bupati Ipuk Fiestiandani menyampaikan apresiasinya atas dipilihnya Banyuwangi sebagai lokasi kajian ilmiah oleh para akademisi dan profesional geologi.

“Kekayaan geologi kami memang harus dimanfaatkan untuk riset dan edukasi bagi pengembangan Indonesia ke depan. Semoga pengalaman ini mendorong semakin banyak kolaborasi dan membawa manfaat bagi pengembangan Geopark Ijen,” ujar Ipuk.

Dengan beragam temuan dan interaksi selama kunjungan, Banyuwangi semakin menegaskan posisinya sebagai laboratorium geologi alam terbuka yang penting, tidak hanya bagi Indonesia namun juga bagi komunitas geologi internasional. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#tembaga #indonesia #geopark ijen #pulau merah #geologi #australia #Geolog #Jejak Mineral Emas