RADARBANYUWANGI.ID - Warga Jawa Timur boleh menyambut gembira.
Di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa sebagai Gubernur Jatim periode 2025–2030, provinsi terluas di timur Pulau Jawa itu akan memiliki dua ruas tol baru pada awal 2026.
Upaya ini diharapkan mempercepat konektivitas dan mendongkrak akses ke seluruh kawasan, termasuk bagian paling ujung timur.
Salah satu proyek strategis yang digenjot adalah Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi.
Tol ini merupakan bagian pamungkas dari jaringan Trans-Java Toll Road yang menghubungkan ujung barat hingga timur Pulau Jawa.
Detail Proyek Tol Probolinggo–Banyuwangi
- Total panjang tol ini diperkirakan mencapai sekitar 175,4 km, terbagi dalam dua tahap:
- Tahap I: menghubungkan Probolinggo–Besuki sepanjang 49,68 km
- Tahap II: lanjutan dari Besuki menuju Banyuwangi sepanjang sekitar 126,10 km
- Ruas tahap I sendiri meliputi beberapa paket konstruksi, termasuk Paket 1 dan Paket 2, yang membentang di wilayah Probolinggo dan sekitarnya.
- Menurut laporan terbaru (Agustus 2025), progres konstruksi tahap I telah mencapai sekitar 85–90 persen.
- Pembebasan lahan hampir rampung (di atas 99 persen), sehingga pengerjaan fisik tol bisa segera diselesaikan.
- Pemerintah menargetkan ruas tahap I sudah dapat beroperasi awal 2026, terutama mengantisipasi liburan besar akhir tahun dan tahun baru.
Baca Juga: Banyuwangi Raih Predikat Kota Sehat Nasional, Sukses Torehkan Dua Penghargaan dari Kemenkes
Manfaat & Harapan bagi Jawa Timur
Tol Probolinggo–Banyuwangi bukan sekadar jalur baru — proyek ini bakal jadi pintu gerbang penting bagi konektivitas timur Pulau Jawa.
Dengan beroperasinya tol ini, diharapkan:
- Waktu tempuh antar wilayah bisa sangat dipangkas — dari berjam-jam jadi jauh lebih singkat.
- Mobilitas orang, barang, dan jasa menjadi lebih cepat dan efisien.
- Akses ke kawasan wisata, pelabuhan, pusat ekonomi, dan daerah-daerah terpencil di ujung timur menjadi lebih mudah.
- Dorongan bagi sektor pariwisata, perdagangan, serta investasi di daerah tapal kuda dan sekitarnya.
Menurut Gubernur Khofifah, pembangunan tol dan infrastruktur vital lainnya menjadi bagian dari strategi membangun Jawa Timur sebagai “gerbang baru nusantara” — pusat logistik dan distribusi di timur Indonesia.
Catatan & Tantangan
Meski progres konstruksi sudah tinggi, tetap dibutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota untuk memastikan kelancaran pelaksanaan dan keberlanjutan pemanfaatan tol.
Faktor lingkungan, absorpsi lahan, dan penataan kawasan di area akses tol perlu diperhatikan agar dampak bagi masyarakat lokal tetap positif.
Bagi kabupaten di sepanjang koridor tol — terutama di daerah yang selama ini sulit dijangkau — hadirnya tol diharapkan memunculkan potensi baru: ekonomi bergerak, pariwisata tumbuh, dan kesempatan investasi terbuka lebar. (*)
Editor : Ali Sodiqin