RADARBANYUWANGI.ID - Inilah Profil KH Miftachul Akhyar, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Dari pesantren sampai pucuk NU. Kini terlibat dinamika internal PBNU jelang akhir 2025.
Siapa KH Miftachul Akhyar
- KH Miftachul Akhyar lahir 30 Juni 1953 di Surabaya, Jawa Timur.
- Ia merupakan putra dari KH Abdul Ghoni, pengasuh pesantren — anak kesembilan dari 13 bersaudara. Sejak kecil tumbuh di lingkungan pesantren dan mendapat pendidikan agama sejak usia dini.
- KH Miftachul Akhyar menimba ilmu di beberapa pesantren ternama di Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas (Jombang), Pesantren Sidogiri (Pasuruan), dan Pesantren Al‑Islah Soditan (Lasem).
- Saat ini ia juga mengasuh pondoknya sendiri — Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya.
Karena latar belakang Nahdliyyin dan pesantren sejak kecil, KH Miftachul Akhyar dikenal sebagai ulama kharismatik dengan akar kuat di kalangan tradisionalis pesantren.
Kiprah di NU dan Jabatan Rais Aam PBNU
Jejak karier KH Miftah dalam struktural organisasi NU cukup panjang dan konsisten:
- Ia pernah menjabat Rais Syuriyah di tingkat cabang dan provinsi: Rais Syuriyah PCNU Surabaya (2000–2005), serta Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur dua periode (2007–2013 & 2013–2018).
- Pada Sidang Pleno IV di muktamar NU, lewat keputusan sembilan anggota AHWA, KH Miftachul Akhyar resmi ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU periode 2021–2026.
- Sebelum menjabat Rais Aam, ia menggantikan pemimpin sebelumnya setelah pengunduran diri, dan sudah dianggap sebagai ulama senior dengan reputasi di kalangan kiai dan warga NU.
Dengan posisi Rais Aam, KH Miftachul Akhyar menjadi salah satu figur paling berpengaruh di NU — sebagai pemimpin spiritual dan pelindung syariat NU.
Dinamika Terbaru di PBNU (November 2025) — Konflik Kepemimpinan
Belakangan ini, internal PBNU mengalami guncangan besar — dan KH Miftachul Akhyar berada di titik sentral konflik tersebut:
- Pada 20 November 2025, beredar dokumen risalah Syuriyah PBNU hasil rapat harian di Jakarta yang ditandatangani KH Miftachul Akhyar. Dalam risalah itu, Syuriyah meminta Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya — Ketua Umum PBNU — untuk mundur dalam waktu 3 hari. Jika tidak, Syuriyah disebut berhak mencopotnya.
- Langkah berikutnya, Minggu 23 November 2025, Rais Aam PBNU resmi mencabut mandat penasihat khusus Ketum PBNU untuk urusan internasional, Charles Holland Taylor — keputusan dianggap sebagai bagian dari upaya restrukturisasi kepemimpinan.
- Namun, keputusan ini menuai protes keras dari internal PBNU. Menurut salah satu pengurus, Katib Syuriah PBNU — KH Nurul Yakin Ishaq — risalah dan ultimatum tersebut dianggap cacat prosedural dan tidak memiliki dasar AD/ART NU untuk memberhentikan Ketum tanpa Muktamar.
- Konflik ini membuat kepemimpinan PBNU memanas. Ada desakan agar seluruh jajaran — dari pusat hingga wilayah — mengedepankan islah dan dialog demi menjaga keutuhan organisasi.
Situasi ini menandai salah satu krisis internal terbesar di PBNU dalam beberapa tahun terakhir, dengan Rais Aam dan Ketum berada di kutub yang saling berhadapan.
Tantangan dan Signifikansi Konflik bagi NU
Keterlibatan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dalam dinamika ini memberikan dampak besar:
- Konflik internal memunculkan pertanyaan tentang legitimasi keputusan: apakah Syuriyah punya kewenangan mengganti Ketum, atau keputusan hanya bisa dilakukan melalui Muktamar? Banyak pihak menilai risalah cacat prosedur.
- Jika konflik berlarut, bisa memecah belah struktur NU yang memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia — dari pusat hingga daerah. Keutuhan organisasi, tradisi, dan kepercayaan masyarakat menjadi taruhannya.
- Bagi KH Miftachul Akhyar, konflik ini menjadi ujian berat: sebagai ulama senior, pemimpin spiritual, dan penanggungjawab stabilitas organisasi.
Di tengah situasi ini, banyak pihak berharap ada jalan islah — agar NU tetap solid sebagai organisasi Islam terbesar di Tanah Air. (*)
Editor : Ali Sodiqin