Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Profil Lengkap KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya): Riwayat, Pemikiran, Kiprah Internasional hingga Dinamika Terbaru di PBNU

Ali Sodiqin • Minggu, 23 November 2025 | 19:57 WIB

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (kiri) dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf di gedung PBNU, Jakarta Pusat.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (kiri) dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf di gedung PBNU, Jakarta Pusat.

RADARBANYUWANGI.ID - Nama KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya terus menjadi sorotan publik.

Figur ulama moderat yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021–2026 ini dikenal luas karena kiprahnya dalam diplomasi keagamaan internasional, pemikiran peradaban, serta ketegasannya memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Tidak hanya itu, dinamika internal PBNU pada 2025 membuat rekam jejak dan sosok Gus Yahya kembali menjadi pembicaraan lintas kalangan.

Berikut profil lengkap Gus Yahya, disusun secara komprehensif berdasarkan perjalanan hidup, pemikiran, hingga tantangan yang kini dihadapinya.

Baca Juga: Kulit Tetap Kusam Meski Rajin Skincare? Ternyata Ini Rahasia yang Kamu Lewatkan, Girls!

Akar Keluarga Pesantren dan Tradisi Keulamaan

Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1966.

Ia berasal dari keluarga besar pesantren yang sangat berpengaruh di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Ayahnya, KH Muhammad Cholil Bisri, adalah salah satu tokoh pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pamannya, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), dikenal sebagai budayawan dan ulama karismatik NU.

Adiknya, Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), menjabat sebagai Menteri Agama pada kabinet Presiden Joko Widodo.

Lingkungan keluarga yang sarat tradisi dan pemikiran keislaman menjadikan Gus Yahya tumbuh dalam kultur intelektual pesantren sejak kecil.

Baca Juga: Menguak Alasan Gus Dur Kunjungi Israel: Sejarah, Kontroversi, dan Misi Perdamaian yang Dilupakan Orang

Pendidikan Pesantren dan Jalan Panjang Intelektual

Pendidikan dasar keagamaannya ditempuh di Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, pesantren keluarga yang menjadi pusat pendidikan para santri di Rembang.

Ia kemudian melanjutkan pendalaman ilmu di Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, di bawah bimbingan KH Ali Maksum—salah satu ulama besar abad ke-20.

Setelah itu, Gus Yahya masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil jurusan Sosiologi Fisipol.

Meski tidak menuntaskan studi hingga gelar sarjana, aktivitas intelektual dan organisasinya sangat menonjol.

Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan mulai dikenal sebagai pemikir muda kalangan pesantren.

Baca Juga: Surat Syuriah PBNU Minta Gus Yahya Mundur Beredar, Ketua Umum Tegaskan Tak Akan Lepas Jabatan

Kiprah Organisasi: Dari Katib Aam hingga Ketua Umum PBNU

Perjalanan Gus Yahya di NU tidak instan. Ia menghabiskan bertahun-tahun di struktur kepengurusan sebelum mencapai puncak sebagai Ketum PBNU.

Jabatan Strategis di NU:

Selain memimpin PBNU, ia juga menjadi salah satu pengasuh Pesantren Raudlatut Tholibin, melanjutkan tradisi keluarga dalam pendidikan santri.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Makan yang Bikin Kulit Kusam Tanpa Disadari, Nomor Satu Paling Sering Dilakukan!

Karier Politik: Sempat Jadi Juru Bicara Presiden Gus Dur

Figur publik Gus Yahya semakin dikenal saat ia dipercaya sebagai Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1999–2001.

Pemikirannya yang lugas dan kemampuan komunikasi yang baik membuatnya sering tampil di forum nasional.

Pada 2018, Presiden Joko Widodo mengangkatnya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Meski pernah dekat dengan PKB, ia kemudian memilih jalur independen dan fokus pada pengembangan NU sebagai kekuatan moral bangsa.

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Turun Hari Ini: Update Lengkap Rajaemas dan Lakuemas 23 November 2025

Tokoh Global: Mengusung Islam Rahmatan lil ‘Alamin ke Dunia

Di level internasional, nama Gus Yahya mencuat sebagai motor dialog antar-agama.

Ia menjadi co-founder Bayt Ar-Rahmah di California, sebuah institut Islam global yang mengkampanyekan moderasi dan nilai kemanusiaan.

Ia juga menginisiasi berbagai forum global melalui Center for Shared Civilizational Values, menjembatani pemimpin agama dunia untuk berdialog tentang peradaban dan toleransi.

Salah satu gagasan teologinya yang paling dikenal adalah Fiqh al-Hadarah atau Fikih Peradaban—konsep yang menata ulang hubungan Islam dengan dinamika modernitas global.

Di bawah kepemimpinannya, PBNU menggelar puluhan halaqah membahas fikih peradaban.

Baca Juga: Profil Lengkap Inara Rusli: Karier, Kehidupan Pribadi, hingga Kasus Dugaan Perselingkuhan

Publikasi dan Pemikiran

Gus Yahya bukan hanya seorang organisator, tetapi juga penulis. Beberapa karya populernya antara lain:

Ia juga aktif menyampaikan gagasan tentang Islam moderat dalam berbagai forum internasional, termasuk PBB, Vatikan, Amerika Serikat, dan negara-negara Timur Tengah.

Baca Juga: BLTS Tahap Kedua Cair ke 12 Juta KPM, Kemensos Pastikan Penyaluran Lancar dan Dorong Pemulihan Daya Beli

Kontroversi: Relasi Internasional dan Kunjungan ke Israel

Sisi kontroversial Gus Yahya muncul saat ia berkunjung ke Israel dalam undangan American Jewish Committee pada 2018.

Tujuan dialog—sebagaimana ia jelaskan berulang kali—adalah membuka jalan komunikasi lintas agama dan peradaban.

Namun, langkah itu menuai kritik dari sebagian kelompok yang melihat relasi tersebut sebagai bentuk normalisasi dengan entitas zionis.

Polemik ini kembali mencuat pada 2025 ketika isu internal PBNU mengemuka.

Baca Juga: Pantai Watu Lumbung Gunungkidul: Surga Tersembunyi dengan Batu Karang Ikonik, Cocok untuk Healing dan Foto Estetik!

Penghargaan dan Jabatan Lain

Selain memimpin PBNU, Gus Yahya dipercaya menjadi Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia (2024–2029).

Ia kerap menerima undangan internasional sebagai tokoh perdamaian dan pemikir Islam moderat.

Dinamika Terbaru 2025: Sorotan Internal dan Respons Tegas

Pada November 2025, sebuah risalah rapat Syuriah PBNU beredar, berisi permintaan agar Gus Yahya mengundurkan diri sebagai Ketum.

Alasan utamanya: undangan terhadap narasumber yang dinilai terhubung dengan jaringan zionisme di Program Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) dan indikasi masalah tata kelola keuangan.

Baca Juga: Daniel Radcliffe Tulis Surat Haru untuk Dominic McLaughlin, Pemeran Baru Harry Potter

Namun, Gus Yahya menegaskan:

Gus Yahya juga menyebut telah berkomunikasi dengan jajaran Syuriah dan para kiai sepuh, serta menyatakan sebagian pihak menyesal atas kesimpangsiuran informasi.

Karakter Kepemimpinan: Tegas, Moderat, dan Visioner

Gus Yahya dikenal sebagai pemimpin yang:

Di tengah dinamika internal PBNU, ia bertekad menjaga stabilitas organisasi dan merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah.

KH Yahya Cholil Staquf adalah figur ulama yang memainkan peran penting dalam wajah Islam Indonesia masa kini.

Perpaduan antara tradisi pesantren, pemikiran modern, jejaring global, dan keberanian mengambil keputusan membuatnya menjadi tokoh sentral di NU maupun forum internasional.

Meski menghadapi tantangan besar di 2025, kiprah dan pengaruhnya tetap signifikan dalam perjalanan NU dan kehidupan keagamaan Indonesia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#konflik internal #pbnu #gus yahya #kh yahya cholil staquf