RADARBANYUWANGI.ID - Salah satu ruas jalan tol di Jawa Timur kembali menjadi sorotan publik.
Tol Mojokerto–Kertosono yang membentang sepanjang 40,50 kilometer tercatat sebagai salah satu dari 21 tol tersepi yang dikelola Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
Ironisnya, jalan tol ini justru dibangun di kawasan dengan jumlah penduduk besar serta melintasi kota terkecil di Jawa Timur.
Tol Mojokerto–Kertosono mulai beroperasi sejak 2016, dengan seksi III yang menghubungkan Mojokerto Barat hingga Kota Mojokerto sepanjang 5 kilometer.
Kota Mojokerto sendiri dikenal sebagai kota terkecil di Jawa Timur, hanya seluas 16,46 km² dan berada di peringkat pertama kota dengan wilayah paling sempit.
Direktur PT Marga Harjaya Infrastruktur, HMI Rinaldi, mengungkapkan bahwa Tol Mojokerto–Kertosono dinyatakan layak beroperasi setelah Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menyelesaikan uji laik fungsi.
“Setelah sertifikat laik operasi terbit, tol langsung dibuka,” kata Rinaldi, dikutip dari kominfo.jatimprov.go.id.
Pembangunan Triliunan Rupiah yang Berjalan Bertahap
Ruas Mojokerto–Kertosono merupakan bagian dari jalur Trans Jawa dan sebagian besar membentang di wilayah Kabupaten Jombang. Tol ini terbagi menjadi tiga seksi:
- Seksi 1: Bandar Kedungmulyo – Jombang (14,7 km)
- Seksi 2: Jombang – Mojokerto Barat (19,9 km)
- Seksi 3: Mojokerto Barat – Mojokerto (5 km)
Investasi pembangunannya mencapai Rp2,2 triliun pada tahap awal dan telah selesai 60 persen pada 2011.
Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, tol ini diresmikan bertahap, termasuk seksi II dan III, sebelum akhirnya tersambung ke ruas Ngawi–Kertosono.
Baca Juga: 14 Lokomotif Baru CC 205 Tiba di Sumatra, Pasokan Energi Jawa-Bali Makin Andal
Tol Jombang–Mojokerto ini menghubungkan sisi barat Kabupaten Jombang, yaitu Desa Bandar Kedungmulyo, dengan sisi utara Kabupaten Mojokerto di Desa Penompo.
Sebelum tol ini beroperasi, perjalanan Mojokerto–Kertosono memakan waktu 2–3 jam. Kini, hanya butuh sekitar 50 menit.
Masuk Daftar Tol Tersepi Meski Dibangun di Daerah Padat Penduduk
Menariknya, meski berada di wilayah padat penduduk, Tol Mojokerto–Kertosono justru menjadi salah satu tol paling sepi di Jawa Timur.
Trafik kendaraan tercatat berada di bawah 50 persen sejak pertama kali dioperasikan.
Padahal, Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu daerah berpenduduk besar di Jatim.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduknya mencapai 1.162.696 jiwa, menempatkannya di posisi keempat terbanyak.
Berikut daftar kabupaten dengan penduduk terbanyak di Jawa Timur:
- Sidoarjo: 2.193.692 jiwa
- Jombang: 1.373.793 jiwa
- Pamekasan: 893.327 jiwa
- Mojokerto: 1.162.696 jiwa
- Pasuruan: 1.669.400 jiwa
Dengan kepadatan tersebut, semestinya tol ini memiliki potensi trafik cukup tinggi.
Diresmikan Jokowi pada 2018, Diharapkan Dongkrak Konektivitas dan Ekonomi
Tol Mojokerto–Kertosono diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 20 Desember 2018.
Dalam pidatonya, Jokowi menegaskan pentingnya infrastruktur tol untuk mendorong kemudahan mobilitas masyarakat dan efisiensi logistik.
“Kita ingin infrastruktur ini memudahkan, lebih murah, lebih cepat. Masyarakat punya alternatif,” ujar Jokowi saat peresmian.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa keberadaan tol harus terkoneksi dengan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus agar memberikan manfaat maksimal.
“Produk-produk akan lebih efisien, dan ini membuka lapangan kerja lebih banyak,” tuturnya.
Mengapa Tetap Sepi?
Meski lokasinya strategis, beberapa faktor diduga menyebabkan trafik Tol Mojokerto–Kertosono rendah:
- Alternatif jalur arteri yang masih ramai digunakan masyarakat
- Tarif tol yang dianggap cukup tinggi bagi sebagian pengguna
- Mobilitas lokal yang lebih memilih jalur non-tol
- Konsentrasi ekonomi yang belum merata di sepanjang koridor tol
Meski demikian, tol ini tetap menjadi jalur penting dalam konektivitas Trans Jawa.
Tol Mojokerto–Kertosono adalah salah satu ruas vital Trans Jawa dengan nilai investasi triliunan rupiah dan manfaat besar bagi efisiensi perjalanan.
Namun, statusnya sebagai tol tersepi di Jawa Timur menjadi ironi tersendiri, mengingat lokasinya di wilayah berpenduduk padat dan memiliki potensi ekonomi tinggi.
Meski begitu, kehadiran tol ini tetap memberi kontribusi signifikan terhadap percepatan waktu tempuh, konektivitas wilayah, serta peluang pertumbuhan ekonomi di masa depan. (*)
Editor : Ali Sodiqin