Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Belajar dari China, KAI Siap Lakukan Lompatan Besar di Industri Perkeretaapian Indonesia

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 13 November 2025 | 18:00 WIB
KAI belajar ke China untuk percepat pengembangan jaringan kereta api nasional dan logistik.
KAI belajar ke China untuk percepat pengembangan jaringan kereta api nasional dan logistik.

RADARBANYUWANGI.ID - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, menyatakan bahwa China menjadi acuan utama dalam percepatan pengembangan jaringan perkeretaapian nasional.

Hal ini disampaikan saat mendampingi Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono, serta sejumlah pejabat terkait dalam kunjungan kerja ke Beijing, Qingdao, dan beberapa kota lain di China.

Menurut Bobby, tujuan kunjungan tersebut adalah untuk belajar, bermitra, dan mempercepat pembangunan jaringan kereta penumpang maupun logistik di Indonesia.

Ia menilai bahwa sistem perkeretaapian China merupakan yang paling maju di dunia, baik dari segi teknologi, jaringan, maupun operasional.

“China saat ini nomor satu di dunia dalam hal sistem, operasi, jaringan, dan industri kereta. Kondisi geografis dan demografis Indonesia mirip dengan China, sehingga penting bagi kami untuk belajar langsung dari mereka,” ujar Bobby di Beijing, Rabu (12/11/2025), dikutip Antara.

Kunjungan ke China ini juga merupakan bagian dari strategi percepatan pengembangan transportasi kereta api nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Fokus utama pengembangan meliputi penguatan jaringan di Pulau Jawa, peremajaan sarana angkutan, serta peningkatan kenyamanan dan kualitas layanan KRL.

Selain itu, Presiden juga menekankan pentingnya pengembangan jaringan kereta logistik di luar Pulau Jawa, khususnya di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera, guna memperlancar distribusi barang dan memperkuat konektivitas antarwilayah.

Bobby menegaskan bahwa Indonesia masih tertinggal jauh dalam hal panjang jaringan rel dibandingkan China.

Saat ini, China memiliki lebih dari 120 ribu kilometer jalur rel, sedangkan Indonesia baru mencapai sekitar 7 ribu kilometer.

“Mereka mampu mengangkut ratusan juta penumpang setiap hari, sementara kami di Jabodetabek baru 1,1 juta. Karena itu, kami harus berani melakukan lompatan besar,” tegasnya.

Sebelumnya, dalam peresmian Stasiun Tanah Abang pada 4 November 2025, Presiden Prabowo menugaskan KAI untuk menambah 30 titik rel dan rangkaian kereta baru dalam satu tahun.

Langkah ini diharapkan dapat memperluas jaringan hingga ke luar Pulau Jawa serta meningkatkan kapasitas angkutan logistik nasional.

Hingga kini, jumlah penumpang kereta di Indonesia telah mencapai 486 juta per tahun, dan angka tersebut diproyeksikan akan meningkat signifikan seiring dengan pengembangan jaringan dan peningkatan layanan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#china #KAI #Kereta Api #Presiden Prabowo