Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menkeu Purbaya Tegas: Utang Kereta Cepat Whoosh Jangan Pakai APBN, Gunakan Dividen BUMN Rp 2 Triliun!

Ali Sodiqin • Jumat, 17 Oktober 2025 | 17:15 WIB

Pramugari menunjukan aplikasi Tiket Whoosh di Stasiun Kereta Cepat Halim, Jakarta. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.
Pramugari menunjukan aplikasi Tiket Whoosh di Stasiun Kereta Cepat Halim, Jakarta. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

RADARBANYUWANGI.ID - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) tidak boleh dibayar menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pernyataan itu disampaikan dalam rapat perdana Dewan Pengawas (Dewas) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) di Jakarta Selatan, Rabu (15/10).

Baca Juga: Warga Ramai Cari Ikan Saat Dam Karangdoro Dikeringkan, Momen Setahun Sekali yang Ditunggu

Menurut Purbaya, Danantara dapat memanfaatkan dividen BUMN yang mencapai Rp 90 triliun per tahun, untuk menutup kewajiban pembayaran utang Whoosh sebesar Rp 2 triliun per tahun.

“Sudah saya sampaikan, karena Danantara menerima dividen dari BUMN sekitar Rp 90 triliun. Itu cukup untuk menutup Rp 2 triliun bayaran tahunan untuk kereta cepat,” ujar Purbaya.

Tanpa APBN, Dividen Jadi Alternatif Pembayaran Utang

Purbaya menegaskan, pemerintah tidak ingin beban APBN bertambah akibat proyek infrastruktur besar seperti Whoosh.

Baca Juga: Kinerja Positif KAI Daop 8 Surabaya, Angkutan Barang via Kereta Api Tembus 2,08 Juta Ton

Namun, ia menyayangkan kebijakan Danantara yang masih menempatkan sebagian besar dana investasinya pada obligasi pemerintah (SUN).

“Kalau Anda taruh obligasi begitu banyak di pemerintahan, keahlian Anda apa?” kritik Purbaya di hadapan jajaran direksi Danantara, termasuk CEO Rosan Roeslani.

Ia menilai, penempatan dana di obligasi sebaiknya dikurangi dan dialihkan untuk proyek-proyek produktif yang bisa menghasilkan nilai tambah bagi negara.

Danantara Janji Perbaiki Strategi Investasi

Menanggapi kritik tersebut, pihak Danantara menjelaskan bahwa penempatan dana di obligasi hanya bersifat sementara, karena waktu yang terbatas dalam tiga bulan terakhir.

Baca Juga: Cek Perbandingan Harga Emas Jumat 17 Oktober 2025! Antam Unggul, UBS dan Galeri24 Susul di Belakang

Ke depan, Danantara berkomitmen untuk mengalokasikan dana pada proyek-proyek strategis nasional agar lebih produktif.

“Ke depan akan mereka perbaiki sehingga yang di obligasi itu akan buat proyek-proyek yang mendorong,” ungkap Purbaya.

Skema Pembayaran Utang Whoosh Masih Dikaji

Meskipun Purbaya sudah menyampaikan keputusan untuk menggunakan dividen Rp 2 triliun per tahun, pihak Danantara masih akan mengkaji ulang skema pembayaran yang paling tepat.

Baca Juga: Kabar Buruk bagi Aprilia, Jorge Martin Belum Pulih, Absen di MotoGP Malaysia 2025

Namun, Purbaya menegaskan bahwa struktur pembayaran utang sudah jelas, sehingga tidak akan menjadi masalah besar.

“Yang penting struktur pembayarannya clear. Jadi harusnya nggak ada masalah kalau Danantara yang bayar juga,” katanya.

Laporan Akan Diteruskan ke Presiden Prabowo

Sebagai langkah akhir, hasil pembahasan utang Whoosh ini akan dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mendapatkan arahan resmi pemerintah terkait penyelesaian proyek yang dimulai sejak era Presiden Joko Widodo.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 17 Oktober 2025 Melejit! Antam, Galeri24, dan UBS Kompak Naik di Pegadaian

“Tapi nanti kita lihat hasilnya seperti apa dan kita tunggu perintah dari Presiden,” pungkas Purbaya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Kereta Whoosh #Utang Kereta Cepat Whoosh #menteri keuangan #dividen bumn #APBN #presiden joko widodo #bayar utang #presiden prabowo subianto #Danantara #kereta cepat #Menkeu Purbaya