RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah dinamika mobilitas udara regional, dua bandara di Jawa Timur justru menunjukkan tren yang berlawanan.
Bandara Dhoho, yang diharapkan menjadi poros konektivitas baru untuk Kediri dan daerah sekitar, mengalami vakum operasional berkepanjangan.
Sementara itu, Bandara Banyuwangi mencatat lonjakan aktivitas penerbangan dan pertumbuhan jumlah penumpang yang signifikan.
Kisah ini bukan hanya soal bandara, melainkan cerminan tantangan dan peluang di sektor transportasi udara di daerah.
Dhoho Kediri: Harapan yang Padam
Bandara Dhoho, di Kediri, pernah direncanakan sebagai salah satu bandara baru andalan di Jawa Timur, dengan model kemitraan publik-swasta (KPBU).
Namun pada tahun 2025, operasional penerbangan komersial di bandara ini dinyatakan tidak ada / kosong hingga setidaknya 31 Juli 2025.
Laporan media mengungkap bahwa penghentian ini disebabkan oleh keterbatasan armada maskapai yang melayani rute ke/dari Dhoho—termasuk isu maintenance atau alokasi armada yang dialihkan.
Berita lokal menyebut bahwa vakumnya operasi telah berlangsung selama beberapa bulan dan belum ada kepastian pembukaan kembali.
Dampaknya terasa luas: penurunan mobilitas masyarakat, potensi investor menahan ekspansi, dan tekanan ekonomi terhadap usaha di sekitar bandara.
Meskipun demikian, bandara ini tetap dipantau publik karena posisinya strategis dan ambisi proyeknya tinggi.
Banyuwangi: Konektivitas Terus Terus Didorong
Sementara Dhoho tertahan, Bandara Banyuwangi menunjukkan kebangkitan. Beberapa perkembangan kunci yang mencerminkan tren positif:
-
Pembukaan kembali rute Surabaya–Banyuwangi: sejak 24 September 2025, maskapai Wings Air kembali melayani rute tersebut dengan pesawat ATR 72. Permintaan tiket awal sangat tinggi, sehingga maskapai menambah frekuensi.
-
Okupansi tinggi & penambahan jadwal: media melaporkan bahwa kapabilitas awal dari rute baru menunjukkan okupansi lebih dari 80%, dan pihak maskapai merespons dengan tambahan penerbangan reguler.
-
Dukungan pemerintah lokal dan promosi wisata: Banyuwangi aktif mempromosikan potensi pariwisatanya, memperkuat daya tarik kedatangan wisatawan lewat jalur udara.
-
Statistik operasi: posko statistik angkutan udara Kementerian Perhubungan mencatat data kedatangan dan keberangkatan pesawat serta penumpang untuk Bandara Banyuwangi sebagai bagian dari laporan nasional.
Baca Juga: Pertukaran SDM Jepang-India Picu Reaksi Publik Usai Video Gesekan Imigran Viral
Semua indikator ini menunjukkan bahwa Banyuwangi berhasil memanfaatkan kondisi pulih pasca-pandemi serta kebutuhan mobilitas regional untuk memperkuat posisinya sebagai hub udara lokal.
Perbandingan Kedua Bandara
1. Status Operasional (2025)
-
Bandara Dhoho (Kediri): Tidak ada penerbangan komersial, kondisi masih vakum hingga pertengahan 2025.
-
Bandara Banyuwangi: Aktif dan terus berkembang, dengan pembukaan kembali rute baru serta penambahan frekuensi penerbangan.
2. Penyebab Hambatan / Kinerja
-
Dhoho: Mengalami keterbatasan armada maskapai akibat perawatan (maintenance) dan alokasi pesawat.
-
Banyuwangi: Didukung lonjakan permintaan penumpang serta dukungan penuh dari pemerintah daerah dan maskapai.
3. Dampak Ekonomi Lokal
-
Dhoho: Berdampak negatif terhadap mobilitas masyarakat, pendapatan pelaku usaha, dan minat investasi.
-
Banyuwangi: Memberi efek positif, mendorong sektor pariwisata, transportasi, dan ekonomi daerah.
4. Strategi Jangka Menengah
-
Dhoho: Belum ada kejelasan waktu pembukaan kembali dan strategi lanjutan.
-
Banyuwangi: Fokus memperkuat konektivitas udara, menambah kapasitas rute, dan terus mempromosikan destinasi wisata.
Kontras ini menggambarkan bagaimana bandara regional sangat rentan terhadap dinamika operasional (armada, maskapai) dan bagaimana strategi lokal bisa memicu kebangkitan. (*)
Editor : Ali Sodiqin