RADARBANYUWANGI.ID – Uji coba penyaluran bantuan sosial (bansos) digital di Lingkungan Suko, Bombengsari, Kalipuro, Banyuwangi, membuka sejumlah fakta mengejutkan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan adanya warga yang menerima hingga tiga jenis bantuan sekaligus, sementara sebagian lainnya justru tidak mendapat bantuan sama sekali meski tergolong miskin.
“Inilah alasan mengapa digitalisasi sangat penting dan harus segera dilaksanakan,” kata Luhut melalui unggahan di Instagram @luhut.pandjaitan, Jumat (3/10).
Baca Juga: Derby Panas Super Lig Turki: Modal Spirit Galatasaray Jinakkan Besiktas Usai Tumbangkan Liverpool
Dalam kunjungannya ke Banyuwangi, Luhut menyaksikan langsung proses pendaftaran bansos digital.
Uji coba itu tercatat sudah menjangkau 257 ribu pendaftar dengan melibatkan 2.000 petugas lapangan.
Dari total 680 ribu kepala keluarga di Banyuwangi, baru 148 ribu yang terdaftar sebagai penerima bansos.
Baca Juga: Resmi! Gaji PNS Naik Oktober 2025, Golongan IV Tertinggi 12 Persen, Pensiunan Masih Menunggu
Masalah Lapangan: Warga Tak Punya Ponsel hingga Sinyal Lemah
Luhut menemukan sejumlah kendala, salah satunya banyak warga desa, terutama petani kopi, yang tidak memiliki ponsel. Di beberapa wilayah, akses jaringan internet juga masih terbatas.
Meski begitu, sistem baru memungkinkan warga mengajukan diri atau merekomendasikan tetangga untuk masuk daftar penerima. Seleksi selanjutnya dilakukan otomatis oleh sistem berbasis data pemerintah.
“Tempat ini merupakan gambaran nyata sekaligus laboratorium hidup untuk masa depan program sosial di Indonesia,” tegas Luhut.
Baca Juga: Teka-Teki Terjawab! Megawati Hangestri Pilih Bank Jatim dan Timnas Sebelum Gabung Klub Turki
Sistem Perlinsos Jadi Penentu
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menjelaskan, uji coba ini menggunakan Portal Perlindungan Sosial (Perlinsos), sistem digital yang terintegrasi dengan berbagai basis data pemerintah seperti Dukcapil, BKN, BPJS Kesehatan, BPN, hingga SAMSAT.
“Ketika kepala desa menginput nama-nama calon penerima, sistem yang akan menentukan siapa yang layak. Semua terhubung dengan data pemerintah,” jelas Gus Ipul.
Menurutnya, digitalisasi bansos akan mengurangi interaksi langsung, mencegah penyimpangan, serta meningkatkan transparansi.
Baca Juga: Prediksi Inter Milan vs Cremonese: Tim Tamu Berpotensi Kembali Bikin Kejutan Ulang di San Siro
Banyuwangi Jadi Lokasi Uji Coba Pertama
Banyuwangi dipilih karena dinilai representatif. Kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini memiliki wilayah yang sudah memiliki infrastruktur digital kuat, sekaligus daerah dengan keterbatasan jaringan.
Hal itu sekaligus menguji keandalan sistem Perlinsos sebelum diterapkan secara nasional.
“Masih banyak ruang perbaikan. Tujuannya satu: bansos tepat sasaran dan adil bagi mereka yang membutuhkan,” pungkas Luhut.
Baca Juga: Isack Hadjar Akui Racing Bulls Masih Tertinggal Meski Bersinar di FP2 F1 GP Singapura
5 Fakta Uji Coba Bansos Digital di Banyuwangi
1. Jumlah Pendaftar
- 257 ribu warga sudah mendaftar lewat sistem digital.
2. Penerima Bansos Terdaftar
- Dari total 680 ribu KK, baru 148 ribu yang tercatat menerima.
3. Masalah di Lapangan
- Banyak warga tidak punya ponsel & akses internet terbatas.
4. Sistem Perlinsos
- Terhubung dengan data Dukcapil, BKN, BPJS, BPN, dan SAMSAT.
- Seleksi penerima dilakukan otomatis oleh sistem.
5. Tujuan Utama
- Bansos tepat sasaran, transparan, adil, dan minim penyimpangan. (*)