Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Keracunan MBG Garut: Ungkap Sumber Racun di Tempe Orek, Ayam Woku, Lalapan Sayur atau Stroberi?

Agung Sedana • Kamis, 18 September 2025 | 21:39 WIB
Ilustrasi menu Program MBG.
Ilustrasi menu Program MBG.

RADARBANYUWANGI.ID – Kasus keracunan massal yang menimpa 194 pelajar di Kabupaten Garut, Jawa Barat, masih menyisakan tanda tanya besar.

Hingga kini, kepastian penyebab keracunan setelah konsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum terungkap, karena hasil uji laboratorium masih menunggu.

Kronologi Kejadian

Insiden bermula pada Selasa sore (16/9/2025) saat siswa di Kecamatan Kadungora menyantap hidangan MBG dari dapur SPPG Yayasan Al Bayyinah 2 Garut.

Menu tersebut terdiri atas nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan stroberi.

Tidak lama kemudian, banyak siswa mengeluhkan mual, muntah, serta pusing yang berlanjut hingga keesokan harinya.

Dari total 194 korban, 177 siswa mengalami gejala ringan, sementara 19 lainnya harus mendapat perawatan intensif di Puskesmas Kadungora.

Penanganan Polisi dan Dinas Kesehatan

Kepala Seksi Humas Polres Garut, Ipda Adi Susilo, menyebut pihak kepolisian sudah mendatangi lokasi dapur penyedia makanan, mendata korban, dan mengirimkan sampel makanan serta muntahan ke laboratorium.

“Kami terus mengumpulkan keterangan untuk memastikan faktor penyebab keracunan. Penyelidikan masih berjalan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Garut, Asep Surachman, menegaskan pihaknya tetap siaga penuh.

Dinkes membuka formulir daring agar laporan korban tambahan bisa segera ditindaklanjuti.

“Kalau ada laporan susulan, tim medis langsung jemput korban,” katanya.

Pemerintah Daerah Turun Tangan

Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, turut meninjau korban yang dirawat.

Ia memastikan kondisi siswa sudah membaik dan seluruh biaya pengobatan ditanggung Pemkab Garut.

“Alhamdulillah mereka sudah lebih baik. Keluhannya rata-rata sakit perut, lemas, dan pusing,” ujarnya.

Putri juga menegaskan pentingnya evaluasi program MBG agar pengawasan terhadap penyedia makanan lebih ketat.

Analisis Potensi Penyebab dari Menu MBG

Meski hasil laboratorium belum keluar, sejumlah menu yang disajikan bisa ditinjau dari sisi risiko penurunan kualitas.

Ayam woku: Masakan berbumbu basah dengan santan dan rempah. Jika proses pemasakan tidak sempurna atau penyimpanan terlalu lama pada suhu ruang, ayam mudah terkontaminasi bakteri penyebab keracunan.

Sebagai lauk utama menu ini juga berpotensi berbahaya jika tidak dimasak hingga matang sempurna atau dibiarkan terlalu lama sebelum disajikan.

Tempe orek: Umumnya awet jika digoreng kering. Namun, jika dimasak terlalu basah atau disimpan dalam wadah tertutup tanpa ventilasi, bisa memicu pertumbuhan bakteri.

Lalapan sayur: Paling rawan karena biasanya disajikan mentah. Jika tidak dicuci dengan air bersih atau tidak higienis dalam penanganan, lalapan bisa membawa bakteri maupun pestisida.

Dari sisi risiko, lalapan sayur mentah dan buah stroberi memiliki tingkat kerentanan paling tinggi terhadap kontaminasi.

Stroberi: Buah segar yang sangat rentan membusuk dan terkontaminasi jamur jika tidak dicuci bersih atau disimpan dalam kondisi lembap.

Nasi putih: Relatif aman jika dimasak sempurna. Namun, nasi yang disimpan terlalu lama pada suhu ruang bisa ditumbuhi bakteri Bacillus cereus yang menyebabkan gejala mual dan muntah.

Editor : Agung Sedana
#keracunan mbg #garut #ayam woku