Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gandrung Temuk Turun Gunung, Program Maestro Mengajar Kembali Digelar

Fredy Rizki Manunggal • Senin, 15 September 2025 | 14:19 WIB
DIMULAI LAGI : Maestro Gandrung Temuk Misti mengajarkan seni gandrung kepada para sejumlah pelajar pada Sabtu (13/9).
DIMULAI LAGI : Maestro Gandrung Temuk Misti mengajarkan seni gandrung kepada para sejumlah pelajar pada Sabtu (13/9).

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Program pelestarian seni budaya di Banyuwangi, yakni “Maestro Mengajar” kembali digelar. Setelah vakum sejak 2021 lalu, program yang menggandeng para maestro Gandrung ini kembali dijalankan untuk melestarikan kesenian asli Bumi Blambangan tersebut.

Maestro Mengajar tahun ini dimulai pada Sabtu (13/9) di Banyuwangi Creative Hub Terminal Pariwisata Terpadu, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi. tiga maestro Gandrung Banyuwangi, Temuk, Sudartik, dan Sunasih turun langsung melatih beberapa siswa SMA, SMK, dan masyarakat umum yang ingin mempelajari gandrung. Kiprah ketiganya selama puluhan tahun menekuni seni gandrung Banyuwangi menjadikan daya tarik bagi para siswa dan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, para peserta tidak hanya belajar gerak dasar tari gandrung. Lebih dari itu, mereka juga diajari filosofi di balik tarian tersebut. Tari Gandrung merupakan tarian khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Selain itu, mereka juga mendapat kesempatan langka untuk belajar teknik dasar sinden Oseng Banyuwangi langsung dari para ahlinya.

Analisis Kebijakan Ahli Muda Bidang Ekonomi Kreatif Disbudpar Banyuwangi Dwi Susanti menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk mengembangkan sektor seni pertunjukan dan memastikan generasi muda melestarikan budayanya. “Kegiatan ini pernah digagas teman-teman Banyuwangi Youth Creative Network (BYCN) pada tahun 2021. Sempat vakum beberapa tahun, dan pada tahun 2025 ini kembali digelar,” ujarnya.

Dia menambahkan, dengan kolaborasi antara pemerintah, komunitas kreatif, dan para maestro, program “Maestro Mengajar” ini diharapkan menjadi jembatan antara generasi tua dan muda. Program ini tidak hanya melestarikan gandrung sebagai warisan budaya, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta dan bangga pada identitas lokal di kalangan anak muda. “Kembalinya program ini menandai komitmen Pemkab Banyuwangi untuk terus mendukung dan memastikan kekayaan budaya tetap hidup, regenerasi, dan menjadi inspirasi bagi kemajuan daerah di masa depan,” tegasnya.

Sementara itu, salah seorang peserta Maestro Mengajar Novie mengatakan dirinya cukup terkesan karena kesenian ini berhasil dilestarikan dan diturunkan kepada generasi muda. Perempuan yang menjadi aparatur sipil negara (ASN) di Kota Palu, Sulawesi Tengah, ini menilai dari program tersebut dirinya mengetahui bahwa butuh ketekunan dan kesabaran dalam menguasai seni tradisional. "Saya yang jauh dari Kota Palu juga jadi tahu siapa para Maestro Gandrung yang sudah sampai melanglang buana," tandasnya. (fre/sgt)

 

Editor : Sigit Hariyadi
#Disbudpar Banyuwangi #banyuwangi #Maestro