RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah ribuan orang yang berorasi menolak kenaikan tunjangan DPR, nama Riza Chalid mendadak mencuat.
Bukan karena kehadirannya di lapangan, melainkan karena dugaan bahwa ia adalah penyandang dana aksi tersebut. Tuduhan ini menyebar cepat, namun fakta konkret tak pernah muncul.
Riza Chalid dikenal publik sejak lama. Ia menguasai bisnis energi, terutama migas, dengan pengaruh yang besar di Petral, anak perusahaan Pertamina.
Dari situlah gelar “Raja Minyak Indonesia” melekat. Perusahaan miliknya juga bergerak di perkebunan sawit, terminal minyak, dan industri minuman.
Namun, bayangan kasus korupsi membuntutinya. Kejaksaan Agung menjeratnya dalam perkara impor kondensat yang merugikan negara triliunan rupiah.
Statusnya kini buronan internasional, dengan dugaan pelarian ke Malaysia. Hal ini membuat aparat sulit menindak lebih jauh, sekaligus memberi ruang munculnya spekulasi liar terkait setiap isu politik besar di tanah air.
Beberapa tokoh menyebut demonstrasi DPR tidak murni suara rakyat, melainkan ditunggangi kepentingan tertentu.
Nama Riza Chalid pun kembali diputar dalam narasi itu. Namun, tanpa dokumen, aliran dana, atau bukti lapangan, sulit memastikan keterlibatannya.
Situasi ini membuat publik terbelah. Di satu sisi, muncul kecurigaan terhadap sosok dengan rekam jejak penuh kontroversi.
Di sisi lain, tuduhan tanpa dasar berisiko memperkeruh suasana politik. Klarifikasi dari aparat dan transparansi informasi menjadi kunci agar opini liar tidak semakin menyesakkan ruang publik. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin