RADARBANYUWANGI.ID - Upaya penguatan infrastruktur Jalur Gumitir yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Banyuwangi memasuki fase krusial.
Implementasi teknologi pencegahan longsor kini difokuskan pada segmen Khokap kilometer 235+650, titik rawan yang kerap mengalami kelongsoran.
Dari pantauan lapangan Selasa (26/8), tim konstruksi mulai mengaplikasikan sistem bronjong berbahan kawat baja.
Struktur berkompartemen tersebut dipadatkan dengan batu fragmentasi setelah dilakukan ekskavasi tanah hingga kedalaman dua meter untuk menciptakan basis yang kokoh.
Baca Juga: Perbaikan Gumitir Dibuka Awal September, Pekerja Kewalahan! Tidur Cuma 5 Jam Sehari
Koordinator lapangan proyek, Muafi, menjelaskan penerapan bronjong merupakan kelanjutan dari pengeboran bored pile yang sudah rampung di 15 titik dengan kedalaman bervariasi antara 12 hingga 17 meter.
“Penyelesaian tahap drilling kemudian dilanjutkan implementasi sistem bronjong untuk stabilisasi slope,” ujarnya.
Menurut Muafi, kombinasi bored pile dan bronjong lebih efektif dibanding rehabilitasi superficial semata. “Diperlukan reinforcement berlapis agar durabilitas jalan terjaga jangka panjang,” tambahnya.
Baca Juga: Kabar Gembira! Jalur Gumitir Dibuka Awal September, Tol Probowangi Siap Uji Coba Desember
Untuk mempercepat progres, kontraktor mengerahkan sepuluh tenaga ahli dengan sistem kerja extended hours.
Targetnya, pemasangan bronjong rampung sebelum 24 September 2025. Setelah itu, konstruksi dilanjutkan dengan pemasangan capping beam di atas bored pile sebagai pengikat antar-tiang.
“Fungsi capping beam vital untuk menambah kapasitas beban dan stabilitas jalur transportasi, apalagi Gumitir ini dilintasi kendaraan komersial bertonase tinggi,” jelasnya.
Pemilihan lokasi Khokap didasarkan pada riwayat longsor masif yang pernah memutus arus lalu lintas di jalur strategis tersebut.
Baca Juga: Yes! Jalur Gumitir Mulai Diaspal, Perbaikan Jalan Nasional Jember–Banyuwangi Dikebut Malam Hari
Bronjong baja diharapkan berfungsi ganda: menahan pergeseran massa tanah sekaligus mengoptimalkan sistem drainase permukaan.
Dengan ketinggian sekitar dua meter, struktur ini dirancang sebagai retaining wall yang mampu mengeliminasi risiko longsor di titik rawan.
Muafi menegaskan, proyek ini sangat strategis karena Jalur Gumitir bukan hanya menghubungkan Jember–Banyuwangi, tapi juga menjadi pintu distribusi logistik Jawa Timur menuju Bali.
“Ekspektasi kami adalah terciptanya stabilitas jalan yang superior dan eliminasi risiko longsor. Namun, partisipasi masyarakat untuk tetap waspada di musim hujan juga sangat penting,” tegasnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin