RADARBANYUWANGI.ID - Jakarta kembali diguncang oleh kabar duka yang menimbulkan gelombang kemarahan masyarakat.
Affan Kurniawan, pemuda berusia 21 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai driver ojek online (ojol), tewas mengenaskan setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat kericuhan demo di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8).
Affan diketahui telah putus sekolah sejak kelas 1 SMK karena keterbatasan ekonomi.
Sang kakek, Fachrudin, mengungkapkan bahwa cucunya terpaksa berhenti sekolah lantaran tidak mampu membayar biaya pendidikan.
“Affan di-DO sama sekolahnya karena nggak mampu bayar. Ijazahnya cuma SMP,” ujar Fachrudin.
Sejak saat itu, Affan berjuang mencari penghasilan dengan menjadi pengemudi ojol.
Pendapatan yang ia peroleh digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga, termasuk adik perempuannya, Wulan.
Affan menjadi tulang punggung setelah sang ayah tidak lagi bekerja.
Pada hari nahas itu, Affan sebenarnya tidak ikut serta dalam aksi demonstrasi.
Ia tengah mengantarkan pesanan pelanggan seperti biasa.
Namun, situasi di sekitar DPR/MPR RI memanas hingga ricuh, membuat Affan terjebak di tengah kerumunan massa.
Menurut penuturan Fachrudin, cucunya sempat menepi untuk menghindari kerusuhan.
Namun, saat massa berlarian akibat gas air mata, mobil Brimob melaju kencang untuk membubarkan kerumunan.
Di situlah Affan menjadi korban dan tewas setelah terlindas kendaraan tersebut.
Video peristiwa ini viral di media sosial, memicu gelombang amarah masyarakat.
Banyak yang menilai tragedi ini sebagai bentuk kelalaian aparat dalam pengamanan aksi.
Kematian Affan membuat institusi Polri harus memberi klarifikasi.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri dan Kadiv Propam Polri Irjen Abdul Karim menyampaikan permintaan maaf resmi.
Kapolri menegaskan bahwa kasus ini akan diusut tuntas secara adil dan transparan, bahkan dengan melibatkan pihak eksternal.
Meski demikian, permintaan maaf itu tak serta merta meredakan kemarahan rekan-rekan sesama driver ojol.
Saat prosesi pemakaman di TPU Karet Bivak, sejumlah driver ojol meneriaki polisi sebagai “pembunuh” dan sempat melampiaskan emosi dengan melempar botol ke arah aparat.
Editor : Lugas Rumpakaadi