Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

‘Rakyat Bayar Pajak, Rakyat Ditabrak Polisi,’ Ironi di Balik Tagar ACAB

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 29 Agustus 2025 | 18:58 WIB
Tragedi ojol tewas ditabrak mobil polisi di Jakarta memicu kembali gaung slogan ACAB.
Tragedi ojol tewas ditabrak mobil polisi di Jakarta memicu kembali gaung slogan ACAB.

RADARBANYUWANGI.ID - Kerusuhan di Jakarta pada Kamis (28/8) meninggalkan luka mendalam.

Seorang pengemudi ojek online (ojol) tewas tragis setelah tertabrak mobil polisi dalam situasi demonstrasi.

Peristiwa ini langsung memicu gelombang kekecewaan publik, terutama di media sosial, dengan slogan All Cops Are Bastards (ACAB) kembali menggema.

Mobil lapis baja dan kendaraan taktis yang seharusnya melindungi masyarakat, justru dipakai dalam operasi represif hingga menelan korban jiwa.

Ironi ini semakin mempertegas jurang kepercayaan antara masyarakat dengan aparat kepolisian.

Meski kembali ramai di Indonesia, ACAB sejatinya bukanlah istilah baru.

Slogan ini lahir di Inggris pada akhir 1970-an dan awal 1980-an.

Kala itu, komunitas punk, skinhead, dan kelas pekerja menuliskan empat huruf ini di jaket kulit, dinding kota, hingga dijadikan tato.

ACAB bukan sekadar makian, melainkan simbol perlawanan terhadap sistem kepolisian yang dianggap korup dan brutal.

Di Eropa, ACAB mewujud dalam berbagai bentuk mulai grafiti di stadion, lirik lagu protes, hingga coretan dinding kota.

Ini menjadi suara kolektif yang menyoroti bagaimana kepolisian kerap lebih dekat pada penguasa ketimbang rakyat.

Di Indonesia, slogan ACAB sudah cukup lama terdengar dalam seni jalanan dan vandalisme di ruang publik.

Namun, tragedi Kamis lalu memberinya konteks baru.

Publik melihat kembali bagaimana aparat bersenjata dan kendaraan taktis yang dibeli dari pajak rakyat justru berbalik mengancam keselamatan rakyat sendiri.

Reaksi publik di media sosial mencerminkan hal itu.

“Rakyat bayar pajak, polisi beli mobil, lalu rakyat sendiri yang ditabrak,” tulis seorang warganet.

Kalimat singkat tersebut viral, menjadi potret getir relasi rakyat dengan polisi.

Slogan ACAB kerap disalahartikan sebagai tuduhan bahwa semua polisi jahat.

Padahal, sejak awal, ACAB lebih ditujukan sebagai kritik terhadap sistem kepolisian yang dianggap inheren represif.

Para pengusung slogan ini berpendapat bahwa polisi, meskipun secara personal mungkin baik, tetap terikat dalam struktur institusional yang menindas.

Tragedi di Jakarta menambah alasan mengapa slogan ini masih relevan lintas generasi.

Ini adalah seruan perlawanan, sekaligus ekspresi kekecewaan mendalam terhadap aparat yang seharusnya menjadi garda depan perlindungan masyarakat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#lintas generasi #ojol tewas #ditabrak #jakarta #mobil polisi #acab #Perlawanan