RADARBANYUWANGI.ID - Ratusan warga memadati kawasan Alun-alun Kabupaten Pati sejak subuh untuk menggelar aksi unjuk rasa yang menuntut Bupati Pati, Sudewo, turun dari jabatannya.
Aksi ini diperkirakan melibatkan hingga 100 ribu orang dan berpusat di depan Kantor Bupati Pati.
Kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 250 persen menjadi pemicu utama kemarahan warga.
Mereka menilai kebijakan tersebut memberatkan rakyat kecil dan tidak pro terhadap kepentingan masyarakat.
Spanduk, Keranda, dan Bendera Bajak Laut
Di tengah kerumunan massa, berbagai atribut aksi terlihat mencolok, mulai dari spanduk tuntutan hingga keranda jenazah bertuliskan “Keranda Penipu”.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah bendera Jolly Roger dari anime One Piece, yang belakangan dilarang pemerintah.
Bagi warga, bendera tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap menindas, serupa dengan makna di dunia fiksi One Piece di mana bajak laut menentang kekuasaan World Government dan Marines.
Dalam aksi ini, bendera berukuran besar itu berkibar di antara ribuan massa, mencuri perhatian publik.
Teriakan Lengser Menggema
Aksi dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, kemudian dilanjutkan dengan orasi.
Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, Ahmad Husein, menegaskan bahwa tujuan utama aksi ini adalah mendesak Sudewo mundur.
“Bupati Pati harus lengser! Bupati lengser!” seru Ahmad yang langsung disambut teriakan “Tidak!” saat bertanya apakah Sudewo membela rakyat kecil.
Spanduk besar bertuliskan “Bupati Pati Sudewo Mundur Secara Kesatria atau Dilengserkan Rakyat Secara Paksa” dan “Pak Presiden Prabowo Pecat Bupati Sudewo” juga terpasang di berbagai titik lokasi aksi.
Tantangan yang Berbalik
Massa juga menyinggung pernyataan Sudewo sebelumnya yang menyatakan tidak gentar meski aksi diikuti hingga 50 ribu orang.
Menurut para orator, jumlah peserta kali ini jauh melampaui itu, namun Bupati justru tidak menemui massa.
“Kami mengikuti tantangan Bupati Sudewo, bahkan jumlahnya lebih banyak. Tetapi mengapa beliau tidak berani menampakkan diri? Bupati pengecut!” teriak salah satu orator.
Aksi besar ini menjadi sorotan publik, tidak hanya karena jumlah pesertanya, tetapi juga karena simbol-simbol perlawanan yang muncul di tengah masyarakat.
Warga Pati menegaskan bahwa perjuangan mereka akan terus berlanjut hingga tuntutan terpenuhi. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi