RADARBANYUWANGI.ID – Satu lagi generasi muda asal Bumi Blambangan berhasil mengukir prestasi membanggakan di kancah nasional.
Muhammad Aji Saputra, 21, pemuda asal Kelurahan Panderejo, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, resmi diterima sebagai Calon Prajurit Taruna (Capratar) Akademi Militer (Akmil) pada Sabtu (2/8).
Perjuangan Aji untuk bisa lolos ke Akmil bukanlah hal yang mudah. Ia harus melewati empat kali proses seleksi.
Tiga di antaranya berujung kegagalan. Namun, Aji pantang menyerah. Ia justru menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi dan motivasi.
“Waktu gagal, dia cuma telepon. Katanya, ‘Saya dapat surat cinta lagi, Bah.’ Ya sudah, saya minta dia pulang dan persiapan lagi,” kenang sang ayah, Febri Saputra, saat dihubungi Jawa Pos Radar Banyuwangi.
Febri, yang merupakan ASN di Kelurahan Bulusan, mengaku sangat bangga dengan keteguhan hati putra sulungnya.
Terlebih, Aji sama sekali tidak mau merepotkan orang tua selama mengikuti proses seleksi.
“Saya pernah ingin kirim uang agak banyak biar dia tenang. Tapi dia tolak, hanya minta dikirim Rp 100 ribu. Mungkin karena dia terbiasa mandiri,” imbuhnya.
Pernah Jadi Barista dan Tukang Servis AC
Di sela-sela persiapan dan jeda seleksi, Aji tidak berpangku tangan. Ia mengisi waktunya dengan bekerja. Mulai menjadi barista di sebuah warung kopi, hingga tukang servis AC.
Namun, latihan fisik dan psikologi tetap tidak ditinggalkan. “Dia tetap latihan sendiri. Fisiknya dijaga, psikologinya juga dilatih,” ungkap Febri.
Aji sebelumnya juga dikenal sebagai atlet kick boxing. Ia pernah meraih medali emas di ajang Porprov Jatim 2019.
Akhirnya, pada seleksi tahun ini, kerja keras Aji membuahkan hasil. Dari enam peserta asal Banyuwangi, empat di antaranya dinyatakan lolos, termasuk Aji.
Dapat Dukungan dari Banyak Pihak
Keberhasilan Aji tak lepas dari dukungan berbagai pihak. Salah satunya, Dandim 0825 Banyuwangi Letkol Arh Joko Sukoyo.
“Tahun ini kami sering diskusi dengan Pak Dandim, terutama tentang aspek psikologi. Itu sangat membantu dan jadi nilai tambah buat Aji,” ujar Febri.
Kini, Aji resmi menjalani pendidikan dasar militer di Lembah Tidar, Magelang, selama empat bulan.
Menurut Febri, ada perubahan nomenklatur yang membuat masa pendidikan dasar lebih lama dibanding sebelumnya.
“Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pelatih dan pembina di Banyuwangi. Dan saya pastikan, masuk TNI tidak dipungut biaya sepeserpun,” tegasnya.
Pesan untuk Generasi Muda Banyuwangi
Diwawancarai melalui sambungan telepon, Aji menyampaikan pesannya untuk generasi muda Banyuwangi agar tidak gampang menyerah dan tetap fokus mengejar cita-cita.
“Jangan sampai terkontaminasi isu-isu negatif seperti masuk TNI harus bayar. Itu tidak benar,” tegas alumni SMAN 1 Giri Taruna Bangsa itu.
Perjalanan panjang dan penuh perjuangan ini menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa dicapai selama ada tekad kuat dan kemauan belajar dari kegagalan. (*)
Editor : Ali Sodiqin