Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kwik Kian Gie Wafat, Karangan Bunga Prabowo dan Megawati Curi Perhatian

Ali Sodiqin • Selasa, 29 Juli 2025 | 20:42 WIB
Kwik Kian Gie, eks Menko Ekonomi era Presiden Gus Dur meninggal dunia di usia 90 tahun.
Kwik Kian Gie, eks Menko Ekonomi era Presiden Gus Dur meninggal dunia di usia 90 tahun.

RADARBANYUWANGI.ID - Kesedihan menyelimuti jagat ekonomi dan politik Indonesia. Ekonom kritis dan negarawan sederhana, Kwik Kian Gie, wafat, Senin malam (28/7).

Pada Selasa siang (29/7), suasana duka terasa kental di Rumah Duka Sentosa, RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Ya! Kwik Kian Gie, eks Menko Ekonomi era Presiden Gus Dur itu meninggal dunia di usia 90 tahun.

Deretan karangan bunga duka cita dari para pejabat negara terus berdatangan.

Pantauan di lokasi pukul 12.08 WIB, karangan bunga dari Presiden RI Prabowo Subianto tiba dengan latar warna biru.

Tak lama berselang, karangan bunga dari Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, ditempatkan tepat di sampingnya, dengan latar merah menyala.

Tak hanya satu, tiga karangan bunga dikirimkan atas nama Megawati, masing-masing sebagai Presiden ke-5 RI, Ketua Umum PDI Perjuangan, dan atas nama DPP PDI Perjuangan.

Papan duka dari Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto juga turut berdiri kokoh di antara ucapan belasungkawa lainnya.

Uniknya, karangan bunga Megawati semula berada di tempat berbeda, namun kemudian dipindahkan oleh petugas rumah duka untuk berdiri berdampingan dengan milik Prabowo.

Sementara itu, karangan bunga Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang awalnya berada di samping papan Prabowo, dipindahkan ke dekat tangga.

Gestur simbolis ini memancing lirikan banyak pelayat.

Meski papan bunga sudah tiba, baik Prabowo maupun Megawati belum terlihat di rumah duka.

Sosok Kritis yang Tak Pernah Padam

Kwik Kian Gie, lahir di Juwana, Pati, Jawa Tengah, pada 11 Januari 1935. Ia mengenyam pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia dan Erasmus Universiteit Rotterdam, Belanda.

Sekembalinya ke Tanah Air, Kwik meniti karier sebagai pebisnis, sebelum terjun ke dunia politik bersama PDI pada 1987.

Puncak karier politiknya ditandai dengan penunjukan sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri, serta Kepala Bappenas di era Presiden Megawati.

Namun, tak hanya jabatan, sikap keras dan idealismenya yang kerap membuatnya berbeda dari arus utama, justru menjadi warisan paling kuat dari sosok Kwik.

Dalam kenangan politisi PDI-P Andreas Hugo Pareira, Kwik adalah pejuang ekonomi yang tak gentar bersuara lantang, bahkan ketika berada di luar lingkar kekuasaan.

Pikiran-pikirannya konsisten mengusung nasionalisme ekonomi dan kemandirian bangsa.

“Ekonomi kita semuanya impor. Kita cuma menjadi bangsa perakit,” ujar Kwik dalam salah satu forum DPD PDI Jawa Timur pada 1988, yang hingga kini masih diingat rekan-rekan seperjuangannya.

Berdiri Tegak di Tengah Badai

Salah satu momen yang paling dikenang dari kiprah Kwik adalah ketika menolak skema penyelesaian utang BLBI ala IMF pada krisis 1997/1998.

Meski kalah dalam keputusan, ia tetap berdiri tegak mempertahankan logikanya: aset para obligor yang diambil alih BPPN tidak sebanding dengan utang yang harus dibayar.

Pada 2004, saat menjabat sebagai Kepala Bappenas, Kwik juga menyusun skema pengelolaan Blok Migas Cepu agar dominasi asing bisa dikurangi.

Sayang, rancangan itu tak sempat terealisasi karena masa jabatan Presiden Megawati telah berakhir.

Guru Bangsa yang Tak Pernah Lelah

Ucapan duka pun mengalir dari berbagai tokoh. Sandiaga Uno, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, menulis dalam akun Instagram-nya:

"Selamat jalan, Pak Kwik Kian Gie. Ekonom, pendidik, nasionalis sejati. Mentor yang tak pernah lelah memperjuangkan kebenaran. Yang berdiri tegak di tengah badai, demi kepentingan rakyat dan negeri. Indonesia berduka."

Kwik bukan sekadar ekonom. Ia adalah guru bangsa, pelita pemikiran, dan cermin integritas yang terus bersinar bahkan ketika angin politik berembus tak menentu.

Ia adalah sosok yang tak goyah oleh iming-iming jabatan, dan tak pernah ragu menyuarakan ketidakadilan ekonomi.

Kini, Indonesia kehilangan suara kritis dan nurani ekonomi yang tak tergantikan.

Tapi idealismenya akan terus hidup di pikiran dan hati mereka yang pernah tersentuh oleh gagasan dan perjuangannya.

Selamat jalan, Pak Kwik. Terima kasih atas teladanmu. Negeri ini mencatatmu dengan tinta emas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#kwik kian gie #wafat #prabowo #megawati #ekonom #karangan bunga #gus dur