RADARBANYUWANGI.ID – Keringat Dicky, 30, tampak bercucuran meski jam di tangan masih menunjukkan pukul 09.00 di jalur lingkar, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Rabu (23/7).
Warga Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri itu terjebak macet hampir tujuh jam dari Watudodol menuju Banyuwangi.
Kondisi tersebut tak hanya dialami Dicky. Ratusan sopir truk dan kendaraan roda empat lainya harus merasakan bagaimana terjebak kemacetan berjam-jam akibat belum lancarnya penyeberangan di Pelabuhan ASDP Ketapang.
Kemacetan terus berlarut-larut setelah sempat terurai selama sehari semalam sejak Sabtu (19/7) hingga Minggu siang (20/7).
Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, antrean semakin parah dengan banyaknya truk yang mencoba menerobos antrean.
Hingga pukul 19.00 tadi malam, antrean kendaraan mengular 14 kilometer sampai Desa Bengkak.
Kendaraan pun terjebak macet di beberapa titik seperti di Watudodol dan sekitar Terminal Sri Tanjung.
"Macet sudah terlihat mulai Bangsring. Sampai Watudodol pukul 02.30 dini hari, sampai jalan lingkar Ketapang pukul 09.00. Padahal saya mau ke Banyuwangi, bukan mau menyeberang ke Bali," kata Dicky.
Antrean kendaraan tak hanya terjadi di sisi utara Pelabuhan Ketapang. Macetnya arus lalu lintas di sisi utara berdampak pada antrean yang ikut mengular ke arah selatan.
Beberapa kendaraan yang akan menuju arah utara harus mengantre di sekitar pabrik Semen Bosowa, Kelurahan Bulusan.
Kepadatan ini tak lepas dari belum normalnya kapal yang beroperasi di dermaga LCM Ketapang.
Truk tronton dengan bobot 35 ton tak bisa diangkut dengan cepat. Dari data Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilker Ketapang, hanya empat KMP saja yang beroperasi di dermaga LCM hingga kemarin sore.
Yaitu KMP Agung Samudera XVIII, KMO Karya Maritim I, KMP Agung Samudera IX dan KMP Samudera Utama.
"Beberapa kapal sedang melakukan perawatan. Jadi hanya empat kapal yang beroperasi di LCM,’’ kata Korsatpel BPTD Wilker Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho.
Kondisi ini diperparah dengan beberapa kapal besar yang bisa mengangkut truk ukuran jumbo seperti KMP Liputan XII, KMP Portlink VII, dan KMP Dharma Kencana IX tak bisa melakukan pemuatan dari dermaga LCM Bulusan karena air surut.
Sehingga kapal-kapal itu hanya bisa beroperasi di dermaga MB IV. "Dermaga Bulusan bisa digunakan ketika air pasang," tegasnya.
Terkait kepadatan yang terjadi di luar pelabuhan, Bayu mengatakan pihaknya tengah berupaya melakukan penambahan jumlah kapal yang beroperasi. Hingga kemarin sore beberapa perbaikan kapal tengah didorong untuk dipercepat.
"Ada tiga kapal yang akan ditambahkan, yaitu Jambo VI, Samudera Perkasa I, dan Tunu Pratama Jaya 3888. Kalau tiga kapal tersebut masuk dermaga, total ada 7 kapal di LCM," pungkasnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin