RADARBANYUWANGI.ID – Aroma solar dan suara klakson yang bersahut-sahutan mewarnai wajah Pantura Banyuwangi selama tiga hari terakhir.
Ribuan kendaraan, mayoritas truk logistik dari berbagai kota, terpaksa parkir berjajar di badan jalan. Macet! Total!
Hingga Rabu malam (23/7), antrean kendaraan dari Pelabuhan Ketapang mengular sepanjang 14 kilometer ke utara.
Ekor antrean bahkan sudah meluber hingga ke kawasan wisata Pantai Kampe, Desa Bengkak, Kecamatan Wongsorejo.
“Kami sudah dua hari di sini. Mesin mati, tidur di kabin, nunggu nasib kapal,” keluh “S”, sopir truk asal Surabaya yang mengangkut muatan cepat ke Bali.
“Gara-gara kapal tenggelam, semuanya kena imbas. Tapi sampai sekarang nggak ada solusi yang bener-bener bikin lancar,” imbuhnya.
Ya, kemacetan horor ini dipicu menurunnya jumlah kapal penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk.
Dari yang biasanya 28 kapal, kini hanya tersisa 15 unit yang dinyatakan laik laut oleh Syahbandar.
Sebagian besar kapal eks LCT dinyatakan tidak layak operasi usai tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali beberapa waktu lalu.
Akibatnya? Ribuan truk berat harus bergiliran masuk kapal. Waktu tunggu bisa dua hari lebih. Beberapa pengemudi memilih mematikan mesin untuk menghemat BBM.
“Daripada habis solar, mending mati sekalian. Nggak tahu juga kapan bisa nyeberang,” kata Robby, sopir asal Jakarta.
Kemacetan tak hanya di sisi utara. Dari selatan pun jalur menuju Banyuwangi benar-benar ditutup.
Mulai pukul 00.00 WIB, Kamis (24/7), jalur Gumitir resmi ditutup total hingga dua bulan ke depan untuk perbaikan lereng rawan longsor.
“Kami putar balik dari Kalibaru. Jalur alternatif lewat Bondowoso itu sempit dan nggak aman untuk truk besar,” keluh Angga, sopir logistik dari Srono.
Situasi makin runyam. Kepala Dishub Jatim, Nyono, mengaku cemas. “Kalau dibiarkan, Banyuwangi bisa terisolasi total. Ini bukan cuma soal wisata, tapi logistik dan distribusi barang bisa kolaps,” ujarnya serius.
Pihaknya pun mengusulkan sistem buka-tutup di Gumitir dan pembukaan kembali Pelabuhan Jangkar untuk rute ke Bali Utara sebagai solusi jangka menengah.
Di sisi lapangan, personel dari Satlantas Polresta Banyuwangi sudah berjaga di berbagai titik kemacetan.
Buffer zone untuk kendaraan besar disiapkan di Terminal Sritanjung, Bulusan, dan lapangan Desa Bangsring. Tapi tetap saja, volume kendaraan sudah di luar batas normal.
“Macet mulai dari Bangsring, sampai jalan lingkar Ketapang jam 9 pagi saya masih belum sampai kota. Padahal cuma mau ke Banyuwangi, bukan ke Bali,” keluh Dicky, warga Penataban yang terjebak 7 jam dari Watudodol.
Badai lalu lintas belum berhenti sampai di situ. Mulai Senin (28/7) mendatang, ajang balap sepeda internasional Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) akan digelar.
Empat etape akan melintasi jalur-jalur utama kota hingga dataran tinggi Ijen.
Sejumlah ruas akan ditutup, arus dialihkan, dan mobilitas warga pun kian tercekik.
“Tour de Ijen tetap jalan. Ini promosi wisata dan pendorong ekonomi. Tapi warga harus siap dengan kemacetan lebih parah,” ujar Bupati Ipuk Fiestiandani.
Warga pun mulai pasrah. “Kalau nggak penting-penting amat, mending jangan masuk Banyuwangi dulu. Jalur darat semua kacau,” ujar Hilman, warga Rogojampi.
Sementara itu, harapan satu-satunya ada pada penambahan kapal penyeberangan. Tanpa itu, Ketapang akan terus macet. Banyuwangi bisa lumpuh. (*)
Editor : Ali Sodiqin